RSS You're reading Sirkus article on sekadarblog

Sirkus

Secara umum, sirkus menyenangkan buat banyak orang. Tapi untuk pelatih timnas Inggris, Fabio Capello, dan pemainnya, Rio Ferdinand, sebaliknya.

Tentu bukan sirkus dengan badut berhidung merah, berambut warna warni dan baju gombrong. Tapi WAGS-lah yang disebut gerombolan sirkus, termasuk juga pasangan pemainnya masing-masing. Kata lain, para istri, pacar atau tunangan pemain membuat timnas Inggris seperti barisan badut sirkus.

Sebenarnya banyak orang benci WAGS. Perilaku gila belanja dan nampang yang paling sering dikritik. Orang Inggris beberapa kali menyebut mereka OKB. Dan malangnya, kebanyakan karena cepretan duit pasangannya.

Seharusnya nggak masalah. Itu duit-duit mereka dan juga si pria nggak keberatan. Masalahnya adalah kerewelan WAGS justru di saat para pemain sedang berkumpul di kamp latihan.

Aksi para wanita itu kemudian menjadi berita sama banyaknya dengan sang pasangan sebagai atlit. Bagi Capello, berita yang menghiasi banyak tabloid bisa bikin fokus skuad rusak. Itu sebabnya, Capello bikin aturan ketat buat pemain: tak boleh terima telpon dan menelpon serta dilarang bawa pasangan masing-masing saat pelatnas.

WAGS menarik buat pers dan juga paparazzi. Tingkah polah pemain bola selalu jadi tajuk utama tabloid. Kombinasi (berita) keduanya justru disenangi suporter, mungkin juga buat bahan celaan dan gosip. Sebagian untuk materi mimpi. Suporter pria ngiler melihat wanita kinclong model Abbey Clancy dan Coleen McLouglin. Fans wanita memuja Cristiano Ronaldo atau Theo Walcott.

Jika kemudian hari ada masalah, jangan kaget jika menyeret pula kerabat dekat lainnya dari pemain. Bisa saja mertua, pembantu, tetangga, mantan pacar, satpam rumah diwawancarai dan difoto. Soal ini, tabloid dan infotainment tv Indonesia jagonya. :D

Ϡ

17 Responses to “Sirkus”

  1. yuswae says:

    media di indonesia sdh mulai tiru2 memberitakan para WAG’s atau istilah indonesianya IPK (Istri dan PaKenton)…

  2. Anang says:

    dadi pemaen terkenal enak, golek pakenthon gampang ya? *nglirik komen atas*

  3. Nayantaka says:

    wah, sopo arep bisnisan sanggar pakenthon khusus pemain bal? sekelas rodrigo arraya atau jaime rojas pun sudah bisa nggaet pakenthon yang jos gandhos lho…

  4. Raffaell says:

    Duit duit gue, kenape elu yang repot… gitu yak…

  5. Bagas says:

    Itu memang ciri media inggris sam, bukankah sebenarnya WAGs dari klub jerman, Italy dan Spanyol pun gak kalah heboh dalam hal belanja-belanja atau urusan nampang.

    Bedanya ya cuma di medianya, Medianya tidak senyinyir media inggris.

  6. Goenawan Lee says:

    Saya cuma tertawa kecil saja lihat WAGs di Indonesia. :P

  7. galih says:

    hehehe, setuju, infotainment indonesia adalah pakarnya kalau soal mewawancarai satpam dan pembantu rumah tangga :-D

  8. fitri mohan says:

    bumbunya sepakbola ya mas. hehehe. jadi inget tabloid gosip :) suwun buat ucapan lebarannya ya mase.

  9. hni says:

    “pabrikgas” nggak gitu dehh.. pak.. :p

  10. bangsari says:

    pantes wae inggris sulit berprestasi. lha kakehan gosipe ngene…

  11. snydez says:

    WAGKS!
    yang sebel, mungkin pemaen yang gak kebagian nge-date ce inggris cakep. :D

    *karena dilansir temen yang pernah kuliah disana. amad sangad lah jarang ada perempuan inggris cakep (kecuali pemaen sinetron)

  12. Ndoro Seten says:

    mgendonesya luwih gayeng neh sirkuse mas…

  13. mayssari says:

    iya juga yah… kepopuleran mereka mengalahkan ke”atlitan’ sang empunya nama…

  14. Epat says:

    mungkinkah para blogger juga akan menjadi bagian dari sirkus2 itu? :-D

  15. tito says:

    olahragawan sekarang termasuk selebriti juga ya. Jurnalis kapan merangkap jadi selebriti ya paklik. Jangan bilang seleb blog.

  16. zen says:

    Wingi sak durunge bodo aku ndeluk persib nang vip. penonton lanange sithik2 mlirik Jupe (julio perez) sik sorak sorai rak nggenah.

  17. halah, Capello cuma cari alasan. Bukannya dari dulu juga permainan Inggris gak begitu bagus meski sudah bergonta-ganti pelatih. Jangan salahkah WAGS. Mereka adalah orang-orang biasa yang dibesarkan namanya oleh media massa. Ngapain diurusin?

Leave a Reply