&mdash February 26th, 2009
Milis Aremania sedang hangat. Ada suara pro kontra soal pengampunan hukuman mereka dari PSSI. Konon, grasi datang setelah ada oknum Aremania yang menghadap Nurdin Halid (NH).
Seorang rekan kemudian bertanya apa pendapat saya.
Bertemu Nurdin Halid (NH) untuk berharap pengampunan adalah soal kejantanan dan kerelaan. Nggak banyak suporter Indonesia yang mau sowan ke NH — apalagi buat minta jatah istimewa. Yang umum terjadi selama ini justru demo supaya NH mau mundur.
Tapi buat saya, masalahnya bukan soal mendatangi atau menghindari. Pun bukan masalah rela atau enggak.
Hukuman buat Aremania seharusnya tak perlu dianulir. Juga tak perlu ada ampunan bagi Cristian Gonzalez, Yoyok Sukawi dan Kurnia Mega.
Sanksi dibuat untuk pembelajaran. Supaya di masa depan nggak ada lagi kerusuhan penonton, tawuran pemain dan menganiaya wasit. Agar bola kita lebih beradab. Biar iklim bola kita lebih cerah.
Dalam kasus hukuman dari komisi disiplin, NH terlalu banyak turut campur walau legal. Rasanya PSSI nggak perlu punya komdis bila keputusan mereka bakal dianulir di kemudian waktu. Itu dagelan nggak bermutu.
Tapi apa daya. Bola Indonesia memang sarat politis. Cuma di Indonesia, para pengurusnya terlalu banyak bicara dan mengurus hal detil. Kalau situasinya jadi lebih baik mungkin masih bisa ditolerir.
Mungkin media juga punya kesalahan karena terlalu sering meminta komentar ketua, sekjen atau direktur. Padahal ada juru bicara. Bahkan seorang Joko Driyono sebagai direktur liga selalu menjadi corong apapun isunya. Sampeyan direktur atau jubir?
Saya jarang menemukan hal yang sama di Liga Italia, Inggris, Spanyol atau Jerman. Anda akan kesulitan mencari komentar ketua FA Inggris bila suporter Inggris berbuat onar. Anda juga harus memborong banyak koran kalau mau tahu komentar presiden federasi Italia bila wasit berbuat curang. Itu pun belum tentu ada.
Ini memang sedikit dari banyak problem di olahraga Indonesia, terutama sepakbola. Grasi adalah hak presiden (negara), bukan organisasi olahraga.
itulah kalo koruptor jadi ketua pssi. sebaiknya pssi dibekukan aja. cuma menghabiskan duit rakyat…
Memang nggak perlu di hapuskan hukumannya, Nurdinnya saja yang mundur
Cocoke Nurdin iku disambel trasi wae sam!
saya sih ga terlalu setuju kalo semua kasus (terutama yang berat-berat) di grasi… ga ada efek jeranya..
di ganti sam hedi
tapi saya setuju kalo nurdin mundur,
wow… ada grasi juga rupanya di mahkamah pengadilan sepak bola. thx infonya
itu caranya nurdin buat ngambil hati aremania yg selama ini emang berseberangan.
yah, PSSI
yaah, nurdim halid
yaaah, begitulah
Kolem milis sing endi, Sam? Pengen kolem pisan..
Maklum, ayas kan Aremania murtad
Sing mbalesi koyok e akeh sing Kera Ngalam iki
wkowkwok
Mungkin NH menganggap PSSI sebagai wilayah teritorial negara kekuasaannya, jadi pakai grasi seperti presiden..
Bingung bagaimana kekuasaan NH yang absolut di PSSI ?
NH ora tau diajak ngopi bareng ambek arek-arek bek e kang?
emang disini apa2 kebanyakan ngomong mas hehehehe..
tapi don’t worry..sepak bola malaysia jauh lebih bobrok dari kita..
mereka malah suka muji2 sepak bola kita..hehehehehe
ya begitulah *keluh*
masalahe iki Arema, gengsi opo uduk yo …:) hehehe, pancet ae ketume. waleh.
ada komdis,komding….gelinding terus ditendang maneh.
Mungkin NH juga sempat diuntungkan oleh grasi grasi seperti ini.
turunkan NH,,,
walalupun saya seporter PSIS,
saya kurang setuju YS di bebaskan,,
kalo emang salah, ya hrs di hukum,.,.,
TITIK.
semoga NH cepat lengser. drpd hancur pssi
klo saya malah dari awal sudah ragu pssi bisa konsisten dengan sanksi 2 taon itu. pssi bukan negara, bukan hakim, aremania juga gak menunjuk individu tertentu, jadi dari awal sudah nggak jelas.
sangat abslout, mas
Masalahnya PSSI adalah negara kecil sepakbola Indonesia mas, sepakbola Indonesia adalah komoditas politik, belum menjadi industri. Lihat iklannya seorang politisi palembang yang mendompleng kesuksesan Sriwijaya FC.
Grasi adalah sebuah ruangan yang digunakan untuk menyimpan kendaraan.
.
Dulu sayah demen banget sama AC Milan….