RSS You are home.

Dapur

Saya tergelitik ketika membaca buku perdana Mifthakul ( @fim_mifta ), “Mencintai Sepak Bola Indonesia Meski Kusut”. Tapi justru bukan oleh isi buku, melainkan oleh salah satu kata pengantarnya.

Buku itu menyambut pembacanya dengan dua kata pengantar. Pertama, oleh Zen RS dan kedua, oleh pemain senior Indonesia Bambang Pamungkas (BP). Kata pengantar dari Zen yang memicu saya menulis (lagi) di blog ini.

Soal sepak bola, saya dan Zen sering sepaham. Kami juga kerap tukar pikiran dalam banyak hal, baik lewat daring maupun luring. Lagi pula, siapa tak sudi berdiskusi dengan mentor menulis nan yahudi, kutu buku, andal sejarah, dan punya memori fotografik seperti dia. Apalagi dia tak pernah mendominasi atau jumawa. Bahkan saya pernah dibagi kehormatan saat dia mengirim tulisan reportase sepak bola pertamanya agar saya periksa =))

Tapi kali ini, saya tak sepaham. Saya silang sikap dengannya soal poin dapur klub dan sepak bola Indonesia (satu dari tiga poin) dalam kata pengantarnya. Zen secara sadar membatasi diri untuk tahu detil dapur klub dan bahkan sepak bola Indonesia. (more…)

Ϡ

Vietnam 2-2 Indonesia

Sedikitnya enam kerabat menanyakan prediksi saya menjelang Vietnam vs Indonesia, di ajang AFF 2014 kemarin (22/11). Dengan lugas, saya jawab, “Indonesia tak akan menang.” Sebagian dari mereka berasumsi, artinya kalah. Padahal “tak mungkin menang” juga bisa berarti imbang. Jawaban lanjutan saya pada mereka, “Mungkin imbang.”

Nyatanya itu terjadi. Sesuai dugaan. Tertinggal, menyamakan, tertinggal lagi, dan menyamakan kembali. Artinya hasil melawan Laos dalam partai pertama ajang serupa dua tahun lalu akan terulang. 2-2.

Namun di lapangan, pelatih Indonesia Alfred Riedl memberi kejutan. Tim asuhannya bermain dalam tempo sangat lambat dan mengalirkan bola secara langsung (direct). Dugaan saya, itu disengaja. Itu strategi Riedl dan staf pelatihnya. (more…)

Ϡ

Blog cuma wadah

Sebagian ucapan populer sastrawan Pramoedya Ananta Toer adalah soal menulis. “Menulislah sedari SD, apapun yang ditulis sedari SD pasti jadi.” Atau “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Bagi saya, ucapan Pram bermakna dalam. Itu sebabnya dalam beberapa kesempatan kecil kelas blogging, saya selalu mengawalinya dengan “menulis.” Paman Tyo selalu mengatakan, “Semua orang (yang melek aksara dan literasi) bisa menulis.” Ngetik SMS, ngetwit, atau mungkin mencatat poin penting dalam bekerja. Soal apakah itu ditulis dengan tangan atau diketik, itu cuma soal teknis. (more…)

Ϡ

Timnas U19 pasca Myanmar*

Di negara manapun, timnas selalu punya dua efek. Dipuji saat unggul atau juara, dicaci ketika kalah. Begitu pula sambutannya. Ada yang membela, ada yang menghujat. Sungguh wajar dan lumrah.

Demikian pula yang terjadi ketika timnas Indonesia U19 gagal di Piala Asia U19 Myanmar 2014. Linimasa bergolak. Sebagian membela, sebagian mencela — lebih besar melayangkan serapah ke PSSI. Sekali lagi, wajar dan lumrah.

Orang bebas bicara apapun soal timnas. Dia seolah representasi kebangsaan dan negara. Tapi marah dan kecewa hanya karena timnas yunior gagal? Rasanya kok terlalu berlebihan. Mungkin karena kosmetik nasionalisme. Tentu saja PSSI boleh dijadikan kambing hitam karena ini bentuk kegagalan. Tapi ini juga bukan barang baru. Kapan PSSI pernah berhasil membentuk timnas berprestasi dalam dua dekade terakhir? (more…)

Ϡ