&mdash January 9th, 2009
Suara ribuan suporter Sevilla masih memenuhi setiap rongga Stadion Ramon Sanchez Pizjuan pada Rabu Malam yang sangat dingin di kawasan Andalucia, Spanyol. Mereka masih semangat karena tim pujaan sedang memimpin 1-0 berkat gol si orang Brasil, Luis Fabiano.
Dinginnya udara malam membuat gerakan, suara dan nyanyian mereka makin keras. Apalagi gol kedua lahir pada menit ke-40. Kiriman bola dari Jesus Navas diselesaikan pria muslim Mali, Frederic Oumar Kanoute, dengan sontekan ringan. Akhirnya Sevilla menang 2-1 atas Deportivo La Coruna.

© Marca
Bukan hanya suporter dan tim yang gembira. Kanoute mendedikasikan golnya untuk para penduduk di Palestina yang sedang digempur Israel. Selain dengan gol, dia pun menunjukkan simpatinya dengan sebuah kaus hitam bertuliskan Palestine di balik kostum putih Sevilla yang dikenakan. Sebuah aksi yang mulia, lepas dari kepercayaannya sebagai umat muslim.
Tapi Kanoute mungkin lupa. Atau mungkin dia tidak peduli bahwa aksinya itu dilarang di lapangan hijau. Dilarang bukan dalam arti masyarakat sepakbola tidak berperikemanusiaan. Sepakbola selalu menggunakan para pemainnya untuk aksi humanitarian. Tapi membawa isu perang Palestina dan Israel, apapun itu, ke dalam lapangan adalah zona merah. Itu isu politik. Setidaknya begitu menurut pengelola kompetisi di Spanyol (RFEF).
FIFA sudah lama menolak politik ke dalam sepakbola. Bahkan pemerintah suatu negara pun dilarang ikut campur ke dalam federasi sepakbola.
RFEF pasti nggak mau aksi Kanoute jadi sinyalemen. Spanyol masih punya duri dalam daging. Basque dan Catalunya adalah sempalan. Mereka terus menerus merasa bukan bagian dari Spanyol. Bahkan tim Basque seperti Athletic Bilbao pun pernah membawa spanduk menuntut kemerdekaan. Tentu RFEF nggak mau hal seperti ini berlangsung abadi.
Menunjukkan peduli terhadap sesama adalah mulia, bahkan harus. Namun dalam sepakbola harus dilihat dulu konteksnya. Memang, Kanoute pasti tak peduli. Dia tahu akan kena kartu kuning. Dia sadar akan mendapat hukuman. Itu sebuah harga untuk kepedulian. Dia merasa saudaranya di Jalur Gaza teraniaya. Dia hanya harus berbuat sesuatu. Kanoute dan RFEF hanya memainkan peran masing-masing.
save palestina!
aku wes nebak sampeyan mesti arep nulis iki.
*lonjak-lonjak*
tp kalimat terakhirmu manis, semanis senyum anang di balik jasnya yang legendaris itu.
*nang, bespren yo…”
zen…. haha…. *salaman*
Yap, risiko dan harga yang harus dibayar. Namun tak mengapa kalau hasil yang didapat melebihi dari risiko dan harga itu…
Kita semua memang sedang berperan.
semoga tercipta damai di dunia
Salut untuk keberanian Kanoute.
kanoute sudah melakukannya. jadi, apa yang bisa aku lakukan bagi mereka?
***bertanya pada diri sendiri***
hahahha aku baru baca kemaren. tak papalah kenak sanksi. khan jd ngetop. duta besar palestina untuk spanyol aja ngucapin keterharuannya
[...] memperoleh kartu kuning dari wasit dan dihukum denda oleh RFEF(PSSInya spanyol). Seperti juga tulisan Mas Hedi, Kanoute tidak salah begitu juga dengan RFEF, mereka hanya melakukan apa yang harus mereka [...]
Gimana ya si Ben Naim dan Benayoun ?
@iman
Ben Haim mas bukan Ben naim :))
Wah..
saya pendukung sevilla
soal benayoun, sayang ngga ada sheffield wednesday/sheffield utd di premier league. patut ditunggu kalau liverpool ke kota yg katanya berpenduduk muslim terbanyak di inggris
Salut buat Kanoute, dan semoga dukungan ke Palestina semakin besar setelah melihat tindakan ini
Salut buat Kanoute yang berani mengambil resiko kena kartu
hebat…mantap, kanoute your the best, semoga Allah SWT meringankan kakinya dalam setiap aksinya dilapangan…
VIVA palestine and VIVA for kanoute..