RSS You're reading Kenapa Stadion di Inggris Tanpa Pagar? article on Ambien For Sale

Kenapa Stadion di Inggris Tanpa Pagar?

Saya berasumsi semua orang yang suka (nonton) bola pasti tahu stadion di seluruh Inggris nggak punya pagar pembatas tribun penonton dan lapangan. Jarak tribun dan lapangan pun hemat. Rata-rata kurang dari 5 meter, nggak lebih. Apa sebab? Hmmm...lumayan panjang ceritanya. Dulu, stadion Inggris sama saja seperti stadion manapun. Menurut FIFA, harus ada pagar pembatas. Apalagi kalau mau dipakai buat hajatan besar dan resmi. Tapi Inggris kepentok masalah di tahun 1985. Gara-garanya suporter Liverpool bikin rusuh di Belgia sewaktu final Liga Champions lawan Juventus. Soal ini bisa baca Tragedi Heysel atau tanya mas Iman yang kebetulan hadir di TKP. Ada kesalahan tentu ada sanksi. Soal kerusuhan, Eropa paling tegas. UEFA akhirnya melarang Liverpool main di Eropa selama 5 tahun. Eh uniknya, FA Inggris malah ikut nambahi hukuman. Bukan cuma Liverpool, tapi semua klub Inggris nggak boleh main di luar Inggris selama 5 tahun! Yang saya salut, nggak ada protes. "Lho Liverpool yang salah, kok gue kena getahnya?" Semua pasrah. Ulah fans Liverpool (yang mabuk berat dan berkategori hooligans) benar-benar menampar muka sepakbola Inggris. Mereka sepakat introspeksi. Hukuman FA nggak berhenti di situ. Ada banyak perubahan parameter keamanan lainnya. Yang paling mencolok adalah menghilangkan pagar pembatas tribun penonton dan lapangan serta nggak boleh lagi ada tribun kelas berdiri (tanpa kursi) di seantero negeri. Di Eropa, setahu saya cuma Inggris Raya yang nggak menjual tiket tanpa kursi. Ini paling sering diprotes banyak blogger bola dari Inggris. Jelas banyak yang sewot karena tiket berdiri harganya murah meriah. Mirip tiket kereta ekonomi Perumka yang nggak ada nomor bangkunya itu. ;) Tapi buat FA, kelas suporter berdiri justru pusatnya biang kerok. Jadi, sekarang ini semua stadion di Inggris tanpa pagar dan tidak menjual tiket bernomor kursi. FA sempat dicap gila oleh publik. Ada pagar saja rusuh, apalagi ompong melompong? Tapi FA memang organisasi berpengalaman. Ide mereka ternyata berhasil. Penghilangan pagar pembatas justru membuat dewasa suporter Inggris. FA juga bikin aturan buat mencatat identitas penonton yang masuk stadion. Sekali bikin rusuh, si suporter bakal di-banned masuk stadion di seluruh Inggris. Bahkan biasanya juga dikirim tembusan ke Eropa. Di dalam stadion juga nggak boleh terlihat pasukan polisi alias harus menyamar. Indikator sebuah pertandingan tertentu aman atau enggak, juga bisa dilihat dari jumlah aparat keamanan di stadion. Contoh nyata ada di sepakbola kita. :D Balik ke soal stadion. Pasti nggak mungkin sepakbola Inggris adem ayem saja. Sebelum insiden kemarin, juga ada beberapa tawuran suporter. Dulu ada kasus "tendangan kung fu" Eric Cantona kepada suporter Crystal Palace di pinggir lapangan. Cuma, insiden kekerasan di sana bukan lagi kebiasaan atau tradisi. Suporter Inggris yang dulu sering bikin orang resah, sekarang justru relatif lebih santun. Bandingkan dengan tarkam Liga Indonesia. Saya kadang berpikir, jika Inggris sukses dengan cara itu, apakah bola Indonesia juga bisa? Update**: Tragedi Heysel adalah pemicu perubahan parameter keamanan di stadion. Peristiwa Hillsborough membuat FA mempercepat pelaksanaan itu, nggak ada pengunduran lagi. -------------------- * Posting ini untuk menjawab pertanyaan Galih ** Terima kasih buat Nayantaka dan Sigit atas koreksinya
Ϡ

33 Responses to “Kenapa Stadion di Inggris Tanpa Pagar?”

  1. PeTeeR says:

    seandainya di indonesia seperti itu, saya gak bisa membayangkan berapa banyak suporter, pemain, official dan wasit yang harus meninggal di lapangan.

  2. dana says:

    Rasanya yang terpenting bukan penghilangan pagar itu, tapi tentang mencatat identitas setiap penonton yang masuk.

  3. snydez says:

    #1 penonton disini kebanyakan abg kebawah, gak punya KTP.
    #2 KTP, satu orang bisa dobel dobel, gimana bisa mencatat / mengidentifikasi seseorang dengan baik? :D

  4. hni says:

    …Saya kadang berpikir, jika Inggris sukses dengan cara itu, apakah bola Indonesia juga bisa?… Indonesia… Bisaaa…!!! *ngayaldipojokan*

  5. Anang says:

    ajur kang. emosi kita masih labil, gitu ga pake pagar. apa kata dunia!

  6. galih says:

    Ooo begitu sejarahnya? Saya kira kalau di Indonesia nggak akan jalan. Semuanya masih belum dewasa. Semuanya. Ya pengurus, pemain, wasit, oficial, penonton, sampai media.

    Thanks mas hedi sudah njawab pertanyaan saya he he he…

  7. nengjeni says:

    wah .. kalo di sini kan maunya serba untung.. kalo bisa buy 1 get 5 kenapa enggak? sambil nonton sepak bola gratis nonton pencak silat, tinju, kickboxing, sama debat … :D

  8. bangsari says:

    semua teori kalo sudah diterapkan di ensonesah, langsung mentah. mending ngomongin yang lain deh. hahahaha

  9. bangpay says:

    endonesia??? endonesia???

    ah prek…

  10. Raffaell says:

    Postingan menarik…..

    Salut dengan kalimat ini:
    FA juga bikin aturan buat mencatat identitas penonton yang masuk stadion. Sekali bikin rusuh, si suporter bakal di-banned masuk stadion di seluruh Inggris.

    Di indonesia tentu saja belom bisa di implementasikan gini, yang nonton bola mungkin ga punya katepe, tingkat pendidikanya mungkin tamatan es em pe, beda dengan orang sana, mungkin propesor pun ada yang nongton bola….

    Sedangkan di Indonesia, anggap persija bikin kasus, trus Indonesia berlakukan tidak ada liga selama 5 tahun, bisa demo klub lain + supporternya dengan tindakan demo dan anarkis….

    Itu bedanya negara kerajaan dan negara demokrasi, mereka menghormati keputusan petingginya, beda dengan demokrasi, kalo ente keputusanya gitu, ane mau tetep gini….

    Kapan nih Indonesia punya pemimpin tangan besi kaya pa Harto…. huahahahaha….

  11. dian says:

    gak pernah merhatiin hihi

    atas gue : jangan suharto donk…fidel castro aja :P

  12. Epat says:

    endonesah harus bisa!
    harus bisa berbenah maksudnya. toh industri sepakbola kita sudah mulai berjalan meskipun masih banyak corat maritnya.

  13. yuswae says:

    soal tarkam, pemain klub di kampung saya pernah di keroyok pemain plus penonton se lapangan… 1 vs (kira-kira) 10 orang..

  14. kyai slamet says:

    tanggung jawab! dewasa!

    hmmm… gimana kalau semua stadion di indonesia tidak usah pakai pagar dan tidak usah ada polisi berkostum PHH lengkap….

    ah, orang indonesia kan belum bertanggung jawab dan belum dewasa!
    makanya gak boleh nonton film dewasa! :D

  15. Nayantaka says:

    Sekedar info tambahan: Runtuhnya tembok stadion Hillsborough, kandang Sheffield Wednesday saat pertandingan semifinal antara Liverpoll vs Nottingham Forest 15 April 1989 mengakibatkan 96 Liverpudlian meninggal akibat terjepit oleh pagar pembatas lapangan dan desakan penonton. Sejak itulah, seluruh stadion di Inggris diharuskan membongkar pagar pembatas antara tempat duduk dengan lapangan, dan tiket tanpa kursi ditiadakan.

  16. keringat says:

    Kalopun sepakbola (ternyata) bukan lahir dari Inggris, tapi jelas mereka layak buat mengklaim itu.. bravo. bravo. Jauh bener ama P$$I (miris)

  17. Tigis says:

    bro, setau gue sebabnya bukan heysel deh. Tp tragedi hillsborough yg tiap taon msh diperingati di anfield. Wkt itu para penonton terutama yg di deket pagar pembatas bener2x mati2xan nahan dorongan dr belakang krn penuh sesak. Jadinya diputuskan utk menghilangkan pagar pembatas setelah puluhan org jadi korban. Persis spt dibilang bro nayantaka.

  18. paman tyo says:

    posting yang mencengangkan. kok bisa ya, dari pengalaman buruk terus dipetika hikmahnyalantas jadi solusi sosial yang bagus. apa ya syaratnya untuk itu? dosen2 ilmu sosial bisa belajar soal ini.

    baca blog ini saya jadi belajar soal lain di luar bal-balan. salut untuk hedi. suwun.

  19. linda says:

    hmmmmmmmm harus ada stadion yg jadi kelinci percobaan dulu deh mas biar tau gimana reaksi penonton bola di indonesia :D

  20. didut says:

    hmmm…indonesia yah?!? …..hmmm…..*berpikir keras apakah bisa juga diisni*

  21. nothing says:

    semoga suatu saat nanti sepakbola indonesia bisa lebih baik lagi..
    ayo mas, maen futsal…

  22. sepakat dengan paman tyo. hebat hed..ternyata ada pembelajaran dari tragedi…tapi memang secara psikologis tanpa pembatas memang lebih membuat atmospher lebih mendidih..pemain dan penonton jadi dekat

  23. Menurut saya, terlalu jauh kalau pertandingan bola Indonesia harus mencontoh Inggris. Mungkin harus ada kejadian tawuran besar2an dulu seperti tragedi Heysel baru kita menuju seperti di Inggris sekarang

  24. edy says:

    pengen bgt ngerasain nonton di pinggir lapangan tanpa perlu ada pagar dan keliatan petugas keamanan. lha skarang liat di tipi aja ngeri…

  25. Masenchipz says:

    sistem administrasi visitor kayaknya yang terpenting menurut gw…
    btw nice postingannya… siip

  26. endik says:

    dodolan kayu payu larang kuwi

  27. escoret says:

    hahhaha…lagi wae aku liat di yutube ttg vidio erik cantona dgn kungfunya….

    mnrtku,kesadaran sebuah hiburan di inggris atensinya besar….
    beda ama di kita dan argentina[red-amerika latin].

    nongton bal2an..bisa jadi lahan adu jotos…

  28. Kenapa stadion di Enggris nggak pake pagar? Hmmm… ini pasti karena penonton di negerinya pangeran charles itu bukanlah orang-orang pemberani. Mereka takut dilarang nonton pertandingan kalo bikin onar. Takut diseret ke hotel prodeo kalo bikin amuk. Takut didenda kalo menonjok wasit saat timnya kalah. Pokoknya orang Enggris itu penakut lah.

    Bandingkan dengan penonton sepakbola dari Endonesia yang pemberani, gagah dan heroik. Kurang heroik bagaimana coba: kursi stadion dibakar gara-gara timnya keok, wasit di-KO karena pemain kesayangannya dikartu merah, mobil di pinggir jalan diremuk gara-gara sepulang nonton diejek oleh suporter lain.

    Tuh, heroik banged khan? Anehnya, dan ini sudah berulang kali terjadi, polisi diem saja kek patung. Anehnya, nggak ada orang masuk bui. Anehnnya hal seperti ini berulang-ulang terjadi.

    Begitulah, orang Endonesia memang lebih heroik dibanding orang daripada negeri Enggris. Kekekekekekkk….

  29. miracle says:

    wah batu gue tau ternyata lapangan bola di Inggris itu kagak pager yah dan hebatnya lagi penontonnya tau aturan (walaupun kagak selamanya mungkin).Tapi kalau di Indo weis ngeri bayanginnya apalagi kalau rusuh bukan antar penonton aja , yang pemain , wasit dan official aja bisa ribut berbuntut tawuran kaya kemaren itu repotkan!Belum lagi harta benda dan org2 yang gak tau apa2 kena amukan suprorter yang sewot gara2 kalah!Ngeri liatnya !

  30. samawaholic says:

    baru 2 menit sy baca blognya, udah jatuh cinta… (ama blognya) :p. blognya gw banget :D . sy emang doyan pernak-pernik dunia sepakbola. sepakbola dunia, bukan dunia lain kaya di indonesia… buat yang doyan ama NAPOLI boleh kenalan… sip. blognya boleh dilink gak mas?

  31. Gila…dari sd kelas4 saya nntn terus lga inkgris dilayar kaca..(skrg sdh kuliah),baru tau asal muasal knapa diliga inggris tak ada pagar pembatas..wah..makasi mas..:-D..walo telat tahu..ndak papa,dr pd ndak sma sx..he5..:-)

  32. bali blogger says:

    di Indonesia memang banyak yang bertolak belakang antara teori dan praktek

  33. [...] This post was mentioned on Twitter by ronald rofiandri. ronald rofiandri said: Ahaa..ada artikel yg gw temuin: http://tinyurl.com/32stxoq knp std bola di Inggris sgj dibuat tdk b'jrk dgn (cont) http://tl.gd/17d66e [...]

Leave a Reply