Sepakbola Cuma Sekadar Permainan
…soccer is just a game. That’s all it is. It isn’t life and death. No matter what happens in one particular game, the world will go on. Life doesn’t stop for soccer. It’s a game. It doesn’t need to be taken as seriously as it is.
Cuplikan itu saya dapat dari sebuah posting di EPL Talk. Soal perilaku oknum penonton yang melempari bis Manchester United setelah melawan Chelsea.
Benarkah sepakbola cuma sekadar permainan yang nggak perlu dianggap serius? Secara universal harusnya begitu. Saya sendiri menganggap serius, tapi bukan semata pada skor atau hasil akhir atau bahkan sampai tawuran segala — apalagi bikin konyol.
Namun semua tergantung dari sudut mana dan siapa yang melihatnya.
Para ahli sosiologi dan psikologi massa sering bilang sepakbola juga jadi ajang pelampiasan dan kadang andalan bagi orang-orang yang hidupnya terpinggirkan. Entah secara ekonomi atau hal lain. Mereka mencari “kemenangan” di lapangan bola.
Buat sebagian besar orang Eropa, mungkin bola cuma biasa saja. Tapi bagaimana dengan di Indonesia atau Amerika Latin, contohnya Brazil. Kekerasan adalah warna umum. Bahkan sebagian besar suporter di Brazil menyebut pertandingan bola adalah perang. Pertempuran sebenar-benarnya dengan senjata api sudah “biasa” dilakoni suporter Gremio, Flamengo, Sao Paulo, Santos, Palmeiras dan sebagainya.
Dan seperti juga di Indonesia, mayoritas suporter di Brazil adalah menengah ke bawah. Kaum ini kebanyakan kalah di luar lapangan, maka kemenangan menjadi barang wajib di lapangan bola. Kalau kalah lagi, keluarkan senjatamu. Habisi hidup sang lawan.
Jelas, itu tindakan yang tak akan pernah dibenarkan. Tapi ini fakta bahwa masih ada yang menganggap sepakbola seserius hidup dan mati.
Tags: Brazil, hidup dan mati, Permainan
September 23rd, 2008 at 1:09 pm
He eh mas…!! Pas liat suporter bola di Brazil kok lebih serem yach…ampe perang beneran lho….!!! Indonesia lom seberapa brarti yach….tawuran suporternya???? :))
September 23rd, 2008 at 1:13 pm
hidup bonek! bondho nekat rek! sikat sikat, mati mati wis… pokoke kudu menang. titik… hahahaha…
September 23rd, 2008 at 1:21 pm
Lha, salahe kapitalisme itu sendiri.
kalo memang sepak bola itu cuma sekedar permainan, mengapa harus diciptakan pahlawan-pahlawan, pecundang, dongeng anak miskin yang tiba-tiba kaya dan lain-lain?
September 23rd, 2008 at 1:24 pm
bangsari, yang salah ya manusianya, penontonnya yang nggak dewasa. sudah jelas dan nyata bahwa sepakbola itu permainan, ngapain dibela-belain setor nyawa kalo memang tim-nya kalah. soccer is just a game. period!
September 23rd, 2008 at 1:29 pm
@bangsari: kapitalisme tidak salah, tapi bagaimana menyikapinya yang jadi pertanyaan selanjutnya.
@mas Puji: harusnya begitu, mas…tapi sayangnya buat kebanyakan suporter berpikir terbalik.
September 23rd, 2008 at 2:00 pm
slogan 10 november 1945 ini menggema berkepanjangan . .

merdeka 63 tahun . . kehidupan ekonominya nggak maju nggak mundur
memaksa para bonek tetap meneriakkan . .
*sayang 400 cek perjalanan dari Bank Indonesia senilai Rp.20 M, pemenangan Miranda Gultom, justru untuk “ndeder” bonek2 dewan di senayan . . . dan SBY pun mulai masuk masa sensi, alergi kulit kena kritik
September 23rd, 2008 at 2:20 pm
saya rasa di Eropa pun kurang lebih sama. Lihat saja hooliganisme di Inggris, Italia, dan liga2 lain, meskipun disana penangannnya sudah relatif bagus. Untuk para working class, sepakbola dapat menjadi pelarian dari beratnya hidup sehari-hari, baik di Eropa, Brazil, dan hampir di seluruh dunia (mungkin kecuali di Amerika Serikat ya? :D)
September 23rd, 2008 at 2:30 pm
bola harusnya bisa bikin yang nonton itu tau akan arti sportifitas ya om?
September 23rd, 2008 at 3:20 pm
Sebagai olahraga paling digemari sak dunyo lan akherat, saya kira Sepakbalan itu bukan sekadar permainan (atau sekadarblog)….
September 23rd, 2008 at 3:20 pm
masalah suporter lagi ya. soccer is only a game. especially for me. he he he. jd aku tetep g ngerti dg tingkah suporter yg gila2an mpe perang lempar2an mpe letus2an.
September 23rd, 2008 at 7:01 pm
salah media juga sih. seringkali media memberitakan sebuah pertandingan dengan gegap gempita seperti dua negara yang akan perang saja. jerman melawan inggris seringkali dikaitkan dengan perang antar dua negara itu di masa lalu.
September 23rd, 2008 at 7:12 pm
YEAHH!!
Menang sukur kalah tawur!!!
September 24th, 2008 at 11:02 am
nyekar ke kuburannya mbah marx dulu ah…….
September 24th, 2008 at 12:53 pm
dan takutnya, sepakbola dijadiin alat politik ..
menarik massa ‘yang kalah’
September 24th, 2008 at 3:23 pm
menang kalah dalam permainan… tapi sangat mempengaruhi bisnis
September 24th, 2008 at 10:28 pm
urip kalah, bal2an kalah. mending mati…
September 24th, 2008 at 10:48 pm
Kalo cuman permainan, keren dong, dengan permainan bisa kaya…hua
September 25th, 2008 at 3:14 am
namun disana ada kreasi, sportivitas, seni, keindahan sehingga membuat sepakbola sebagai olahraga terpopuler
September 25th, 2008 at 5:45 am
barusan nonton sebentar bayer münchen vs Nürnberg
September 25th, 2008 at 8:10 am
jeng tika ndak ikut mudik ke gorontalo mas… ha wong selama ini dia disana kok
September 25th, 2008 at 8:41 am
yo ojo terlalu serius le mikir to mas!
cepet tuwo lho!
September 25th, 2008 at 11:05 am
Iya, kenapa sih mesti tawuran. Capekk deh. Jadi keinget para penonton bola di B’ham, kalah ataupun menang, mabok jalan terus. Tapi pas mereka mabok, mereka justru lucu, di satu gerbong kereta lawan pun kawan semuanya nyanyi gak keruan. Jadi, para penonton sepak bolah inilah yang justru jadi hiburan. Tapi kalo gara-gara mabok, mereka malah ketabrak kereta, ya kupikir.. sepakbola memang, antara hidup dan mati
September 25th, 2008 at 4:55 pm
hiks…abisnya kalau kalah harus selalu ada yang disalahkan om…kalau gak…eh sapa bilang cuman sekedar gim…xixixi…
September 26th, 2008 at 1:22 am
pernah liat video-nya juan veron, yg berpesan: ada yang lebih penting ketimbang sepakbola di dunia ini.
September 28th, 2008 at 5:28 pm
hehe baca ini gue jadi inget omongan kondang dr sang manager legendaris liverpool, Bill Shankly, “Football is not a matter of life and death. Believe me, it’s more than that”
October 7th, 2008 at 12:24 pm
he…3 q jd inget sm arema yg skx tawuran mulu d kndng sndiri. pa g nydar mlah ngerugiin tim pujaanx!