RSS You're reading Jangan Berharap pada Timnas article on sekadarblog

Jangan Berharap pada Timnas

Harapan dan kekecewaan tipis jaraknya.

Siapa berharap, dia harus siap menuai kecewa. Begitu kata Zen. Itu sebabnya saya nggak pernah berharap timnas Indonesia bakal menang dari Singapura. Untuk sementara ini begitu.

Siang hari kemarin, ada belasan pesan japri via sms dan email. Isinya nyaris sama; apa Indonesia bisa menang dari Singapura? Saya cuma jawab: pesimistis. Malamnya, waktu “Merah Putih” tertinggal 0-1, ringtone sms berbunyi tanpa henti. Akun inbox google saya pun makin padat. Jelas, rata-rata pengirim mengumpat, kecewa dan kesal. Timnas kita keok 0-2.

Saya bukannya nggak punya rasa nasionalisme. Saya tentu senang jika timnas bisa menang (meski selalu ada catatan). Tapi hitung-hitungan atas kertas memang tidak menjanjikan. Saya juga tak mau kecewa sehingga saya tak perlu berharap.

Indonesia belum pernah menang dari Singapura di AFF Cup. Salah satu kawan saya bilang, kali ini kesempatannya. Saya tersenyum. Argumen dia jelas. Kita main di kandang, timnas agak mendingan dibanding main di Myanmar kemarin dulu. Saya nggak tahu, dia pakai kacamata model apa melihat perubahan timnas.

Secara skill dan passion, kita rajanya di Asean. Kita punya greget, tapi miskin manajemen permainan. Sepakbola bukan melulu soal nendang dan nyundul bola. Sepakbola adalah soal kerjasama dan koordinasi. Bagaimana menyerang yang baik. Apa yang harus dikerjakan waktu diserang. Main sporadis nggak akan menghasilkan apa-apa.

Saya selalu teguh buat bilang pelatih timnas nggak salah, minimal nggak banyak. Yang harus tanggung jawab pelatih di klub karena pasokan pemain datang dari sana. Dengan liga yang berantakan, manajemen dan skill pemain kita jadi hancur. Akibatnya, timnas main sporadis. Menyerang terus dari menit awal — yang ini saya salut — tapi tanpa hasil.

Singapura beda. Agus Casmir pegang bola di kanan, dua rekannya sudah ada di tengah dan kiri. Di luar kotak penalti, ada dua teman lain yang siap menampung bola muntah. Itu dia manajemen main yang ideal. Selebihnya baru urusan skill, fisik, stamina dan mental.

Selain manajemen yang miskin, kita lemah di fisik, stamina dan sedikit urusan mental. Misalnya, Arif Suyono yang diganti pada menit 50 karena sudah loyo. Itu artinya dia cuma bisa main selama 45 menit???

Kalau begitu kita pakai saja pemain naturalisasi. Singapura buktinya sukses. Saya nggak pernah setuju dengan ide ini. Singapura pakai naturalisasi karena rakyatnya sedikit. Pemain bolanya juga sedikit. Lagipula standar pemain “asing” mereka nggak akan jauh beda dari pemain lokal atau kita. Standarnya akan tetap level Asean, bukan Asia apalagi dunia. Lalu Indonesia mau ikutan. Itu pemain naturalisasi nantinya main di liga lokal. Saya jamin hasilnya sama saja. Pemain kita senang berantem, Christian Gonzales pun begitu.

Soal pembinaan, saya masih yakin kompetisi adalah obatnya. Timnas yunior kita main di kompetisi di Uruguay. Ngapain jauh-jauh. Kenapa kita nggak bikin kompetisi yang bagus di sini. Kata kuncinya, kompetisi.

Kita memang masih sebatas penggembira. Seperti kata Ipul. Sepakbola jelek pun kita dukung, stadion selalu penuh. Padahal isinya cuma tebas kaki dan kerusuhan. Kenapa bola kita yang dulu bisa empat besar Asia justru ringsek. Kini, 10 besar Asia hanya impian. Orang datang ke stadion hanya bermodalkan harapan. “Semoga timnas kita menang.”

Saya justru beda. Saya justru berharap kompetisi kita membaik, karena timnas hanyalah gambaran klub di tingkat atas. Itulah pekerjaan rumah terbesar sepakbola Indonesia.

Selanjutnya, Thailand sudah menunggu. Berdoalah semoga kita tidak dicincang orang-orang Siam itu. Siapa tahu ada keajaiban. Tapi rasanya kok nggak mungkin. Sekali lagi, jangan berharap jika tak mau kecewa.

Ϡ

17 Responses to “Jangan Berharap pada Timnas”

  1. escoret says:

    lebih menarik jika postinganmu muncul tangal 8 hed..!!!!

  2. yuswae says:

    saya hanya bisa berharap..meski dengan misuh2…

  3. koko says:

    udah lama berhenti berharap…ala lagu sheila on 7 lawas

  4. bangsari says:

    itulah seninya menonton sepakbola kita yang seperti menunggu Godot. ditunggu dan selalu ditunggu dari generasi terdahulu sampai sekarang. tapi ya itu, cuma ditunggu-tunggu saja. padahal yang ditunggu ngga pernah datang.

    lebih parahnya lagi, ngga tau yang ditunggu itu apa. maksud saya, ngga tau perubahan itu akan datangnya dari mana.

    lha ketumnya saja (mantan) narapidana je.

  5. arya says:

    lawan thailand, di jakarta kita kalah 0-1, di bangkok kita kalah 0-4
    semoga tebakan saya salah
    yayaya, suporter timnas Indonesia levelnya msh semoga :p

  6. nothing says:

    *setuju ama mas escoret
    tau tuh, bola indonesia kok bisa menyedihkan seperti ini

  7. bah reggae says:

    Klo lawan Thailand nanti PSSI menang, ya keterlaluan.

  8. Bangpay says:

    Ta’ tinggal turu begitu gol kedua… Nonton bal yo mung sarana silaturahmi karo adik2 ipar ok… Tetep ra doyan bal (nasional).. Hahahaha..

  9. merah.putih.oren warnaku says:

    tak ada yg tak mungkin
    walau hanya sekecil lobang jarum jahit……
    tapi tetap aja ada kesempatan

    saya hanya sekelompok orang yg masih berharap pada sepakbola negeri ini!!!!

    maju terus garudaku
    gak peduli biaya dan waktu
    kami akan selalu mendukungmu

    indonesia pernah jadi macan asia
    sekarang pun berharap garuda ku akan kembali
    terbang tinggi dan mencakarkan kedigdayaan di
    benua ini

    kami mendukung timnas
    bukan pssi bego!!!!!!!!!

  10. Epat says:

    wayahe ganti iku pengurus-pengurus liga indonesia! huh….

  11. aditya sani says:

    tetep semangat kang hed..yang penting tetep maen dulu lah timnasnya,…hahaha..

  12. didut says:

    bah bah bah ….

  13. aad says:

    tetep semangat dukung timnas !!

  14. Saya juga tidak mau berharap pada timnas. Sudah terlalu banyak harapan saya pada timnas yang tidak pernah terwujud. Biar mereka main sesuka mereka tanpa dibebani harapan kita. Disekarep wae, kalau orang Jawa bilang.

  15. kw says:

    segitunya ya per”bal-balan” kita. orang2 yg ngurus itu ngapain aja ya

  16. mpokb says:

    mungkin ada baiknya saya berharap atlet sepak bola diarahkan jadi atlet tinju atau pencak silat..

  17. Tigis says:

    betul, kalo nglawan singapur memang gue jg ngga gitu optimis. Tp entah kenapa gue slalu menganggap singapur jgn sampe diitung. Soalnya ya tadi itu, mreka pake pemain asing. Kalah lawan singapur anggap aja kalah lawan legiun asing, bukan kalah lawan singapurnya :mrgreen:

    btw, entah kenapa koq komentator di espn/star saat game indonesia-singapur memuji pembinaan pemain2x muda di Indonesia saat ini. Sempet nyebut2x jg pengiriman pemain keluar. Termasuk nyebut satu nama, kalo ga salah Jajang Nurjaman yah, yg maen di klub brazil (brazil atau argentina ya, lupa…hehe). Yah semoga aja omongan dia bener. Kalo ngga awas ya, soalnya dia mantan pemain bola singapur heheh :mrgreen:

Leave a Reply