RSS You are home.

Timnas U19 pasca Myanmar*

Di negara manapun, timnas selalu punya dua efek. Dipuji saat unggul atau juara, dicaci ketika kalah. Begitu pula sambutannya. Ada yang membela, ada yang menghujat. Sungguh wajar dan lumrah.

Demikian pula yang terjadi ketika timnas Indonesia U19 gagal di Piala Asia U19 Myanmar 2014. Linimasa bergolak. Sebagian membela, sebagian mencela — lebih besar melayangkan serapah ke PSSI. Sekali lagi, wajar dan lumrah.

Orang bebas bicara apapun soal timnas. Dia seolah representasi kebangsaan dan negara. Tapi marah dan kecewa hanya karena timnas yunior gagal? Rasanya kok terlalu berlebihan. Mungkin karena kosmetik nasionalisme. Tentu saja PSSI boleh dijadikan kambing hitam karena ini bentuk kegagalan. Tapi ini juga bukan barang baru. Kapan PSSI pernah berhasil membentuk timnas berprestasi dalam dua dekade terakhir? (more…)

Ϡ

Menanti (lagi) tuah Garuda Jaya

Andai timnas Indonesia U19 ini kandidat capres, maka tren elektabilitasnya sempat menurun. Minimal tidak seramai ketika baru memastikan menjuarai Piala Asean U19 dan lolos ke Piala Asia U19.

Publik sempat bosan pada Evan Dimas dkk. Over publisitas biang keladinya. Tur Nusantara dua jilid dan pelatnas panjang nan tak efektif justru disambut sentimen negatif, setidaknya di Twitter. Tapi kini, jelang penampilan mereka di ajang sekompetitif Piala Asia, euforia publik perlahan kembali naik. (more…)

Ϡ

Menyerang sekaligus bertahan

Ketika gelandang sekaligus playmaker sekelas Juan Mata menjadi cadangan di Chelsea, khalayak dibuat bingung. Bagaimana mungkin pemain terbaik Chelsea pada musim 2012-13 justru berbalik menjadi benchwarmer di musim berikutnya.

Tentu saja penyebabnya adalah perubahan pelatih dari Rafa Benitez ke Jose Mourinho di awal musim 2013-14. Pergantian pelatih selalu berimbas negatif dan positif. Pemain inti era sebelumnya bisa berubah menjadi pemain cadangan, begitu pula sebaliknya. (more…)

Ϡ

Pressing

Persipura Jayapura gagal mencetak lembaran baru di Piala AFC (30/9). Langkahnya terhenti di babak semifinal setelah menyerah telak 2-10 (secara agregat) dari finalis musim lalu, Al Qadsia Kuwait. Kendati begitu, Persipura patut mendapat apresiasi.

Skuat Jacksen F Tiago sanggup menerobos semifinal. Bahkan “Mutiara Hitam” secara mengejutkan melewati Al Kuwait — juara bertahan dan penguasa gelar terbanyak AFC Cup — di perempat final. Kekalahan dari Al Qadsia akhirnya terkesan representasi antiklimaks. Namun juga tak perlu disesali karena kekalahan datang dari perwakilan Kuwait – negeri superior di AFC Cup dengan tiga final sesama wakilnya.

Hasil ini justru membarui gambaran. Inilah bukti anyar level sepak bola Indonesia secara terbatas. Andai bukan Persipura, bisa jadi tidak sampai semifinal. Bahkan Arema Cronus hanya mentok di 16 Besar.

Tapi menyaksikan permainan Jayapura dalam dua leg semifinal, saya teringat sekaligus mengamini ucapan pelatih timnas senior Indonesia, Alfred Riedl. (more…)

Ϡ