RSS You're reading Kegilaan Ses(a)at article on sekadarblog

Kegilaan Ses(a)at

Hampir tengah malam, udara kota Manchester masih diselimuti dingin menusuk tulang. Namun tak cukup untuk membuat para pendukung Setan Merah menggigil. Mereka bersorak di sekitar Old Trafford ditemani berbotol-botol bir.

Mereka euforia menyambut kemenangan 2-0 Manchester United atas juara Italia, Inter Milan. Suporter pun merasa perlu menyanyi untuk senor Jose Mourinho, pelatih Inter.

“Go home, Mourinho….go home, Mourinho.”

Kebetulan, di dekat gerbang VIP, Mourinho yang ingin pulang justru dicegat kamera televisi. Dia diberondong pertanyaan wartawan tepat di depan gerombolan suporter MU.

Lagi-lagi, udara dingin tak cukup mendinginkan si macho dan ganteng dari Portugis. Wawancara selesai, dia melangkah tenang ke gerombolan seberang. BAM! Dia menempeleng wajah seorang suporter berumur 40 tahun. Selepas itu, dia naik ke bis tim dan pulang ke hotel untuk tidur — entah obat apa yang harus diminumnya agar bisa pulas.

Dua suporter MU yang berada di sebelah korban, Steven Mace dan Dean Vickers, sangat terkejut. Mourinho memang sering meledak-ledak. Dia tak suka basa-basi. Dia selalu bicara apa adanya. Meski kerap bersikap layaknya jagoan, dia bukan kelas preman parlente Cendana. Juga bukan anggota kehormatan mafioso Italia yang senang main belakang walau tabungannya di Swiss saat ini ditopang mafioso tajir minyak Massimo Moratti.

Mourinho cuma manusia biasa. Dia memilih jadi tukang pukul yang sebelumnya tak pernah dilakukan — entah saat bersama FC Porto atau Chelsea.

Mungkin dia frustrasi. Suka atau tidak, dia sekarang mewakili masyarakat sepakbola Italia. Malangnya, malam itu dan sebelumnya bukan hanya Inter yang terguling. Tapi juga Juventus dan AS Roma. Semuanya tumbang oleh tim Inggris — negara yang sangat akrab dengannya.

Mourinho melengkapi keterpurukan Italia. Kalah di dalam lapangan, juga di luar lapangan.

Hanya karena malam itu, merosotnya Italia punya jawaban jelas. Mace dan Vickers menyebut tindakan Mourinho adalah kegilaan sesaat.

Di Italia, kegilaan ses(a)at jutsru berlangsung dari minggu ke minggu. Kekerasan, dalam bentuk tawuran penonton, membuat sinar (liga) Italia makin kalah dari Inggris, Spanyol dan Jerman.

Ϡ

10 Responses to “Kegilaan Ses(a)at”

  1. nothing says:

    kuwi wis kebukti ngampleng to??

  2. hedi says:

    @ Wahyu: belum sih, tapi menurut media Inggris dan Italia, minimal ada kontak walaupun belum tentu ngampleng

  3. zam says:

    tak kiro dirimu lagi ngeliput ning Old Trafford, kang.. :D

  4. Bagas says:

    Tak pikir ini posting tentang teater mimpi yang diobrak-abrik kawanan burung bangau.

    Yup, italy sedang berduka.

  5. Nazieb says:

    Yah, mungkin dirinya bisa sedikit tersenyum melihat tim yang mengandaskan pasukannya itu dibantai 4-1.

    Mungkin juga dia bisa bicara kepada wartawan:

    “Itulah akibatnya kalau Anda berani mengalahkan tim saya, Anda akan mengalami kekalahan yang jauh lebih menyakitkan lagi..”

    :D

  6. bangsari says:

    sepertinya maurinho menjadi muspro sejak pindah ke italia. orang itali itu anti kritik, ndak elegan dalam berdebat dan srudak sruduk.

    sudah sewajarnya italia tenggelam…

  7. mungkin ketularan atmosphere liga Italia yang kadang vandalisme…

  8. hanny says:

    ouch. ironis. saya ingat beberapa tahun lalu ada petinju kita yang mengalami nasib yang kurang-lebih sama. mungkinkah hal semacam ini kemudian dianggap “memang sudah waktunya” atau akankah ada secercah harapan bahwa para pengurus akan belajar dari sini dan menetapkan langkah-langkah untuk melindung para atlit-nya?

  9. hedi says:

    @ Hanny: kamu ga salah naruh komentar kan? ;)

  10. hanny says:

    @hedi: salah :D hihihi harusnya dipostingan yang lain :D *baru nyadar*

Leave a Reply