RSS You are home.

Vietnam 2-2 Indonesia

Sedikitnya enam kerabat menanyakan prediksi saya menjelang Vietnam vs Indonesia, di ajang AFF 2014 kemarin (22/11). Dengan lugas, saya jawab, “Indonesia tak akan¬†menang.” Sebagian dari mereka berasumsi, artinya kalah. Padahal “tak mungkin menang” juga bisa berarti imbang. Jawaban lanjutan saya pada mereka, “Mungkin imbang.”

Nyatanya itu terjadi. Sesuai dugaan. Tertinggal, menyamakan, tertinggal lagi, dan menyamakan kembali. Artinya hasil melawan Laos dalam partai pertama ajang serupa dua tahun lalu akan terulang. 2-2.

Namun di lapangan, pelatih Indonesia Alfred Riedl memberi kejutan. Tim asuhannya bermain dalam tempo sangat lambat dan mengalirkan bola secara langsung (direct). Dugaan saya, itu disengaja. Itu strategi Riedl dan staf pelatihnya. (more…)

Ϡ

Blog cuma wadah

Sebagian ucapan populer sastrawan Pramoedya Ananta Toer adalah soal menulis. “Menulislah sedari SD, apapun yang ditulis sedari SD pasti jadi.” Atau “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Bagi saya, ucapan Pram bermakna dalam. Itu sebabnya dalam beberapa kesempatan kecil kelas blogging, saya selalu mengawalinya dengan “menulis.” Paman Tyo selalu mengatakan, “Semua orang (yang melek aksara dan literasi) bisa menulis.” Ngetik SMS, ngetwit, atau mungkin mencatat poin penting dalam bekerja. Soal apakah itu ditulis dengan tangan atau diketik, itu cuma soal teknis. (more…)

Ϡ

Timnas U19 pasca Myanmar*

Di negara manapun, timnas selalu punya dua efek. Dipuji saat unggul atau juara, dicaci ketika kalah. Begitu pula sambutannya. Ada yang membela, ada yang menghujat. Sungguh wajar dan lumrah.

Demikian pula yang terjadi ketika timnas Indonesia U19 gagal di Piala Asia U19 Myanmar 2014. Linimasa bergolak. Sebagian membela, sebagian mencela — lebih besar melayangkan serapah ke PSSI. Sekali lagi, wajar dan lumrah.

Orang bebas bicara apapun soal timnas. Dia seolah representasi kebangsaan dan negara. Tapi marah dan kecewa hanya karena timnas yunior gagal? Rasanya kok terlalu berlebihan. Mungkin karena kosmetik nasionalisme. Tentu saja PSSI boleh dijadikan kambing hitam karena ini bentuk kegagalan. Tapi ini juga bukan barang baru. Kapan PSSI pernah berhasil membentuk timnas berprestasi dalam dua dekade terakhir? (more…)

Ϡ

Menanti (lagi) tuah Garuda Jaya

Andai timnas Indonesia U19 ini kandidat capres, maka tren elektabilitasnya sempat menurun. Minimal tidak seramai ketika baru memastikan menjuarai Piala Asean U19 dan lolos ke Piala Asia U19.

Publik sempat bosan pada Evan Dimas dkk. Over publisitas biang keladinya. Tur Nusantara dua jilid dan pelatnas panjang nan tak efektif justru disambut sentimen negatif, setidaknya di Twitter. Tapi kini, jelang penampilan mereka di ajang sekompetitif Piala Asia, euforia publik perlahan kembali naik. (more…)

Ϡ