Kemana pemain sepakbola biasa bekerja jika sudah pensiun? Umumnya jadi pelatih kepala. Sebagian lain jadi direktur tehnik, asisten pelatih atau tak sedikit yang memilih melatih anak-anak dan paling laris menjadi komentator di televisi.
Lalu adakah patokan umur atau masa bahwa pemain yang baru pensiun tak pantas langsung menjabat pelatih klub atau timnas? Buat saya, tentu nggak ada batasan. Semuanya terserah dan tergantung kemampuan dan kesepakatan. Tapi buat Gerard Houllier lain urusan.
Menurut bekas pelatih Liverpool itu, eks pemain Inggris terlalu cepat jadi manajer. Maksud Houllier, harusnya dalam usia yang relatif muda — sekitar 37 hingga awal 40 tahun — lebih baik jadi asisten dulu sebelum menjadi kepala. Step by step.
Houllier menunjuk budaya (sepakbola) Inggris yang tak senang mengembangkan pelatih. Tapi buat saya, Inggris saat ini sedikit panik. Mereka nggak punya pelatih berkelas seperti koleganya dari luar negeri. Bahkan pelatih timnas pun ngebon dari Italia.
Dalam situasi seperti itu, bolehlah ambil jalan pintas. Saya menduga Inggris berpikir lebih cepat menaruh pelatih muda di jabatan teras maka akan semakin cepat juga dia mendapat pengalaman. Jadi begitu sudah berumur, tinggal petik hasilnya. Selain itu, pelatih muda yang diangkat jadi pelatih jamaknya sudah biasa memimpin (eks kapten tim) dan punya kharisma.
Lalu bagaimana dengan segala beban dan tekanan? Ah, semua pelatih maklum kursinya sangat panas. Apalagi dalam era permintaan prestasi instan jaman sekarang. Soal pecat memecat, itu hal biasa di sepakbola pro. Lagipula, yang dipecat bisa dapat uang gono gini.
Secara normal memang lebih baik menjalani karir kepelatihan setahap demi setahap. Misalnya, melatih tim amatir, yunior, asisten pelatih tim senior, pelatih kepala tim gurem dan terakhir pelatih kepala tim elite atau timnas.
Tapi itu juga nggak jadi jaminan. Nggak ada garansi pelatih tua seumur Alex Ferguson (Manchester United) bakal sukses menghadirkan juara. Tapi belum tentu juga pelatih muda sekelas Stuart Pearce (Inggris yunior) bakal gagal. Dalam sepakbola, hitungan matematika nyaris nggak berfungsi. Banyak faktor yang mempengaruhi kinerja seseorang.
Satu hal yang saya suka, pelatih muda biasanya penuh energi dan kadang berapi-api. Hanya memang sering kelihatan kurang pengalaman di saat-saat genting. Lalu apa kira-kira alasan petinggi klub atau timnas mempercayakan orang muda jadi pelatih?

Comments 15
jadi ndak masalah juga ya kalo anak muda jadi pengusaha ya mas
Posted 25 Feb 2008 at 6:14 pm ¶wah… bagus nih tulisannya…
submit di bolanova dong…
Posted 25 Feb 2008 at 6:17 pm ¶mungkin alasan utamanya bahwa orang muda mungkin semangatnya lebih berapi-api dan cenderung banyak eksperimen atau inovasi baru
Posted 25 Feb 2008 at 7:13 pm ¶saya tak tahu kudu komen apa…saya cuman kepikiran kelangsungan kompetisi liga endonesa musim depan
Posted 25 Feb 2008 at 8:27 pm ¶asal bisa main Soccer Manager di PS atau di komputer, lama lama bisa juga jadi pelatih di Indonesia..
Posted 25 Feb 2008 at 9:32 pm ¶( modalnya nekat dan beceng..jaga jaga kalau ada tawuran )
kalo ketuaan, ntar kena serangan jantung kaya’ houlier pulak
Posted 26 Feb 2008 at 7:47 am ¶eh kapan hari aku baca di internet, tentang the hardest job in the world. ada satu yg jawab ; menjadi pelatih england kakakkakkkak aku ngakak..eh sorry gak nyambung hihihi
Posted 26 Feb 2008 at 8:42 am ¶mungkin sekarang disanapun menganut paham, yang muda yang bicara, mas?
Posted 26 Feb 2008 at 8:55 am ¶mungkin cuma diliat dari pengalaman aja bukan dari bagus atau tidaknya.
Posted 26 Feb 2008 at 8:55 am ¶sepakat dewi. yang muda (kl emang lebih keren) yang mesti di depan. nunggu tua kelamaan
Posted 26 Feb 2008 at 2:23 pm ¶pelatih indonesia kayak gt gak sih???
Posted 26 Feb 2008 at 4:55 pm ¶hed…jadi,kowe nglatih dimana..???
Posted 27 Feb 2008 at 10:33 am ¶Jadi bagaimana dengan persepakbolaan kita?
Posted 27 Feb 2008 at 12:34 pm ¶Bagaimana dengan wasit muda?
Gaji lebih murah kali…
Posted 28 Feb 2008 at 1:40 pm ¶hm… blom banyak jam terbang kali yah
Posted 28 Feb 2008 at 6:05 pm ¶Post a Comment