Saya selalu khawatir dan sekaligus heran dengan permainan kasar nan primitif sepakbola Indonesia. Khawatir karena cedera parah sangat mungkin terjadi. Heran karena cedera parah justru sangat jarang terjadi. Bahkan patah kaki pun bisa dihitung dengan jari.
Tapi kini saya mendapat jawaban.
Pemain PKT Bontang, Jumadi Abdi, menemui ajal. Usus 12 jarinya robek dan menimbulkan luka. Infeksi pun menjalar ke organ penting lain. Operasi digelar, tapi takdir terlalu kuat untuk ditolak.
Miris bila membaca kesaksian soal Jumadi di koran Top Skor.
Saya tidak mau meladeni permainan kasar. Saya ingin menjadi pemain bola, bukan tukang berantem di lapangan,” kata Jumadi, beberapa tahun lalu.
Jumadi yang tak mau main kasar, tapi mati karena dikasari lawan.
Mudah-mudahan ini yang terakhir. Sepakbola Indonesia butuh perbaikan, bukan kematian — walaupun sudah sekarat selama bertahun-tahun.
Selamat jalan, bung. Semoga kepergianmu bisa membangkitkan sepakbola Indonesia.
Turut berduka cita…
Seorang pahlawan mati dengan terhormat.
itulah sebabnya, saya mendukung para pejabat PSSI dipaksa mundur. terutama itu si besoes.
kebiasan mereka itu, terlalu menyepelekan persoalan.
*shock*
Turut berduka cita. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.
*masih shock*
ikut belasungkawa…
semoga keluarganya diberi ketabahan
siapa yg bertanggung jawab?
@ Ari: ya ga ada, tapi pembina dan pemain harus introspeksi aja
saya dulu pernah berbincang dengan pemain sepakbola tarkam, mengenai susuk yang dipakaikan di kedua kakinya..
dia bilang, susuk tersebut membuatnya bebas dari cedera kaki, meski dia telah ratusan kali dikasari dan juga mengkasari [ini mungkin bisa jadi jawaban buat mas hedi..cedera parah di pemain sepakbola di indonesia jarang terjadi]
Semoga tragedi semacam ini, main kasar di sepakbola tak lagi ada, dan biaralah sepakbola jadi sesuatu yang suci dan bersih
@ Wahyu: Aku juga ngerti soal itu, tapi dah beberapa tahun terakhir nyaris ga ada lagi, karena tiap tim juga pake penangkal. Prakteknya mirip pertandingan tinju amatir yg ga ada lagi pake ajian di sarungnya.
ngenes sekali …. apa nggak ada yg dituntut atas kematiannya ?
pemain sepak bola ada “asuransi kecelakaan kerja” gak sih?
Turut berduka cita.
sempet kaget ndak percaya, melihat penampilan terakhir saat melawan Persib kalau gak salah. Salah satu anggota timnas yang sempat mencetak gol melalu tendangan jarak jauh.
komdis pasti ga berdaya soal beginian
Turut sedih mendengarnya.
Kita tunggu saja bagaimana PSSI meresponnya, apakah njegidek atau membuat solusi2 agar pemain bisa lebih terlindungi.
edan tenan…
Perforasi duodenum, alias pembolongan usus, adalah penyakit yang sangat serius dan bisa berujung kematian kalau tidak ditanggulangi. Atlet sepakbola kita nggak dilindungi dengan baik dari cedera. Memang ada spesialis kedokteran olahraga, tapi di PSSI itu cuman buat basa-basi. Makanya saya ogah melamar ke PSSI..
Trenyuh aku Mas
Kudune seneng2 nang lapangan kok malah dadi perkoro ngilangke nyowo uwong
Duh…sedih mendengar berita-berita tentang ini
perlindungan terhadap pemain perlu lebih ditingkatkan, ISL butuh lebih banyak kartu merah untuk mecegah pertumpahan darah.
dan juga mental pemain yang tidak menghargai “lawan”. yang sama-sama mencari uang dengan fisik yang prima, tapi selalu yang terjadi adalah incaran pada kaki lawan, atau sikutan di kepala.
inalillahi…
nasib pemain yang bermain kasar berakibat kematian itu begimana?
waduh..kog ngeri gitu, turut berduka. smoga bisa jadi pelajaran berharga.buat persepakbolaan kita.
inalillahi…
yg nekel dikasi sanksi gak???
memang heran jago berantem malah jd pemaen sepak bola..
jadi ya gini…
mau tunggu apa lagi sih sampai pengurus PSSI sadar ada yang gak beres sama persepakbolaan kita???
inilah realitas persepakbola’an di negeri kita ini bro. Kekerasan bukan hanya terjadi di luar lapangan tapi juga di dalam lapangan. Benar-benar sangat memalukan. Dan saya paling sebel dengar berita baru-baru ini brupa pemukulan terhadap wasit. Buat sobat Almarhum Bro Jumadi, selamat jalan bro. Smoga arwahmu di terima disisi-NYA. Amin
Bisa nggak dituntut secara hukum kalau ada kejadian seperti ini ? apakah PSSI mempunyai conduct rules yang mengatur hal hal ini..?
ngeri ah. main bola sampe….aduuuuhh…
cuman bisa nganga…bacanya….ampe mati, mas ? maen bola kan buat olahraga mas..bukan buat cari mati… trus tanggung jawab PSSI sampe mana mas ?
*geleng2…hampr apatis ama pengurus PSSI sekarang*
@ Epat, Elly, : ga ada sanksi apa2, kecuali kartu kuning, walau katanya skrg lagi diselidiki..*aneh*
@ Mas Iman: rasanya conduct of rules sih ada, tapi sama aja dgn aturan disiplin dari FIFA. Ini soal kesadaran pemain dan wasit yg kerjanya ga pernah beres, mas.
@Frozzy: ya gitu itu PSSI
ouch. ironis. saya ingat beberapa tahun lalu ada petinju kita yang mengalami nasib yang kurang-lebih sama. mungkinkah hal semacam ini kemudian dianggap “memang sudah waktunya” atau akankah ada secercah harapan bahwa para pengurus akan belajar dari sini dan menetapkan langkah-langkah untuk melindung para atlit-nya?
sekalinya ada pemain lurus, kok ya pergi duluan.. kelalaian sampai menghilangkan nyawa orang lain, mestinya pidana yak.. gimana kelanjutan kasusnya, bung hedi?
@ Mpok B: sejauh yg aku tau, belum ada pemain masuk penjara akibat kesalahan dalam permainan. kecuali memang sengaja mau membunuh dan semacamnya. dan utk kasus yg kemaren, PSSI baru menyatakan tak ada faktor kriminal di sana.
ini cuma soal sikap bermain yg bener aja, mpok. di Indonesia itu jadi masalah karena wasit ga bekerja sebagaimana mestinya.
Cuma di indonesia, sepakbola dengan resiko tinju.
Mau sampe kapan ya disiplin bola kita hidup segan mati tak mau begini. Malu-maluin, dah bosen juga ngomongin PSSI lagi.