RSS You're reading Ajang Piala Makin Redup article on sekadarblog

Ajang Piala Makin Redup

Sudah beberapa tahun terakhir, ajang piala domestik di Eropa sana nggak lagi disukai klub. Mati segan hidup ogah. Klub tetap ikut tapi cuma ala kadarnya. Menang asyik, kalah malah enak. Jumlah pertandingan tim berkurang, fisik pemain bisa dihemat.

Arsenal sudah memulainya sejak beberapa tahun lalu. Cuma pemain yunior yang turun. Kalaupun ada pemain senior, nggak lebih dari tiga dan hanya sebagai cadangan. Sekarang kebijakan Arsenal malah ngetrend.

Liverpool menurunkan tim lapis dua. Chelsea setali tiga uang. Real Madrid nggak jauh beda. Sudah pasti kalah. Di Italia lebih parah. Bukan cuma klub, tapi penonton juga malas nonton. Di stadion nggak ada satu pun penonton menyaksikan Udinese vs Reggina hari Rabu kemarin.

Klub pasti lebih suka konsentrasi penuh di liga domestik, Liga Champions atau Piala UEFA. Menguras energi dan konsentrasi di sana nggak masalah karena ada duit dan gengsinya. Tapi tetap saja skuad harus dirotasi supaya nggak kecapekan. Bayangkan jika klub empat besar di Inggris main di lima kompetisi sekaligus dalam setahun!

Tapi ajang piala lebih pada menjaga tradisi. Bahkan Piala FA di Inggris adalah kompetisi paling tua di dunia. Setiap negara selalu punya kompetisi selain liga. Inggris, Prancis dan Jerman bahkan punya tiga; liga, piala dan piala liga. Yang umum adalah dua, kompetisi liga dan Piala Negara (Coppa Italia, Copa Del Rey Spanyol, Piala Belanda dll).

Mungkin jawaban untuk pertanyaan di blog Reuters adalah tidak. Yang perlu dipikirkan hanya format ulang. Bikin lebih simpel. Piala Liga Jerman (Liga Pokal) rasanya lebih pas. Yang ikut cuma sedikit dan maksimal cuma delapan tim teratas. Waktunya pun dibuat sebelum kompetisi liga mulai.

Ini sebenarnya juga agak repot. Memulai pertandingan lebih awal justru bisa bikin pemain gampang cedera karena istirahatnya pendek. Lalu kalau pesertanya dipangkas dan dibatasi, maka konsep pemerataan kesempatan buat tim-tim divisi bawah juga lumer.

Rasanya yang paling enak pakai sistem undangan. Atau setiap klub ditanya. Mau ikut atau tidak. Nggak perlu wajib karena tiap klub punya target dan anggaran masing-masing. Apalagi belum tentu juara, walaupun esensi kompetisi bukan cuma itu. Saya setuju pada klub-klub Indonesia yang enggan ikut Copa Indonesia karena anggaran cekak. Ini lebih realistis.

Ϡ

2 Responses to “Ajang Piala Makin Redup”

  1. unksenna says:

    bula itu bundar bro…………
    wah pertamax neh………

  2. aryf says:

    ternyata bukan `sekedar blog`
    ..bukan sekedar kartu merah

    menjilat mode oN :-)

    *bola itu indah, walopun utk dinikmati alakadarnya*

    PS: …liver…^%%*#%$#^^:* (ditonjok oleh blog sebelah)

Leave a Reply