&mdash December 10th, 2008 {17}
Harapan dan kekecewaan tipis jaraknya.
Siapa berharap, dia harus siap menuai kecewa. Begitu kata Zen. Itu sebabnya saya nggak pernah berharap timnas Indonesia bakal menang dari Singapura. Untuk sementara ini begitu.
Siang hari kemarin, ada belasan pesan japri via sms dan email. Isinya nyaris sama; apa Indonesia bisa menang dari Singapura? Saya cuma jawab: pesimistis. Malamnya, waktu “Merah Putih” tertinggal 0-1, ringtone sms berbunyi tanpa henti. Akun inbox google saya pun makin padat. Jelas, rata-rata pengirim mengumpat, kecewa dan kesal. Timnas kita keok 0-2.
Saya bukannya nggak punya rasa nasionalisme. Saya tentu senang jika timnas bisa menang (meski selalu ada catatan). Tapi hitung-hitungan atas kertas memang tidak menjanjikan. Saya juga tak mau kecewa sehingga saya tak perlu berharap.
Indonesia belum pernah menang dari Singapura di AFF Cup. Salah satu kawan saya bilang, kali ini kesempatannya. Saya tersenyum. Argumen dia jelas. Kita main di kandang, timnas agak mendingan dibanding main di Myanmar kemarin dulu. Saya nggak tahu, dia pakai kacamata model apa melihat perubahan timnas.
Secara skill dan passion, kita rajanya di Asean. Kita punya greget, tapi miskin manajemen permainan. Sepakbola bukan melulu soal nendang dan nyundul bola. Sepakbola adalah soal kerjasama dan koordinasi. Bagaimana menyerang yang baik. Apa yang harus dikerjakan waktu diserang. Main sporadis nggak akan menghasilkan apa-apa.
Saya selalu teguh buat bilang pelatih timnas nggak salah, minimal nggak banyak. Yang harus tanggung jawab pelatih di klub karena pasokan pemain datang dari sana. Dengan liga yang berantakan, manajemen dan skill pemain kita jadi hancur. Akibatnya, timnas main sporadis. Menyerang terus dari menit awal — yang ini saya salut — tapi tanpa hasil.
Singapura beda. Agus Casmir pegang bola di kanan, dua rekannya sudah ada di tengah dan kiri. Di luar kotak penalti, ada dua teman lain yang siap menampung bola muntah. Itu dia manajemen main yang ideal. Selebihnya baru urusan skill, fisik, stamina dan mental.
Selain manajemen yang miskin, kita lemah di fisik, stamina dan sedikit urusan mental. Misalnya, Arif Suyono yang diganti pada menit 50 karena sudah loyo. Itu artinya dia cuma bisa main selama 45 menit???
Kalau begitu kita pakai saja pemain naturalisasi. Singapura buktinya sukses. Saya nggak pernah setuju dengan ide ini. Singapura pakai naturalisasi karena rakyatnya sedikit. Pemain bolanya juga sedikit. Lagipula standar pemain “asing” mereka nggak akan jauh beda dari pemain lokal atau kita. Standarnya akan tetap level Asean, bukan Asia apalagi dunia. Lalu Indonesia mau ikutan. Itu pemain naturalisasi nantinya main di liga lokal. Saya jamin hasilnya sama saja. Pemain kita senang berantem, Christian Gonzales pun begitu.
Soal pembinaan, saya masih yakin kompetisi adalah obatnya. Timnas yunior kita main di kompetisi di Uruguay. Ngapain jauh-jauh. Kenapa kita nggak bikin kompetisi yang bagus di sini. Kata kuncinya, kompetisi.
Kita memang masih sebatas penggembira. Seperti kata Ipul. Sepakbola jelek pun kita dukung, stadion selalu penuh. Padahal isinya cuma tebas kaki dan kerusuhan. Kenapa bola kita yang dulu bisa empat besar Asia justru ringsek. Kini, 10 besar Asia hanya impian. Orang datang ke stadion hanya bermodalkan harapan. “Semoga timnas kita menang.”
Saya justru beda. Saya justru berharap kompetisi kita membaik, karena timnas hanyalah gambaran klub di tingkat atas. Itulah pekerjaan rumah terbesar sepakbola Indonesia.
Selanjutnya, Thailand sudah menunggu. Berdoalah semoga kita tidak dicincang orang-orang Siam itu. Siapa tahu ada keajaiban. Tapi rasanya kok nggak mungkin. Sekali lagi, jangan berharap jika tak mau kecewa.
lebih menarik jika postinganmu muncul tangal 8 hed..!!!!
saya hanya bisa berharap..meski dengan misuh2…
udah lama berhenti berharap…ala lagu sheila on 7 lawas
itulah seninya menonton sepakbola kita yang seperti menunggu Godot. ditunggu dan selalu ditunggu dari generasi terdahulu sampai sekarang. tapi ya itu, cuma ditunggu-tunggu saja. padahal yang ditunggu ngga pernah datang.
lebih parahnya lagi, ngga tau yang ditunggu itu apa. maksud saya, ngga tau perubahan itu akan datangnya dari mana.
lha ketumnya saja (mantan) narapidana je.
lawan thailand, di jakarta kita kalah 0-1, di bangkok kita kalah 0-4
semoga tebakan saya salah
yayaya, suporter timnas Indonesia levelnya msh semoga :p
*setuju ama mas escoret
tau tuh, bola indonesia kok bisa menyedihkan seperti ini
Klo lawan Thailand nanti PSSI menang, ya keterlaluan.
Ta’ tinggal turu begitu gol kedua… Nonton bal yo mung sarana silaturahmi karo adik2 ipar ok… Tetep ra doyan bal (nasional).. Hahahaha..
tak ada yg tak mungkin
walau hanya sekecil lobang jarum jahit……
tapi tetap aja ada kesempatan
saya hanya sekelompok orang yg masih berharap pada sepakbola negeri ini!!!!
maju terus garudaku
gak peduli biaya dan waktu
kami akan selalu mendukungmu
indonesia pernah jadi macan asia
sekarang pun berharap garuda ku akan kembali
terbang tinggi dan mencakarkan kedigdayaan di
benua ini
kami mendukung timnas
bukan pssi bego!!!!!!!!!
wayahe ganti iku pengurus-pengurus liga indonesia! huh….
tetep semangat kang hed..yang penting tetep maen dulu lah timnasnya,…hahaha..
bah bah bah ….
tetep semangat dukung timnas !!
Saya juga tidak mau berharap pada timnas. Sudah terlalu banyak harapan saya pada timnas yang tidak pernah terwujud. Biar mereka main sesuka mereka tanpa dibebani harapan kita. Disekarep wae, kalau orang Jawa bilang.
segitunya ya per”bal-balan” kita. orang2 yg ngurus itu ngapain aja ya
mungkin ada baiknya saya berharap atlet sepak bola diarahkan jadi atlet tinju atau pencak silat..
betul, kalo nglawan singapur memang gue jg ngga gitu optimis. Tp entah kenapa gue slalu menganggap singapur jgn sampe diitung. Soalnya ya tadi itu, mreka pake pemain asing. Kalah lawan singapur anggap aja kalah lawan legiun asing, bukan kalah lawan singapurnya
btw, entah kenapa koq komentator di espn/star saat game indonesia-singapur memuji pembinaan pemain2x muda di Indonesia saat ini. Sempet nyebut2x jg pengiriman pemain keluar. Termasuk nyebut satu nama, kalo ga salah Jajang Nurjaman yah, yg maen di klub brazil (brazil atau argentina ya, lupa…hehe). Yah semoga aja omongan dia bener. Kalo ngga awas ya, soalnya dia mantan pemain bola singapur heheh