&mdash November 21st, 2008 {20}
Timnas Indonesia belum berubah. Sekali lagi, nggak kaget sih. Indonesia kalah itu biasa, bisa menang baru mengejutkan (dan bikin senang).
“Tapi kalahnya dari Myanmar,” kata seorang teman.
Kenapa enggak? Myanmar, dulu Burma, musuh bebuyutan Indonesia jaman 70-an. Era itu, Asia Tenggara cuma dikuasai Indonesia dan Burma. Baru mulai 90-an, Thailand merajai.
Artinya apa? Negara lain lari cepat, kita jalan santai.
Tehnik dan skill nggak ada masalah. Seperti di Piala Asia dulu. Stamina masih klasik. Hambatan lain; mental dan kecepatan berpikir.
Waktu lawan Ulsan Hyundai, kelihatan banget pemain kita bingung kalau dapat bola. Mau diapakan, mau dikirim ke mana dan sebagainya. Bingung sendiri. Selain itu, permainan Indonesia naif. Aliran bolanya gampang ditebak dan dipotong lawan.
Siapa yang bisa memperbaiki? Ya pemain itu sendiri dan pelatihnya di klub. Bukan pelatih timnas. Pemain setiap hari ada di klub, latihan juga di sana. Pelatih timnas cuma mengurus strategi main berdasarkan amunisi.
Tapi dengan kompetisi liga Indonesia yang amburadul, saya pesimistis. Pakai cara instan dengan naturalisasi? Wah saya nggak yakin itu cara bagus. Dan yang pasti, hasilnya tetap akan sama.
tadi sore sempat liat sedikit akhirnya (bukan karena mantengin dari awal hehe…) walah.. kayaknya orang indonesia lebih baik main bulutangkis aja dah..
Berubahnya nunggu Hedi jadi ketua PSSI nggantikan Nurdin Hashit
dah lama nggak nonton sepakbola Indonesia nih aku
setuju mas.. tanggung jawab klub
Hmmm… Gak tau harus komen apa?
hayoo…semua pemain latihan lagi dengan baik dan benar…
*sambil pegang pecut!*
Para pemain Indonesia speed dan stamina kalah jauh, menit 80 pemain Myanmar larinya masih kencang-kencang. Gile bener.
Kenapa mesti dilakukan yah……. Indonesia mah, stamina pemaen bolanya masih kalah ama stamina petani dikampung…
padahal sama-sama makan nasi… (moodnya lagi soal nasi setelah nulis ini)
Pelatih myanmar sopo sih kang ?
yah kayaknya yang perlu diperbaiki mental pemainnya dulu deh
itu yang saya suka kang dari pemain indonesia
kecepatan berpikirnya itu loh, sumprit! amit-amit!
PSSI pancen AFU!!
merdeka games kalah sama myanmar,ini grand royal jg kalah ama myanmar. duite kurang paleng sam
kemarin nonton Persebaya main
Pemain muda kita masi layak ditunggu perkembangannya
Kemarin sempat nonton Andik pemain 18 thun gocek bola?
Saya pikir timnas kita perlu mengkonsumsi lebih banyak Omega 3 biar konstruksi syaraf otaknya bisa match dg apa2 yg dilatihkan. But then again, jangan2 masalahnya adl karena kurang seringnya latihan untuk kondisi2 khusus. Artinya latihannya ndak dirancang, ya sekedar main tanpa menyengajakan munculnya skenario2 khusus.
hmm… tau’ah
ada satu lagi yang belum berubah: theme blog ini, Sam? Personal theme itu belum kelar, ya? Sorry, OOT…
gue koq ga begitu suka pake jalan naturalisasi ya. Kesannya kyk make legiun asing buat bawa nama bangsa. Beda mslh sih kalo mreka emang uda lama ngejalanin hidup di Indonesia.
koq jd inget caleg bali yg org bule itu ya
[...] senang jika timnas bisa menang (meski selalu ada catatan). Tapi hitung-hitungan atas kertas memang tidak menjanjikan. Saya juga tak mau kecewa sehingga saya tak perlu [...]
[...] senang jika timnas bisa menang (meski selalu ada catatan). Tapi hitung-hitungan atas kertas memang tidak menjanjikan. Saya juga tak mau kecewa sehingga saya tak perlu [...]