Pemilik Tajir atau Pelatih Pintar?
Pertanyaan itu saya sadur dari blog The Offside. Mayoritas voting mungkin condong ke pilihan kedua. Alasannya bisa beraneka warna.
Pelatih pintar biasanya mahir berkelit di tengah keterbatasan (dana). Minim modal belum tentu kecil prestasi. David Moyes di Everton adalah salah satu contoh terbaik.
Tapi sekarang masalahnya bisa berbeda. Jika pemilik kaya bergabung dengan pelatih pintar dalam satu atap, tetap saja nasib pelatih ada di ujung tanduk. Kevin Keegan dan Alan Curbishley adalah contoh korban. Wewenang pelatih dalam hal jual beli pemain bisa dilompati si bos.
Ini yang disebut kapitalisme kebablasan. Orang-orang kaya yang masuk ke klub bola kebanyakan memang jago berbisnis. Ibarat tukang sulap, batu dalam genggaman tangan bisa berubah jadi emas. Tapi bisnis bola lain lapak dan unik. Tak ada jaminan duit sama dengan gelar. Umumnya malah gelar juara yang mengundang uang. Saya jadi ingat ucapan George Graham yang juga mengeluhkan orang-orang kaya di industri bola. Menurut Graham, bola bukan sekadar bisnis. Ada sentuhan hobi dan passion. Untung boleh dan harus dicari, tapi bukan semena-mena dan instan.
Serba salah sih. Klub tak punya uang pasti sulit berprestasi. Punya uang justru bikin manajemen keblinger dan menciptakan guncangan internal. Repotnya, hampir banyak klub yang lebih senang kedatangan bos kaya. Urusan internal bakal gonjang ganjing, biarlah diurus kemudian.
Tags: Liga Inggris, Pelatih Pintar, Pemilik Tajir
September 9th, 2008 at 11:40 am
cari menantu jg gt mas, pilih yg kaya.. haha ga perduli dia ga jago meramu strategi di hatinya anaknya atau di ranjang. hahaha ayak2 wae
September 9th, 2008 at 12:06 pm
pilih yg tajir, pintar,ganteng, baik budi dan tidak sombong..pak Hed..
September 9th, 2008 at 12:55 pm
Di Liga Inggris, otoritas pelatih terbukti memberikan hasil yang lebih baik, daripada sekedar mengumpulkan para bintang. Alex Ferguson dan Arsene Wenger adalah bukti nyatanya
September 9th, 2008 at 12:55 pm
pemilik tajir yang asli orang bola ndak ada ya ? :))
September 9th, 2008 at 1:01 pm
Sam, pemilik tajir, pelatih pintar, tapi kalo dikasih pemain sekelas ‘negeri impian’ ya sama saja. paling-paling cuma menang tarkam.
September 9th, 2008 at 1:27 pm
tp rasain aja klub kayak newcastle skrg susah cari pelatih
September 9th, 2008 at 3:08 pm
Trek gandeng lah…
Sekarang klub bolanya buat apa. Kalau buat bisnis, ya In The Name of showbiz, pemain bintang berskill ciamik, karakter yang extraordinary harus dibeli sebagai ikon, walau individualis. Big players mean big sales! Persetan sama trophy kalau hasil merchandise pemain bisa jutaan poundsterling, dan pemain itu kalo dijual lagi mahal. Itu berarti modal besar, dan di situlah bilionaire masuk.
Kalau in sake of a good sport, ya cari pelatih yang baik, membina pemain muda, mental juara, dan bam… sekali juara bertahan lama (kalo pemainnya nggak pada dibeli klub kaya). Kenyataannya butuh duit untuk
Paling enak lihat di Amrik, ada Salary Cap, jadi klub ndak gila2an beli pemain. Pelatih yahud masih nggigit karena pemainnya nggak semudah itu pindah klub.
Liga Indonesia mungkin harus mulai membuat aturan salary cap ini, supaya klub nggak bangkrut.
September 9th, 2008 at 5:37 pm
Enaknya itu pelatih yang kaya, Sam..
Jadi dia yang benar-benar berkuasa..
September 9th, 2008 at 6:01 pm
kalo di Indonesia pertanyaannya diubah: Manajer Tukang Suap atau Pelatih Pintar?
September 9th, 2008 at 6:27 pm
saya lebih setuju pelatih pintar, yang dengan uang seadanya bisa mendobrak dominasi-dominasi prestasi dari klub-klub besar.
September 10th, 2008 at 12:02 am
Kalau buat fan boys sih pilih pemilik tajir dan pelatih pinter
September 10th, 2008 at 12:49 pm
biasane pelatih pinter,kuwi dadi cepet sugih…!!!
*ngelus2 dompet*