&mdash February 20th, 2009 {19}
Beberapa tahun lalu, blog World Cup (BWC) ditegur FIFA karena memakai logo resmi Piala Dunia. Pengasuh blog gentar. Akhirnya secara sukarela membuat logo sendiri. “Takut masuk penjara,” begitu alasannya.
Yang terbaru, giliran The Offside diancam untuk tidak memasang emblem klub Premiership di post blog mereka.
Kesal? Lucu? Tragis? Mungkin. Saya pun tak setuju pelarangan membabi buta model ini.
BWC legowo karena nama blog mereka kebetulan sama dengan hajat FIFA. Dan logo Piala Dunia memang terdaftar sebagai merek dagang, walaupun BWC tidak jualan.
Lagipula, alasan agar logo asli tidak digunakan terlalu mengada-ada. BWC menertawakan tuduhan “aktivitas merusak citra FIFA dan para sponsornya”. Apanya yang rusak? Sementara The Offside ogah dituduh mengeruk keuntungan (uang) di balik penggunaan logo.
Untuk kasus The Offside bisa memancing tawa sinis. Blognya tidak cuma soal sepakbola Inggris, tapi global. Bila mayoritas post-nya lebih berwarna Inggris, itu karena kebetulan kompetisi di sana sedang booming.
Pemakaian logo juga cuma sekadar untuk identitas post. Bila benar ada untung materi, katakanlah iklan, itu muncul karena kualitas (post) blog. Bukan karena logo. Nyaris nggak berbeda dengan suporter yang bebas memakai logo klub idola.
The Offside mengatakan ancaman adalah wujud “penyakit gila kekuasaan dan uang”. Mereka bahkan menyebut orang-orang belakang Premiership menderita kelainan jiwa (OCD).
Liga Premier seharusnya berhutang budi pada dunia internet dan blog. Salah satu penunjang kesuksesan mereka adalah internet. Tapi mereka nggak sadar, terutama para pengacaranya. Saya lebih setuju mereka bidikkan senjata ke pelanggaran nyata, misalnya penjiplak kostum replika. Tak perlu ke Indonesia, mampirlah ke Thailand. Di sana prakteknya jauh lebih banyak dan kualitasnya nyaris sama dengan aslinya.
PERTAMAX?
Nggak pengen pasang logi ISL di sini mas hedi?
*ngacir
AYO BOIKOT EPL!!
gawe logo singo edan wae mas.:)
logo iku artine longgar kan bung?
wah kalo thailand jangan di tanya, mereka mang jagonya ngebajak baju.
.
Kok sityu tau kalo buatan Thai bisa sebagus aselinya ???
punya ya ???
wah baru tahu mas. kalao ada model beginian.. maklum wis ga liputan olahraga, saiki di kon liputan kriminal, sanggong polresta
@ Galih: ISL gak menjual


@ Bagas: ini pasti suara penggemar Serie A hahaha
@ Agus: ga ate logo, gus
@ Mbelgedez : beli sih nggak, mas…aku ga punya replika kostum bola, kecuali arema malang
yg di thailand aku liat sendiri dan kebetulan ndok taman anggrek yo ono
@ Wahyu: wong iki ga muncul ndok berita kok, cuma ndok blogosphere
blog bola yang satu ini tidak terdapat logo sama sekali, apakah karena alesan-alesan diatas itu kang? hehehe
Lha masang logo klub kok gak boleh?
bukannya malah untung dapat pemberitaan…
thailand jago banget yak dalam hal replika. lha toket ama hidung aja bisa mirip aslinya gitu.
btw, indo mau hire hiddink ya buat persiapan WC ?
sebegitunya hak cipta dijagain
kaos made in thailand jg ada di jogja, tp sablon timbulnya gampang lepas
walau harganya beda sekitar 100rb-an ama aslinya..
gimana kalau EPL mampir ke sebuah kios di mangga dua,..banyak kaos kaos dengan logo EPL disana. He he..
Kayaknya dengan logo gampang nginget gitu
kan malah dipromosik’e
hihihi,komen’e dian bikin ngikik
pasang logo saya boleh kok… gak dilarang sama sekali
logo gambar foto saya bebas kok untuk diedarkan…
Jadi ingat game Guitar Heroes pun didamprat sama perusahaan rekaman yang merasa kurang dapat duit dari game tersebut…
Itulah yang namanya bisnis, Mas. Logo sudah menjadi trade mark alias merek dagang suatu klub atau perusahaan.