Soal kebiasaan ngemplang duit tidak sah bukan cuma dilakukan di negara berkembang, tapi juga di negara maju. Bedanya, di negara maju tidak menjadi budaya. Di Inggris, klub Birmingham City diduga korupsi.
Selalu ada dugaan seperti itu. Biasanya selalu berkaitan dengan transfer jual beli pemain. Kalau dirunut lagi, ada upaya menghindari pajak. Maklum, pajak di Inggris atau banyak negara Eropa memang terkesan mencekik leher.
Transfer pemain dilakukan dengan pihak ketiga. Biasa disebut agen pemain. Modus umum pelanggaran biasanya hanya dalam laporan keuangan. Ini yang pernah dibuat oleh Juventus, AS Roma, Lazio dan beberapa klub di Jerman. Oknum direktur keuangan, tentu cincai dengan agen, biasanya tidak melaporkan harga transfer sebenarnya di laporan keuangan.
Bola terus bergulir dan kemudian sampai di agen. Banyak agen yang konon nggak resmi atau cuma kelas ecek-ecek. Padahal untuk menyuplai pemain ke liga-liga mapan harus agen yang terdaftar. Agen kelas kambing inilah yang sering main mata dengan klub. Dan kalau sudah menyangkut agen, urusannya bukan cuma menghindar dari pajak.
Karena agen nggak resmi itu memiliki pemain bagus yang kebetulan diminati klub. Akhirnya cara curang juga dilatari oleh:
- Banyak pemain yang didekati secara ilegal oleh klub lain
- Banyak agen tidak berlisensi yang beredar
- Agen tertentu sering berusaha mencuri pemain agen lain
Sumber: BBC
Klub sendiri kemudian terkesan nggak peduli pemain itu diikat oleh agen resmi atau tidak. Yang penting mereka bisa dapat pemain bagus dan dengan harga miring (bawah tangan) — jika sebagai pembeli.
Banyak yang bilang agen pemain itu jahat karena mereka bisa mendekati pemain meski yang bersangkutan sedang diikat kontrak oleh klub. Agen pula yang sering bikin rumor ini dan itu. Mereka sering banget kipas-kipas.
Bagaimana dengan Indonesia? Kalau di liga yang maju saja agen berani “main”, apalagi di sini. Tapi modus di sini sedikit beda. Mereka kadang membohongi klub dengan mempercantik CV pemain. Kadang si pemain belum tentu berprofesi sebagai pemain bola.
Tapi dasar klub juga nggak melek-melek banget, jadilah mereka kena tipu. Atau bisa juga sengaja mau ketipu karena oknum klub juga bisa dapat margin dari anggaran pemain asing.
Kalau sudah begitu, cincailah…

Comments 11
Indonesia lebih profesional soal beginian mas, lebih rapi dan cantik!
Posted 21 Mar 2008 at 9:28 am ¶waduh, kalo di Indonesia berarti semua klub korupsi ya…1001 cara dikerahkan agar pemain yang nggak resmi/gelap bisa maen di kompetisi…hiks hiks..
Posted 21 Mar 2008 at 12:46 pm ¶Indonesia pastilah lebih asli kalo urusan gini.
Posted 23 Mar 2008 at 9:12 am ¶sapa coba ketuanya?
:D
Kan yang penting menang dan akhirnya… duit
Posted 24 Mar 2008 at 4:32 pm ¶wah lagi lagi cerita busuk soal bola indonesia, parah.
Posted 24 Mar 2008 at 6:02 pm ¶kapan mau maju
he… pemain di Indonesia memang kadang bukan pemain bola
Posted 25 Mar 2008 at 10:40 am ¶sampeyan kira pengurus klub perserikatan itu kerja gotong-royong ? harus ada komisi dong untuk meloloskan pemain, misalnya dengan memotong gaji dan kontrak, hihihihi
Posted 25 Mar 2008 at 10:45 am ¶*kompor kompor*
selama ada agent, urusan beginian pasti bakal meleber-meleber masalah duitnya. Di dunia ini ga pernah ada agent yg se-idealis Jerry Maguire. Btw, pilem Jerry Maguire keren bgt lho
Posted 26 Mar 2008 at 6:42 am ¶dulu ada tulisan di national geographic yang mengulas tentang perbudakan manusia. ada yang bilang transfer pemain bola juga kurang lebih sama dengan jual beli manusia juga. cuma bedanya budak disuruh kerja, pemain bola disuruh maen si kulit bundar. pendapat yang aneh, ya?
Posted 31 Mar 2008 at 2:33 pm ¶“Is it a crime to sell women? They sell footballers, don’t they?”
Posted 31 Mar 2008 at 2:41 pm ¶Gmn lg dong,kl mslh gt c pst jd ldg bru wat ko***si…husst,tp.jgn blg cpa2 y,soalny ni rahasia ngara
Posted 30 Jun 2008 at 6:54 am ¶Post a Comment