FIFA akhirnya setuju memberi uang kepada klub-klub yang pemainnya tampil di Piala Dunia atau turnamen mereka lainnya. Nilainya nggak main-main, 252 juta dollar AS. Asli duit semua, bukan daun. Kenapa kok sampai perlu membayar uang kompensasi?
Ini tuntutan G-14, sebuah kelompok elite yang berisi klub-klub kaya di Eropa. Bingung kan? Kaya kok masih menuntut uang gono gini. Aneh memang, tapi itu faktanya. Dan sekarang FIFA bersama UEFA setuju meluluskan tuntutan itu. G-14 memang nggak sekadar menuntut uang, tapi juga pernah mengancam untuk menggelar liga sendiri yang perkiraan pendapatannya melebihi Liga Champions, sebuah kompetisi kelas wah milik UEFA.
Klub (kaya) itu berkilah bahwa mereka sering “rugi” karena pemainnya cedera saat mengikuti pertandingan milik FIFA atau UEFA (baca: antar negara). Dilepas ke tim nasional dalam kondisi segar bugar, pulang ke klub dalam keadaan pincang.
Sengketanya memang sudah seperti kucing dan anjing. Jose Mourinho sewaktu di Chelsea pernah sewot. “Latihan macam apa yang diberikan tim nasional. Begitu pemain saya bergabung dengan mereka, pasti langsung cedera.” Sedangkan Graeme Souness waktu masih melatih Newcastle United juga nggak kalah geram. “Sebaiknya jadwal persahabatan internasional (antar negara) dihapus. Nggak ada gunanya sama sekali.”
Dulu pernah ada yang usul sebaiknya negara membayar gaji, eh menalangi, pemain yang cedera setelah membela timnas. Artinya klub lepas tangan begitu pemain itu cedera, kecuali dokternya saja yang ikut mengawasi perawatannya. Tapi ini sulit dilakukan jika negara yang bersangkutan bukan dari negara kaya. Misalnya yang ada di Afrika, seperti Ghana atau Mali.
Ini memang soal sulit. Tapi tetap aneh jika yang menuntut adalah klub kaya. Harusnya mereka tenang saja, toh duitnya nggak berkurang drastis hanya karena satu-dua pemainnya cedera. Lagipula, cedera adalah bagian dan resiko dari permainan. Kalau tak mau pemainnya cedera, ya jangan dilepas. Tapi klub pasti kena sanksi FIFA jika melarang pemainnya membela timnas.
Cuma jalur tengah sudah diambil. FIFA memilih mengalah karena memang dari klub-klub itulah turnamennya bisa menangguk populeritas dan keuntungan. Istilah kerennya win-win solution. FIFA senang, klub pun tenang.

Comments 24
wah, pdhl ndak ’segayeng’ tontonan turnamen di endonesah lho ya.. sing ada plus-plusnya itu..
Posted 24 Jan 2008 at 7:32 am ¶kalo dah menyangkut urusan dapur memang panjang urusannya
Posted 24 Jan 2008 at 8:15 am ¶bukannya G14 dah diapus?
Posted 24 Jan 2008 at 9:21 am ¶wah kira kira berlaku juga gak ya buat indo
Posted 24 Jan 2008 at 9:39 am ¶bisa jadi ladang korupsi baru neh
ya inilah kalo sepakbola sudah menjadi bisnis murni yg bisa dijadikan tumpuan hidup.
Posted 24 Jan 2008 at 9:44 am ¶wong ligane yo rung bener ko yo…!!!! arep mbayar kompensasi….!!!!
Posted 24 Jan 2008 at 9:48 am ¶aneh yak
Posted 24 Jan 2008 at 9:51 am ¶apa negara asal pemainnya ga bisa ikut campur?
mbok ya rakyat indonesia sing entuk kompensasi hahahaha…..
Posted 24 Jan 2008 at 10:09 am ¶Lha kalau Piala Dunia, atau Piala Eropa, memang jadwalnya di saat kompetisi Eropa libur. Yang aneh ya Piala Afrika itu, kok pas liga Eropa bergulir, memasuki masa-masa krusial lagi.
Posted 24 Jan 2008 at 11:11 am ¶Mungkin bukan masalah uang, tetapi karena pemain kunci merupakan asset yang sangat berharga bagi klub, apalagi dalam kompetisi yang luar biasa ketat, terpeleset sedikit karena pemain kunci cedera, bisa langsung disalip klub pesaing. Ujung-ujungnya kalau ditelusuri memang duit
namanya juga industri…
Posted 24 Jan 2008 at 11:35 am ¶yang menyebut itu klub kaya khan karena yang ngeliat miskin, mas. klub nya sendiri seh belum tentu ngerasa kaya, jadi wajib terus mengisi lumbung..
Posted 24 Jan 2008 at 12:28 pm ¶FIFA ngambil anggaran dari ABPD ??
Posted 24 Jan 2008 at 2:03 pm ¶untung PSS Sleman ndak pernah protes kalo ada pemainnya maen di Timnas *pemain PSS Sleman ada yang dari Timnas ga sih*
Posted 24 Jan 2008 at 4:34 pm ¶berarti selama ini dana FIFA itu sudah banyak mungkin tak terbatas barangkali, trus pemain apa gak dapat kompensasi juga dari FIFA masa cuman clubnya doank sih
Posted 24 Jan 2008 at 4:43 pm ¶@Tukang ketik: segera dibubarin, tapi belum bubar.
Posted 24 Jan 2008 at 8:57 pm ¶@Totok: pemain kan udah dapet dari timnas (match fee) dan klub (gaji/bonus)
Kesadaran tinggi menyuguhkan win-win solution!
tidak hanya untuk komponen tertentu, tapi semua yang terkait didalamnya
mulai dari penonton, klub, pemain, pengurus, pebisnis dst.
kalo kepengurusan sulit menampilkan permainan yang fair, kenapa nggak ada muncul wacana pengurus tandingan yang lebih profesional yo kang, apa hal itu tidak dimungkinkan dinegeri ini?
Posted 25 Jan 2008 at 8:27 am ¶klub/wong sogeh pancen akeh alesan ….
:)
Posted 25 Jan 2008 at 10:09 am ¶Jangan BANDINGKAN dengan LIGA KITA lo
Posted 25 Jan 2008 at 11:35 am ¶*kabur*
omongan maourinho ttg pemain yang pulang timnas jadi cedera kayaknya banyak juga kejadian di sini ya….kasihan..
Posted 25 Jan 2008 at 2:06 pm ¶Jadi bisa di bilang kalo FIFA di stir ama G-14 ?
Posted 25 Jan 2008 at 4:14 pm ¶Wah, ga punya muka dong….
kalo diterapin disini malah kebalik, klub yg mustii bayar pssi kali, secara maen di klub lebih banyak cederanya daripada di timnas heheheheh.
Posted 25 Jan 2008 at 11:43 pm ¶waduh mas aku gak ngerti soal yang negituan.. kalau competisi makan kerupuk, lari karung .. sepak balon lha itu aku ngerti.. lomba untuk 17 an di kampung khan…?
Posted 26 Jan 2008 at 1:19 am ¶@Pudak: bikin tandingan sih mungkin, tapi apa untungnya karna ga akan dapet pengakuan dari FIFA. One country, one organization.

Posted 26 Jan 2008 at 2:40 am ¶@Jauhari: eitt jangan kabur, aku ga bandingin lho
@Raffael: sapa bilang? ini sama-sama cari untung aja, bukan urusan muka
@Franya: kalo itu tiap 17-an di kota juga ada
boneke intuk pira cak . . . .
Posted 26 Jan 2008 at 2:58 am ¶tapi lek boneke intuk . . . duduk bondo nekat
tapi bon2an nekat . . . . .
Post a Comment