Archive for October, 2008

Beckham, Milan dan Showbiz

Friday, October 31st, 2008

David Beckham masih laku. Walaupun umurnya sudah 33 tahun, masih ada klub yang mau bayar gajinya. Nggak tanggung-tanggung, klub sekelas AC Milan yang merekrutnya — meski cuma pinjaman dan jangka pendek.

Beckham memang hebat. Popularitasnya masih terjaga. Mainnya sudah menurun, walaupun nggak drastis. Umpan mautnya masih ada. Dia juga masih jadi langganan model iklan dan acara showbiz. Pendeknya, masih jadi tambang duit lah. (more…)

Bunuh Diri Karena Sepakbola

Thursday, October 30th, 2008

Mungkin cuma di Inggris di mana sepakbola dianggap sebagai hiburan keluarga — sesudah jaman hooligans. Serius tapi santai.

Di negara lain, bukan cuma sekadar hiburan. Italia, misalnya, jadi ajang pameran aliran politik. Di Brasil jadi lahan tawuran antar geng. Di Spanyol, ajang penghinaan rasial. Indonesia? Ah, anda sudah tahu sendiri. (more…)

Maradona

Thursday, October 30th, 2008

Siapa nggak kenal Maradona. Mungkin angkatan kelahiran 80-an cuma bisa nonton aksinya lewat Youtube!. Tapi mereka nggak akan protes soal cap Maradona sebagai legenda atau dewa bola dunia.

Sebentar lagi, dia bakal melatih Argentina. Bakal sesukses masanya bermain?

Belum tentu. (more…)

Kenapa Stadion di Inggris Tanpa Pagar?

Monday, October 27th, 2008

Saya berasumsi semua orang yang suka (nonton) bola pasti tahu stadion di seluruh Inggris nggak punya pagar pembatas tribun penonton dan lapangan. Jarak tribun dan lapangan pun hemat. Rata-rata kurang dari 5 meter, nggak lebih.

Apa sebab? Hmmm…lumayan panjang ceritanya.

Dulu, stadion Inggris sama saja seperti stadion manapun. Menurut FIFA, harus ada pagar pembatas. Apalagi kalau mau dipakai buat hajatan besar dan resmi. Tapi Inggris kepentok masalah di tahun 1985.

Gara-garanya suporter Liverpool bikin rusuh di Belgia sewaktu final Liga Champions lawan Juventus. Soal ini bisa baca Tragedi Heysel atau tanya mas Iman yang kebetulan hadir di TKP. (more…)

Menang dan Kalah Sama

Sunday, October 26th, 2008

Suporter bola itu memang susah ditebak. Apa yang bisa bikin mereka senang gembira dan berlaku bak anak mami? Jawabannya nggak pasti.

Jika tim kalah, suporter mengamuk sudah biasa. Apabila suporternya adem ayem malah banyak orang heran. “Tumben, kok nggak ada kerusuhan?”

Bila tim menang, ya nggak ada kepastian juga suporternya bakal pulang dengan damai. Walaupun tentu lebih sering aman-aman saja, kecuali suporter mabuk yang résé dan ngoceh nggak karuan. (more…)