&mdash December 1st, 2008 {17}
Legowo menerima kekalahan.
Sewaktu Arsenal menang 2-1 atas Chelsea hari Minggu, ada poin kontroversial. Gol pertama Robin van Persie didahului proses offside. Beberapa kali replay televisi, saya panteng mata baik-baik.
Benar, saya nggak ragu itu offside. Demikian pula suara reporter dan komentator. Eurosport pun setuju.
Although there was a hint of controversy about the first goal with referee Mike Dean indicating that Jose Bosingwa had played the Dutch striker onside when replays indicated he was a yard offside. – Eurosport
Tenang, ini bukan klaim protes. Juga bukan soal siapa menang dan kalah. Pun bukan soal tim anda unggul atau tim mereka keok. Saya kurang tertarik.
Saya selalu senang jika ada kejadian kontroversial di kompetisi Eropa. Sikap pihak, katakanlah yang dirugikan, yang sering saya perhatikan. Tak ada protes. Bahkan Chelsea sama sekali nggak komplain. Scolari memang mempertanyakan kinerja wasit, tapi dia mengakui timnya sedang bermasalah.
Artinya, pelaku di lapangan nggak bertindak brutal. Penonton pun nggak perlu teriak-teriak; “wasit suap, wasit curang.” Reaksi mungkin ada, tapi tidak berlebihan. Protes boleh lewat jalur resmi, tapi percuma karena skor akhir tak akan pernah berubah.
Kalah ya kalah. Wasit berbuat salah tidak 90 menit. Masih banyak waktu bagi tim untuk bermain lebih baik dan menang. Itu jauh lebih penting dari pada meributkan keputusan wasit. Jika mencomot pendapat Scolari, tim lawan menang (apapun caranya) karena kita memberi peluang pada mereka melalui kesalahan kita sendiri.
Mungkin ini yang dinamakan jantan menerima kekalahan.
Saya tak berani membayangkan jika insiden di Stamford Bridge itu terjadi di Indonesia. Wasit pulang dengan badan tanpa lebam sudah untung. Stadion tidak rusak diamuk massa penonton pun sudah bisa diartikan sepakbola kita maju selangkah.
Cak, tak wei bocoran yo:
Nek di bidang kebudayaan, sudut pandang sampeyan neng perkoro bal-balan iku koyo Soetan Takdir Alisjahbana (STA) sik getol mengkampanyekan: lihatlah dan tirulah barat kalo mau maju. Iku bab sik marakke polemik rak entek2, STA dilawan entek2an mbek Ki Hajar, Soetatmo, dkk.
Tapi nek perkoro bal-balan iku pancene rak iso dibantah, bedo mbek perkoro kebudayan sik ijeh iso memancing polemik. Nek bal-balan, yo pancene ndeluk ke barat, sinau mbek barat, sik wes cethok welo-welo maju lan tertib. Nek perkoro bal-balan ijeh nganggo gotong royong yo repot, opo maneh nek gotong royong ala pengurus PSSI utowo gotong royong pemaen-ofisial-penonton dalam urusan mengepruki wasit.
Tobato tenan nek perkoro iku.
Semua tentang kepercayaan sepertinya…
Di barat penonton percaya saat salah wasit nggak sengaja, atau memang kesalahan yang jujur (honest mistake boso Indonesiane opo?), kalau di sini asumsinya wasitnya emang sengaja atau curang atau disuap.
Beda asumsi, Beda reaksi.
…..Mungkin ini yang dinamakan jantan menerima kekalahan….. karena mereka tahu pak.. siapa juaranya… LOL…
urusan sepakbalan pancen kudu niru wong kulon yo sam?
tapi kulon sing endi yo? nek kulone kulon, iku ngendi maneh?
Pendapat Scolari keren banget, asli jantan menerima kekalahan. Kalah tapi tetap percaya diri bahwa timnya tidak kalah kualitas, tetapi hanya kurang cermat dan membuat kesalahan sendiri sehingga lawan bisa menang.
hahaha, aku menang taruhan.. traktiran rujak cingur
Saya jantan menerima kemenangan … hehehe…
OOT: Pesan saya sudah nyampe pak ?
sungguh nyaman pagi ini, tidur enak setelah melihat chelsea kalah lagi di kandangnya..Off side ? ya sesekali Arsenal diuntungkan dengan kontroversial ini..he he.
Tunggu pembalasan dari chelsea ya….
arsenalllll yesss!!!
HIP-HIP HURRAY to ARSENAL
biarpun chelsea kalah, yang penting persebaya menang.
*tertanda: bonek pendukung chelsea*
jantan… ah betapa kontekstualnya kata itu…
–saya pindah ke Luwuk, Sulawesi Tengah!
penonton indonesia payahh.. nyebein!! bikin kotor, bikin rusuh, bikin jalanan macet..
iya tuh…xixixi…tp gpp lah yang kalah chelsea ini….
eh penonton endonesia?…hhmm…padahal asik lho nonton langsung, cuman emang rada horror tuh ngliat penontonnya
jadi ngliat ditipi aja lah….
Kalau kayak gini yang dihukum wasit atau hakim garisnya om?
wasit dan hakim garis adalah manusia biasa. wajarlah kalo mereka bikin salah. yang penting pemain menghormati kedua pengadil itu.