&mdash December 28th, 2008 {22}
Salah satu kelemahan kompetisi bola di Indonesia adalah soal jadwal. Nggak pernah disiplin. Selalu saja berubah. Jadwal main bisa maju, bisa juga mundur. Dan pemberitahuan bi(a)sanya mendadak.
Bagi pers lebih runyam dan sering mubazir. Capek-capek bikin preview untuk pertandingan hari ini, tiba-tiba laga diundur.
Lebih kacau lagi persiapan tim. Pelatih harus booting ulang program latihan dan mental pemainnya. Pendeknya, semua pihak terkait harus maklum dan sedia repot.
Yang terbaru, Liga Indonesia putaran kedua mundur hingga 27 Januari. Padahal jadwal aslinya 3 Januari 2009. Ini karena timnas mau main di Pra-Piala Asia. 
Saya sadar bahwa bikin jadwal itu nggak gampang. Apalagi untuk kegiatan yang sifatnya berskala nasional. Tapi kok rasanya terlalu naif kalau jadwal berubah hanya gara-gara ada pilkada atau agenda timnas.
Bukankah pilkada atau pertandingan timnas sudah punya agenda sejak awal tahun. Artinya, jadwal mereka sudah ada lebih dulu sebelum penyelenggara kompetisi membuat jadwalnya sendiri.
Dalam praktek umum, jadwal main negara selalu prioritas pertama. Jadi FIFA bikin tembusan ke konfederasi. Lalu konfederasi kirim tembusan lagi ke federasi anggota, baru kemudian federasi rembugan dengan panitia liga masing-masing. Soal ini, jelas Eropa sangat rapi dan kompak. Ketika pada suatu minggu di Inggris ada jadwal pertandingan piala (cup competition), maka begitu pula di Jerman, Belanda, Spanyol, Italia, Belgia, Austria dan sebagainya. Kelihatan sekali sinerginya.
Bagaimana dengan Asia?
Negara anggota AFC memang belum bisa seragam. Sekarang ini, kompetisi di Singapura, Jepang, Malaysia, Korea Selatan dan beberapa yang lain sudah selesai. Tapi di sejumlah negara jazirah Arab malah baru mulai. Indonesia malah masih setengah jalan. Padahal AFC juga punya Liga Champions Asia dan AFC Cup untuk klub dan Pra Piala Asia buat timnas.
Salah satu halangan untuk menyamakan waktu kompetisi di Asia adalah perbedaan iklim. Sebagian punya musim dingin, sebagian lagi tidak — terutama Asia Tenggara. Belum lagi sejumlah negara muslim tentu harus meliburkan kompetisi ketika masa Idul Fitri.
Dengan perbedaan itu, menjadi runyam kala timnas punya agenda tanding. Kompetisi (klub) masih jalan, tapi beberapa pemainnya harus bergabung ke timnas — jika dipanggil. Dalam skala resmi, melepas pemain yang dipanggil timnas hukumnya wajib — kecuali cedera.
Saya lebih suka biarlah kompetisi berjalan walaupun timnas punya jadwal pelatnas dan bertanding. Yang penting, saat timnas main ya jangan ada laga antar klub. Katakanlah klub main sehari sebelum dan sesudah timnas tampil. Klub tetap harus beroperasi. Mereka punya agenda yang teratur (harusnya sih begitu). Ada tanggung jawab terhadap sponsor (jika ada), ada pengeluaran duit yang musti ditutup kembali (misalnya melalui uang tiket penonton). Itu baru soal manajemen. Untuk urusan teknis, tim tentu punya acuan peak performance. Irama permainan tim bisa berantakan saat kompetisi libur, padahal grafik permainan sedang membaik.
Tapi kasihan klub yang pemainnya ditinggal sejumlah pilar ke timnas? Apa boleh buat. Rasanya itu masih lebih baik ketimbang kompetisi diliburkan total seiring agenda timnas. Lebih banyak ruginya.
Pada akhirnya, saya tahu pasti di antara anda akan menjawab: “Bagaimana tidak berubah, wong organisasinya dipimpin eks kriminil.” Ini memang yang paling repot walaupun (seharusnya) nggak semua organisasi berjalan buruk ketika pemimpinnya tidak kompeten. Ya kan?
OOT
Udah hampir 3 hari pssi-football.com kehabisan bandwith. Segitunya kah?
Itu namanya dinamis dan fleksibel, sam. Hanya anak buah Nurdin Sihalid yang bisa begini!
Bandwidth Limit Exceeded
The server is temporarily unable to service your request due to the site owner reaching his/her bandwidth limit. Please try again later.
Apache Server at http://www.pssi-football.com Port 80
hehehhehehhehehehe
setau saya mas, jadwal liga di inggris sana pun yang bikin jadwal bukan orang sembarangan. mereka mempertimbangkan banyak hal termasuk jadwal main timnas. Indonesia? mungkin tembusan dari AFC numpuk di mesin fax dan gak pernah di cek
Ternyata ribet juga ya ngurusin jadwal. Tapi kalo pertandingan timnas dan klub bentrok, ya tetep harus mengutamakan timnas kan? Pemain pilar ‘hilang’, ya udah resikonya, hehe
pokoknya pecat dulu si koruptor dari tampuk pimpinan… terus, ambil tindakan tegas buat semua penonton (tanpa kecuali) yang bikin onar… terakhir, sewa EO dari eropa untuk bikin kompetisi yang jadwalnya fix… heuheue
lho emang dia masih mimpin ?
iya sih gak semua.
para wartawan peliput musti reschedule tiket yo kang huehehe
ngene kok pengen maju, komitmen disiplin dengan jadwal ae susah…
agenda tak semestinya dipindah2 seenaknya sendiri. akan membuat pemerhati sepakbola kecewa dengan liga Indonesia.. Moga ke depan PSSI mampu bergerak dan disiplin..
mas hedi sampeyan dadi ketua BLI wae :p
*waduh suwe ga nonton bal live di stadion…
bener2 tim yg fleksibel
Mungkin karena di negara kita ini ada “Jam Karet” kali…
tetep ribet ya…. tapi bukankah dari dulu memang suka molor-molor gitu…
ganti dulu semua pengurusnya…
Mau ngomong apa?
saya gak suka bola sih
lagi-lagi harus berkompromi…
lho bisa sekacau itu to? baru tahu saya.
tapi wajar ding. bikin jadwal dua tahun kedepan di sini itu sulit.
makanya orang asing kadang menyesuaikan diri.
hidup jadwal “to be announced”!
OOT: selamat natal dan selamat taun baru, bleh
wah .. aku blom pernah liat kompetisi bola di tanah air juga liga Asia
memang yg baru keluar dr penjara itu tetap nggak malu jadi ketua PSSI ya ?
btw … happy new year 2009 ya
Happy New Year 2009 yaaa kang hedi….
Mas saya heran, kenapa di Indonesia para ketua federasi ato persatuan cabang olah raga kebanyakan pejabat, eks pejabat dan jenderal. Kenapa mas? Kenapa?
Lho ini nyambung gak ya dengan topik jadwal? Lha yo mbuh.
[...] anda tahu bagaimana citra kompetisi Indonesia. Tidak rapi, rusuh, berantakan. Belum bicara sampai soal mutu. Kompetisi sering terhenti dan perencanaannya buruk. Ketika klub [...]