INI RANAH SENSITIF dan SERBA SALAH JUGA.
Gaji Rio Ferdinand di proposal kontrak barunya bersama Manchester United adalah 120 ribu poundsterling per minggu. Untuk ukuran orang Inggris, dua kali uang segitu bisa buat beli mobil BMW. Apalagi kalau dihitung melalui rupiah. Singkatnya, nggak usah kerja lagi.
Tapi nggak semua fans MU senang. Bahkan ada gunjingan bahwa deal Ferdinand adalah berita buruk. Alasannya, semakin tinggi biaya gaji maka semakin besar pula biaya fans untuk beli tiket masuk stadion. Repotnya, Ferdinand memang pantas dibayar mahal. Mainnya bagus dan dia calon kapten (tetap) tim nasional Inggris. Apalagi kalau kemudian dihubung-hubungkan dengan embel-embel showbiz. Suka nggak suka, apa boleh buat.
Itu di Inggris. Bagaimana dengan Indonesia? Ibu saya pun terkaget-kaget begitu tahu gaji seorang pemain nasional di klubnya bisa mencapai 20 juta per bulan. Dulu Kurniawan Dwi Julianto dibayar 15 juta bersih per bulan oleh Persebaya Surabaya. Itu perkiraan minimal karena nggak ada konfirmasi resmi alias selalu bawah tangan.
Untuk kelas pemain kita dengan segala keterbatasannya, pantaskah gaji dua digit sebulan? Serba salah. Pemain bola punya masa hidup singkat. Bekerja dari umur 19-20 tahun, paling lama umur 35 tahun sudah gantung sepatu. Mungkin ada satu-dua pemain yang bisa sampai 37-40 tahun. Kalau dia cuma dibayar 1 jutaan di awal karir, kasihan. Begitu pensiun, dia jatuh miskin, kecuali dia punya kerjaan lanjutan. Sebagai pelatih, misalnya.
Tapi dibayar besar juga mengundang tanya. Dari mana asal duit buat menggaji, apalagi jika gaji dua digit diterima 80 persen pemain per klub. Dengan sumber dana tim yang kembang kempis, pasti nggak logis kalau pemain dibayar besar.
Lalu, apa sumbangsih dia dibayar mahal? Nyaris nggak ada, kecuali menghibur suporter. Itu juga kalau permainan kasar tebas kaki bisa dibilang menghibur.
Untung saja nggak ada gunjingan sejauh itu di sini. Suporter juga terkesan cuek. Ada pula wacana pembatasan gaji (salary cap), tapi kata BLI nggak perlu. Yang mendesak justru di masa depan harus ada batasan nilai kontrak (contract cap).
MU bisa mengontrak dan menggaji pemain dengan nilai besar karena punya sumber dana jelas dan melimpah. Kalau klub Indonesia mau menggaji pemain dengan besar, mungkin perlu sumur minyak bumi. Si pemain juga harus memberi bukti bahwa dia pantas digaji besar.

Comments 20
mas hedi ga jadi pemain bola juga gajinya guede yo mas….hehehehehe
Posted 22 Apr 2008 at 3:19 pm ¶mas hed, si bambang pamungkas jadi ke inggris dengan telungatus ewu pon ga???????????
Posted 22 Apr 2008 at 3:23 pm ¶pada akhirnya ada seleksi alam,mas…gaji besar untuk pemain bola di Indonesia saya kira normal2 wae. Nek gak kuat, nanti kan gulung tikar.
Gaji besar Gpp toh, itu kan bagian dari penghargaan terhadap mereka.meski masih banyak yang bermental kampungan dan main sikut, main pukul.
Posted 22 Apr 2008 at 3:32 pm ¶===
Lah…kok malah serius?
gaji nya ya dari pajak yang kita bayar, kan sebagian besar dana klub dari pemda, pemda dapet duit dari pajak kita
Posted 22 Apr 2008 at 3:55 pm ¶enakyah, kerjanya main, tapi di gaji, gede lagi
Posted 22 Apr 2008 at 4:05 pm ¶wah ngomongin gaji? sensitif nih..
Posted 22 Apr 2008 at 4:17 pm ¶weleh
Posted 22 Apr 2008 at 4:24 pm ¶bawah tangan artinya, bisa aja gaji kurniawan lebih dari itu ya?
loh mas.. di Indonesia itu nggak ada gaji di bola, la wong namanya hobi mas, yang gaji gedhe itu bukannya pengurus, hehehe…
Posted 22 Apr 2008 at 9:34 pm ¶gaji gedhe?
Posted 23 Apr 2008 at 8:18 am ¶pasti sebelum sampai digergaji kali…..
Enaknya jadi pemaen bola, gajinya lebi gede daripada orang IT… wakakaka
Posted 23 Apr 2008 at 9:45 am ¶karena sepakbola adalah bisnis hiburan, kenapa kita harus peduli dengan Ligina? sudah jelek, rusuh, ketumnya bandit ula. ndak ada alasan untuk mendukung to?
toh semuanya cuma hiburan. :p
Posted 23 Apr 2008 at 12:02 pm ¶gaji gedhe, mental tempe, gawene tukaran…
Posted 23 Apr 2008 at 12:02 pm ¶dasar gajingan ….
tapi mudah-mudahan gak semua seperti itu, semoga BLI konsisten dengan profesionalisme liga super, dan seluruh klub sepakbola indonesia berhenti jadi vampire penghisap APBD
waduh bandingin gaji pemain bola di luar negeri sama dalam negeri mah jauh banget.
Posted 23 Apr 2008 at 2:21 pm ¶koyoke perlu juga dibuka peluang pendanaan via supporter Sam, ben rodo2 bersih dan independen klub bola-ne. Yen wis ngono mungkin iso mulai nggaji pemain sing pantes sesuai kemampuan main-e.
Posted 23 Apr 2008 at 3:28 pm ¶katanya nanti deal pemain Indonesia , gajinya pakai beras ketan….
Posted 23 Apr 2008 at 4:42 pm ¶gpp digaji gede. Lama2x sepakbola jadi sebuah ikon advertising juga koq. Apalagi kalo ditunjang dgn permainan bagus dan prestasi menjulang. Biarkan saja, itu sbuah proses. We’ll see where will our football end up later.
Posted 23 Apr 2008 at 5:40 pm ¶Hedi,
Posted 24 Apr 2008 at 9:05 am ¶Khan ada tuh klub perserikatan yang pake uang APBD. Apa pemain mereka berstatus sebagai karyawan pemda? Gajinya nggak lebih tinggi dari gaji bupati, khan?
Menurut sy, gaji 20-30jt untuk pemain bola termasuk kecil.
Posted 24 Apr 2008 at 4:33 pm ¶Spt ulasan di atas, pemain bola punya keterbatasan, krn itu layak dihargai agar dia punya sesuatu u/ hari tua nanti.
Yg terjadi di Indo sbnrnya, pemain kita terlalu banyak foya-foya & ga becus main, jdnya udah kalah, miskin pula…
rio memang top, kok, om! clean. gak grabak-grubuk alam terry. skillnya oke. ball control-nya perfect. jarang center back dg dribling memulai serangan macam dia. macam hierro dulu.
Posted 30 Apr 2008 at 1:03 pm ¶maen2 aja digaji, enak ya? hehehe. lha kita? [kita, lo aja kali, gw enggak :p]
Posted 02 May 2008 at 6:15 pm ¶Post a Comment