RSS You're reading Jangan Melatih di Palermo! article on sekadarblog

Jangan Melatih di Palermo!

Untuk pelesir, Palermo di Italia Selatan adalah tempat yang layak kunjung. Sebab Palermo kota terbesar Eropa di abad 12, jadi pasti banyak obyek dan lokasi keren.

Tapi untuk urusan bola, jangan mau jadi pelatih di klub Palermo. Minimal, selama pemiliknya masih Maurizio Zamparini. Bayangkan, Zamparini sudah memecat 27 pelatih antara Venezia dan Palermo sejak tahun 1987. Sementara untuk satu musim saja, 2005-06, Palermo mengalami pergantian pelatih sebanyak 8 kali! Saya duga memecat adalah hobi nomor satu Zamparini.

Yang terbaru, pengusaha departemen store itu mendepak Stefano Colantuono. Padahal kompetisi Serie A baru jalan satu minggu. Zamparini memecatnya karena nggak yakin Colantuono bakal berprestasi. Lho kalau nggak yakin kenapa dulu mengontraknya?

Saya nggak tahu berapa kekayaan Zamparini. Sebab dalam setiap kontrak kerja selalu ada penalti (uang) jika salah satu pihak menghentikannya di tengah jalan. Dan bila Zamparini memecat 27 pelatih, betapa banyaknya uang gono-gini yang harus disetor. Dulu Sven-Goran Eriksson katanya mendapat uang pesangon 4 juta pounds setelah dipecat FA Inggris. Tapi karena Zamparini hobi memecat, bisa juga selalu ada klausul khusus di dalam kontrak: Anda tak akan mendapat uang pesangon bila dipecat.

Semua pelatih di dunia paham bahwa posisi mereka rawan pemecatan. Bahkan bisa memberi gelar juara pun belum aman dari pemecatan. Soal ini, Real Madrid ahlinya — memecat Vicente Del Bosque dan Fabio Capello setelah menjuarai La Liga. Tapi dari kacamata lain, klub yang gemar pemecatan biasanya sulit menjadi tim kelas satu. Untuk Madrid, mereka sudah duluan jadi klub nomor satu sehingga hobi pemecatan nyaris nggak ngefek.

Ciri-ciri klub elite adalah mempertahankan pelatih dalam waktu relatif lama, apapun prestasinya. Minimal sampai setahun dan bukan memecat di tengah jalan, apalagi di awal musim. Contohnya banyak. AC Milan nggak mau mengusir pelatih Carlo Ancelotti walaupun belum pernah memberi trofi Serie A. Arsenal juga tidak memecat Arsene Wenger walaupun tiga musim terakhir sepi gelar. Sewaktu Manchester United paceklik gelar, Sir Alex Ferguson juga tidak ditendang.

Profesi melatih ibarat meramu masakan. Nggak akan langsung jadi, bahkan di arena olahraga apapun. Mie instan pun butuh waktu 3 menit supaya siap santap. Tentu tim bola akan lebih sulit lagi karena berhubungan dengan manusia yang jeroannya beraneka rupa. Meracik permainan tim pasti butuh masa lebih lama dari memasak air. Itu pun tergantung targetnya. Jika untuk juara, tentu akan lebih lama dan lebih sulit lagi.

Kembali ke Zamparini, mungkin dia penganut power syndrome. Jika bukan, pasti dia nggak suka Palermo jadi klub elite. Dia cuma mau klubnya jadi tim menengah atau gurem saja. Apakah dia belajar dari Indonesia yang senang memecat pelatih setiap ganti turnamen, saya kurang tahu.

Ϡ

17 Responses to “Jangan Melatih di Palermo!”

  1. didut says:

    setujuh …parah emang palermo

  2. dnial says:

    Kesabarannya tipis kali ya?

    Sepertinya hal ini juga dialami Timnas negara2 Arab. Kalah sekali bisa dipecat.

  3. iway says:

    mungkin daripada ga ada yang menonjol di palermo ya udah pemiliknya aja yang menonjol

  4. galih says:

    Bagaimana dengan posisi pelatih-pelatih liga super? Apakah posisinya aman-aman saja atau enggak?

  5. bangsari says:

    wah, wah… sudah klubnya kecil, pemiliknya edan pula. apa ndak pada lari supoerternya ya?

  6. hanny says:

    dulu pas SMA saya nge-fans sama AS Roma, tapi entah kenapa kok nggak pernah suka sama Fabio Capello-nya hihihihi *anak aneh*

  7. Nayantaka says:

    Gak hobi sama Lega Calcio …

  8. Anang says:

    mie instan bisa langsung dimakan

    ya minimal perlu waktu buat buka bungkusnya, hahaha

  9. arhiest182 says:

    Emang Payah ya…
    Kayak bukan di Liga Italia
    Pecat

    hehehehe

    :)

  10. nothing says:

    liga endonesa yo ngunu lho sam, kabeh di pecat, mulai jaksen di persitara sampe banur di arema

    ayo sam, maen futsal bareng, ben tahes

  11. yuswae says:

    Untung gak dadi presiden RI. Iso maen pecat menteri.

  12. Nazieb says:

    Dia saja yang disuruh nglatih sendiri… :D

    Kalau para pelatih sudah ogah nglatih di situ baru tahu rasa dia.. :P

  13. venus says:

    OOT: I miss you, too. kangen blogging lagi. thx hed :D

  14. kok kayak perserikatan di sini ya, ganti pelatih , ya mbulet muter muter dari klub ke klub..Tapi sekarang apakah mungkin pelatih membuat klausul ada minimum period dia harus membangun team ? ya susah juga ya

  15. Bagas says:

    Sepak terjang Tim Palermo 2006-2007 kemarin menakutkan!!

  16. [...] pelatih, bagaimana mungkin tim itu bisa punya standar permainan yang layak. Coba lihat tim sekelas Palermo. Mereka tak pernah naik kelas. Lagipula kalau mau jadi juara, penentunya bukan cuma pelatih dan [...]

Leave a Reply