&mdash December 23rd, 2008 {8}

Kecuali Indonesia, sepakbola di Asia Tenggara itu adem ayem saja. Penontonnya nggak seriuh di sini. Permainan tak greget, walaupun kualitas sedikit lebih beradab.
Itu sebabnya tawuran suporter juga nggak lazim. Apalagi keributan antar pemain seperti layaknya di sini. Kadangkala faktor primordialisme memang dibutuhkan supaya greng.
Akibatnya media pun nggak memberi perhatian besar pada sepakbola Asia Tenggara, termasuk Piala AFF Suzuki 2008. Sepakbola tanpa keributan hingar bingar sama dengan masakan tanpa bumbu. Dalam kacamata loper koran, tidak menjual.
Tapi apakah karena itu maka suporter Singapura berbuat onar sewaktu kalah dari Vietnam di semifinal. Ternyata saya pun baru tahu karena hanya satu media yang menulis, Red Sports Singapura.
Welcome aboard Singapore hooligans!
(hat tip to Jakarta Casual)
hahaha, namanya kalah emang nyesek sek sek…
duh mesakne suporter sing di gebuki
hore indonesa punya teman suporter beringas
Hooo…. ternyata bisa beringas juga ya..
welcome to the club
sokor…..
*respon khas endonesah*
Padahal pemainnya Singapura udah top2 tuh, tapi tetep aja gak bisa ngalahin Vietnam. Saya mendukung Vietnam di final nanti
Ehm… Indonesia dah kalah je….
saya kan produk nasionalis, meski sepakbola kita kisruh di dalam terus-terusan….
waduh gimana kawan2 timkita kalah apakah kita cuma bisa menonton aj mau ikut nendang g boleh nanti dimarahin wasit ya sudah karena memang kita bisanya mengalah saja
Sepakbola memang selalu menyimpan emosi… :d