Menuju Kedamaian
Tuesday, September 30th, 2008

Striker Roman Pavlyuchenko di Tottenham Hotspur harus cepat-cepat bisa bahasa Inggris jika nggak mau kena hukum pelatih Juande Ramos. Pelatih nggak mau dengar alasan Pavlyuchenko tampil jelek karena belum mengerti bahasa Inggris.
Rafael Benitez juga selalu berbahasa Inggris saat tim Liverpool sedang berkumpul. Dia nggak pernah mau membuat session sendiri untuk pemain sesama Spanyol. Lalu jika mereka belum paham bahasa Inggris? ” Itu urusan mereka dan artinya segeralah selesaikan kelas bahasa,” ujar Benitez beberapa tahun lalu. (more…)
…soccer is just a game. That’s all it is. It isn’t life and death. No matter what happens in one particular game, the world will go on. Life doesn’t stop for soccer. It’s a game. It doesn’t need to be taken as seriously as it is.
Cuplikan itu saya dapat dari sebuah posting di EPL Talk. Soal perilaku oknum penonton yang melempari bis Manchester United setelah melawan Chelsea.
Benarkah sepakbola cuma sekadar permainan yang nggak perlu dianggap serius? Secara universal harusnya begitu. Saya sendiri menganggap serius, tapi bukan semata pada skor atau hasil akhir atau bahkan sampai tawuran segala — apalagi bikin konyol. (more…)

Martin Jol dipecat Tottenham Hotspur bulan Oktober 2007. Alasannya, nggak berprestasi. Sekarang, meneer Belanda itu justru membawa Hamburg SV ke papan atas Bundesliga, bahkan sempat pula memimpin klasemen. Padahal Hamburg sudah sembilan tahun nggak pernah duduk di puncak klasemen Jerman.

Jol sebenarnya bukan pelatih ecek ecek. Walaupun juga belum sekelas Fabio Capello, Sir Alex Ferguson atau Jose Mourinho. Sewaktu ditarik ke Tottenham dulu, dia punya predikat pelatih terbaik Belanda dua tahun beruntun (bersama RKC Waalwijk). Jadi, katakanlah dia pelatih teratas untuk lapis dua Eropa. Dan harusnya bisa juga berprestasi di Tottenham karena klub London utara itu pun tim lapis dua Inggris. (more…)
Wasit Matteo Trefoloni jelas membuat blunder waktu memimpin pertandingan Liga Champions antara Aalborg (Denmark) dan tuan rumah Glasgow Celtic (Skotlandia). Signor Italiano itu salah memberi kartu merah. Harusnya untuk Michael Jakobsen, justru diberikan kepada Michael Beauchamp. Untung, sekarang hukuman itu sudah dikembalikan ke porsi sebenarnya.
Tapi insiden ini menarik.
Pasca pertandingan, Beauchamp diwawancarai tv Sky Sports. Dia mengaku kecewa mendapat kartu merah (yang salah). Tapi dia juga pasrah karena itu biasa terjadi dalam pertandingan.
Sementara di markas Sky, ada tiga pelatih beken yang jadi komentator — Glenn Hoddle, Ruud Gullit dan Graeme Souness. Secara umum komentar mereka mirip dengan Beauchamp. Sedangkan Souness agak heran kenapa Trefoloni langsung mempercayai keterangan asistennya, meski juga maklum karena tekanan suara penonton dan tensi pertandingan bisa bikin wasit gugup.
Untuk kesekian kalinya saya terkesan. Wasit jelas salah, tapi pelaku bola di Eropa sangat jarang memojokkan wasit. Nggak perlu ada pencak silat di lapangan. Nggak perlu juga mendorong-dorong wasit atau berteriak seperti orang kalap. Selain ada aturan tegas yang melindungi wasit dan kelompoknya, pihak yang dirugikan juga punya jalur untuk banding. Intinya, ada mekanisme sendiri buat ngurus kesalahan seperti itu.
Jika insiden itu terjadi di Indonesia, saya yakin wasit akan jadi sasaran tinju. Hukum rimba otomatis berjalan. Seakan-akan wasit memang pantas dihajar. Cuma dia yang salah, sementara pemain, pelatih, manajer tim adalah malaikat. Sedangkan sang penonton menjadi raja rimbanya dan sang raja boleh bikin apa saja. Jika di lapangan justru terjadi kebalikannya, jalur di PSSI justru macet. Memang serba salah.