RSS You're reading Bendera Kuning di Tangerang article on sekadarblog

Bendera Kuning di Tangerang

Akhirnya klub yang bangkrut di Indonesia bertambah. Persikota Tangerang menurut rencana akan mewafatkan diri. Faktor keuangan adalah kambing hitam.

Apa boleh buat, inilah kompetisi. Cuma untuk mereka yang kuat dan sanggup. Itu esensinya. Baik prestasi melalui klasemen atau lewat manajemen.

Persikota tak mampu lagi mencari dana untuk ikut Liga Indonesia Divisi Satu. Seluruh perusahaan di Tangerang sudah dimintai bantuan, tapi nihil. Maklum ini jaman krisis keuangan. Mengemis ke APBD pun tak mungkin walau Persikota tim Pemda.

Kesalahan nggak sepenuhnya ada pada mereka. Ini cuma kesalahan situasi yang belum mendukung profesionalisme klub dan industri sepakbola.

Kemarin, saya sempat bertemu dengan seorang pemilik klub pro di Indonesia. Beliau mengeluh sulitnya dapat keuntungan di sepakbola Indonesia.

Untuk membesarkan hatinya, saya cuma bilang: “Pemilik klub di Indonesia itu orang kaya, Pak. Anda buang duit miliaran.” Dia pun tersenyum. Kebetulan memang dia kaya raya.

Manajemen Persikota dan banyak klub plat merah di Indonesia memang belum profesional. Andai iya, banyak repotnya juga. Kompetisinya nggak memungkinkan.

Andai sebuah klub seperti Persikota punya banyak sponsor. Pabrik besar bertebaran di Tangerang. Apa susahnya satu perusahaan ditawari paket sponsor 1 miliar per tahun? Gampang, tapi bagaimana timbal baliknya? Kewajiban klub adalah memasang eksposur buat sponsornya. Di pinggir lapangan, kostum, perangkat teknis tim, papan jumpa pers dan siaran langsung televisi adalah sebagian di antaranya. Semakin sering muncul semakin bagus. Ibarat iklan.

Tapi anda tahu bagaimana citra kompetisi Indonesia. Tidak rapi, rusuh, berantakan. Belum bicara sampai soal mutu. Kompetisi sering terhenti dan perencanaannya buruk. Ketika klub seperti Persikota mau menyusun proposal sponsorship, mereka sudah bingung duluan. Mereka pasti ragu kewajiban timbal balik bagi sponsor akan terganggu. Selanjutnya, mereka tinggal berdoa dana sponsorship tidak dipotong di tengah jalan.

Saya masih percaya sepakbola Indonesia punya prospek industri yang bagus. Tapi sisi pendukungnya yang belum dieksploitasi. Wafatnya Persikota cuma ekses dan semoga ini bukan pionir.

Ϡ

9 Responses to “Bendera Kuning di Tangerang”

  1. pudakonline says:

    jadi intinya masih tetep ruwet toh kang?

  2. Raffaell says:

    Iya semoga aja, semoga jadi cambuk ? mungkinkah ?

  3. escoret says:

    kalo ndak salah baca lho hed…
    .
    .
    .
    .calon pelatihnya belom punya SIM melatih yo..???
    bener tho..???

  4. yah, memang perlu waktu utk memperoleh prestasi di sepakbola kita.

  5. mayssari says:

    kapan ya, sepakbola benar2 menjadi olahraga favorit dan bergengsi semacam di inggris, italia… ah mimpi saya barangkali

  6. tukang ketik says:

    kalau selalu membandingkan sepakbola indonesia dengan sepakbola Italia, Inggris, Jepang, rasanya tidak akan ada habisnya. Jadinya kita akan mengolok2 terus keterpurukan sepakbola Indonesia.

    sepakbola indonesia tidak akan maju biarpun disokong dana sebesar apapun oleh instansi manapun karena dari manajemennya sendiri yaitu pemerintah, tidak mendukung. karena Pemerintah pun masih repot ngurusin kemiskinan, jadi, sampai kapanpun, sepakbola Indonesia tidak akan pernah maju.

  7. oon says:

    hiks…turut berduka :(

  8. gambarpacul says:

    susah juga yah punya klub pro disini…

  9. imcw says:

    Para pelaku sepak bola Indonesia sebenarnya sedang menggali lubang kuburannya sendiri.

Leave a Reply