ketika sepakbola bikin penasaran

With the majority of their revenue streams already secured for the current season, while clubs are not recession-proof, they are relatively recession-resistant. – Paul Rawnsley, director in the sports business group at Deloitte.

Ungkapan dari cuplikan berita di Reuters itu cukup lucu. Ketika semua orang berhemat akibat resesi ekonomi, sebagian klub bola justru jor-joran beli pemain. Yang dibeli pun bukan golongan murah meriah. Mungkin mereka penganut paham obat resesi adalah konsumsi.

Dari awal krisis keuangan global, pengamat bola berhitung dan bertanya. Apakah (industri) bola bakal kena imbas? Jawabannya 50-50. Sebagian percaya, sebagian lainnya tidak.

Saya sendiri masuk golongan yang percaya sepakbola agak kuat dari serangan. Bukan murni kebal terhadap krisis, tapi bola tidak rentan. Bentengnya mungkin terbuat dari baja kelas wahid.

Sebenarnya ada krisis di bola, tapi lebih banyak dari kelas penonton — bukan klubnya, apalagi liganya. Kalaupun ada klub, pasti dari divisi bawah. Sebagian klub di Inggris menurunkan harga tiket supaya bisa dijangkau suporternya. Harga barang dagangan (merchandise) juga ikut turun. Tapi buat klub yang punya basis pendukung kaya, harga tiket justru naik. Manchester United dan Chelsea adalah contohnya. Jika kemudian klub dikatakan sedang krisis, maka bisa jadi pemiliknya yang bangkrut. Kekayaan Roman Abramovich katanya menurun drastis hingga Chelsea digosipkan bakal dijual.

Bahkan klub seperti Manchester City dan Tottenham Hotspur tetap belanja pemain di bursa transfer Januari 2009 yang katanya sepi. Lepas dari pemiliknya yang orang kaya, belanja hebat di masa susah pasti jarang terjadi kalau bukan di bola.

Seperti yang dibilang Deloitte, klub dan liga sudah mengamankan pundi keuntungan sejak lama. Mereka memupuknya sejak dulu. Misalnya, Piala Dunia yang kontrak sponsornya bisa lebih dari 5 tahun dan menggunakan klausul penalti yang besar bila ada pihak yang ingkar di tengah perjanjian. Itu sebabnya dalam bola berlaku kontrak yang panjang — entah untuk sponsorship atau pemain. Karena resikonya besar, satpam-nya pun harus garang.

Bila dilihat dari sisi hak siar televisi akan bikin heran lagi. Bundesliga Jerman mencatat rekor baru keuntungan hak siar untuk paket 2009-2013. Padahal negosiasi dibuat ketika krisis terjadi. Krisis dipercaya pengamat tak akan memengaruhi sektor hobi dengan ikatan emosional tinggi seperti suporter dengan klubnya. Suporter akan tetap berbondong-bondong ke stadion, manteng di depan televisi atau ramai-ramai memenuhi bar sambil pegang bir.

Hidupnya geliat suporter membuktikan serasa tak ada krisis di bola. Bir, makanan ringan, tiket pertandingan, merchandise tim, pesanan hak siar, iklan tv dan iklan stadion ibarat bahan bakar. Selain industrinya jalan terus, negara juga dapat pajak dari transaksi. Artinya bola memberi nafas industri lain.

§194 · February 4, 2009 · Sepakbola Umum · Tags: , , , , , , · [Print]

11 Comments to “Melawan Resesi”

  1. edy says:

    mungkin karena nonton sepakbola jadi hiburan tepat di kala krisis, makanya klub-klub berusaha jaga mutunya

  2. nothing says:

    di jaman resesi dunia, pekerjaan sangat susah juga pendidikan. di sudut-sudut jalan banyak pengangguran, jadi preman tuk cari makan….
    sepak bola pun tak lepas dari premanisasi

    walah…ngomong opo ayas iki

  3. omoshiroi says:

    memang huebat industri sepak bola itu (di negara maju lho, bkan di endonesha)..
    saia jugak heran, lagi krisis tapi jual-beli pemain tetep menggeliat..
    ouw ternyata bgini tho critanye,,

  4. Epat says:

    salut sama klub arema, mampu bertahan dari berbagai krisis meski tak pernah mengandalkan dana pemerintah.

  5. alris says:

    Hidup bola sepak. Kalo dikita begitu gak didukung APBD klubnya langsung sempoyongan dan sering gulung tikar.

  6. imcw says:

    Kalau di Indonesia sepak bola lebih ke krisis mental. :)

  7. oon says:

    sepakbolanya wong pinter ya gitu xixixi…
    disini krisis gak krisis, sepakbola hidup enggan gak mati-mati tapinya…alakadarnya saja yang penting petinggi organisasi sepakbolanya kaya

  8. agustri says:

    yang duitnya banyak enak…:) yang gak ya klenger…

  9. bangpay says:

    mas, ono gosip grup dalam negri sing arep didol ra?? rep tuku ki.. (mbayare nganggo godhong!)

  10. mpokb says:

    mungkin juga ada yang cari tambah2an uang pake judi bola.. waks!

  11. masicang says:

    dulu pas krisi ekonomi indonesia lagi hot-hotnya. ternyata para demonstran masih tetep nonton piala dunia lho..hehehehe

Leave a Reply