&mdash January 27th, 2009 {8}
Rafael Benitez pusing berat. Dua kali main lawan Everton, musuh sekota Liverpool — tim asuhannya, cuma bisa imbang 1-1. Padahal semua orang tahu Liverpool punya attacking style yang menawan.
Ibarat kereta, Liverpool adalah TGV yang super cepat. Ibarat sembilu, ketajamannya cuma kalah dari Barcelona. Tapi melawan Everton, semuanya gaib tak berbekas.
Memang, kata Benitez, lini depannya harus diasah ulang. Tapi yang paling disesalinya adalah taktik totally defend ala Everton.
Salahkah memakai taktik bertahan? Buat saya, tidak. Demi keberhasilan, strategi model itu sah.
Everton pasti kepingin melaju lebih jauh di Piala FA. The Toffees juga membidik faktor lain. Menjamu Liverpool di Goodison Park dalam label Derby Merseyside di partai replay adalah jaminan profit. Belum lagi bicara soal gengsi sekota.
Banyak contoh bagaimana peran taktik (bertahan) menjadi dasar kesuksesan. Yunani merajai Eropa tahun 2004 karena faktor gaya main bertahannya. Italia menjadi jawara dunia karena peran catenaccio — pertahanan ala grendel, walaupun sekarang gaya itu mulai luntur. Kecuali taktik diving mereka.
Indonesia mungkin akan jadi bulan-bulanan jika bermain terbuka melawan Oman kemarin dulu.
Setiap tim pasti berhitung. Dalam kapasitas Liverpool vs Everton, tim kedua pasti sudah mengukur diri. Mereka tahu tak semua orang bisa seperti David yang unggul atas Goliath walaupun kalah modal. Menantang Liverpool di Anfield dengan permainan terbuka cuma akan membuat kiper Tim Howard babak belur. David Moyes, sang pelatih, tahu itu. Paling tidak, dia sudah punya kiat bagaimana membendung tim ofensif model Liverpool.
Tapi dari kacamata permainan dan hiburan, tentu gaya bertahan mengundang cemooh. Pertandingan menjadi monoton.
Bagi penonton netral, dia bisa pulang lebih cepat dari stadion. Andai memegang remote control, kanal tv bisa berubah secara prematur. Pada akhirnya, semua memang soal pilihan — terutama bagi tim yang bertanding. Sedangkan untuk penonton, harap terima jadi. Atau kalau punya subtitusi, silahkan cari pertandingan lain.
Jangan lupa, Liverpool yang punya “attacking style yang menawan”, kaptennya juga jago diving tuh.
Epreton lawan Liprepul emang klasik. Kayak nongton saudara sekandung antem-anteman. Mau babak belur-babak blundas, gubrak-klontang, kalo sudah urusan cari perhatian ortu apapun dipakai.. termasuk urusan pakai cara lempar batu sembunyi tangan.
Maka mau dipensip atau menyerang, hasil tetap yang jadi ukuran. Satu mau menang, satu maunya gak kalah ajah udah syukur.
Itulah Sepak Bola…. akhirnya BECKHAM bikin GOAL
lah kalo kita nonton Indonesia, saya kadang bingung kang, Nasionalisme atau memang kita tak punya pilihan
Ada apa manggil saya ?
Saya suka Indonesia dimasukkan dalam keberhasilan taktik defensifnya waktu melawan Oman hehehe…
iya om pindah cenel prematur ke tennis oz open..eh :p
Melawan tim yang sama dalam waktu yang berdekatan, memang menyulitkan bagi Benitez. Apalagi partai derby, kayaknya problem utama bagi Rafa adalah kontrak
hehhee…takut belum diperbarui nantinya makanya The Reds susah menang. Apalagi, Udah cukup lama Pool gak jadi jawara EPL, pas di atas eh seperti kepanasan pakai kursi goyang.