&mdash April 5th, 2009
Ibukota Bolivia ini punya ketinggian 3.600 meter dpl. Hampir menyamai tinggi Gunung Semeru yang sudah tiga kali saya panjat. Tapi ada satu yang sama dari keduanya: mudah bikin ngos-ngosan karena persediaan oksigen sangat tipis.
Sudah lama La Paz jadi berita untuk urusan sepakbola. Banyak pula yang jadi korban (baca: keok). FIFA sempat mau melarang kota sejenis dipakai untuk pertandingan. Nggak bagus untuk kesehatan, katanya. Bertentangan dengan mensana in corpore sano.
Tapi tantangan bermunculan. Kalau larangan diterapkan, di mana tim-tim Amerika Selatan harus menjamu lawannya? Di daerah latin, dataran daerahnya memang tinggi. Kota-kota di Kolombia pun sekitar 1000-200 meter dpl, kota Quito di Ekuador pun punya ketinggian 2500 meter dpl. Amerika Selatan markasnya kota gunung.
Lagipula kalau kesehatan jadi isu, malah belum pernah ada laporan pemain yang mati habis main di sana walau masker oksigen jadi barang wajib.
Tengah minggu kemarin, Argentina jadi korban. Nggak tanggung-tanggung, dibantai 1-6! Banyak orang bingung dan kaget. Tim sekelas Tango kok bisa kalah banyak. Ya, inilah sepakbola. Apa pun bisa terjadi.
Sebenarnya Argentina sudah pernah menang dua kali di La Paz. Tapi itu didahului persiapan ekstra. Bahkan kemenangan pertama diraih setelah tim Argentina ditempa di pegunungan Andes selama sebulan dan kemudian dijuluki “Tim Setan”.
Yang terkini, Argentina kelebihan percaya diri. Tim dilatih legenda Diego Maradona. Pemain manapun pasti akan sangat percaya diri bila bos-nya bekas pemain hebat. Apalagi Argentina sekarang punya pemain berbakat model Lionel Messi dan Sergio Aguero. Intinya, punya modal buat pesta gol.
Jika anda sempat nonton liputannya di siaran berita, Argentina malah main seperti tim amatir. Kelihatan sekali nggak siap. Terutama mengatur irama untuk menghemat tenaga karena minimnya cadangan oksigen. Maradona penyebabnya. Ini bukti dia belum berpengalaman menangani tim.
Tapi kekalahan besar bagi tim besar tentu berkorelasi positif. Ke depan, Maradona dan pasukannya akan lebih waspada menatap sebuah laga. Mereka pasti bikin persiapan yang lebih matang. Lagipula, ini baru kualifikasi Piala Dunia dan saya yakin banget mereka akan lolos ke Afrika Selatan.
Itu lebih penting, karena Piala Dunia tampa tim-tim besar jadi hambar. Saya kurang suka bila ada skor-skor mencolok karena pertandingan tak imbang, meskipun — sekali lagi — itu biasa di sepakbola.
he eh, pengalaman adalah guru terbaik
Saya ndak setuju, Pak. Seyogyanya tim-tim segede apapun kudu kuat main di iklim apapun. Mau daerahnya salju kek, mau daerahnya gurun kek. Kan begitu mestinya pemain yang bagus itu, tahan segala kondisi
Saya juga pernah baca tentang La Paz ini di Wikipedia, kayaknya emang berat banget ya
sampe2 kalo lari jadi berasa lebih berat dari berat yang sesungguhnya.
Ini harusnya jadi pelajaran untuk Indonesia, gimana kalo menjamu lawan dari negara yang lebih kuat jangan di Jakarta tapi di Papua? Terutama tempat2 yang permukaannya jauh lebih tinggi dari laut. Paling gak kesempatan menangnya lebih besar
Bagaimana kalau diusulken untuk segera dibangun stadion sepak bola bertarap internasional di Semeru? Tapi tim kita latihannya musti rutin disono biar kesempatan menang kita lebih gedhe =))
kenapa kita gak niru aja. main di papua…
Jadi inget klub Jepang yang diajak main siang bolong sama Persik di Manahan.
Salah satu advantage jadi tim tuan rumah adalah bebas mau main dimana, hilangkan itu, sepakbola g menarik lagi.
…dulu Indonesia pernah kepikiran menjadikan Surabaya jadi tempat laga pra piala dunia lawan New Zealand jaman dul..mainnya jam 2 siang..
Ini pernah sukses, ketika Niac Mitra ( galatama ) tahun 80an mengalahkan Arsenal di Surabaya waktu mereka lagi tur ke Asia..
stadion pendidikan milik persiwa wamena juga duwur mas… mungkin timnas indonesia bisa nyoba memainkan laga kandang disana saat pra piala asia atau pas pra piala dunia…
seluruh pemain ditempa dulu disana 2 bulan, insya allah lawan australia atau korsel pun timnas bisa menang
kira kira kans argentina dengan maradona di piala dunia nanti gimana sam?
belajar dari pengalaman untuk kemenangan…
btw, masihkan menerima sumbangan for bangsri dan masihkah kawosnya? hehehehe
Di luar kenyataan bola itu bundar, kekalahan Argentina pasti ada sangkut pautnya dengan faktor geografis La Paz. Namun yang patut diacungi jempol, kedatangan Maradona ke sana memang untuk menolak aturan FIFA yang tidak membolehkan negara yang memiliki kesamaan geografis seperti Bolivia menjadi tuan rumah kejuaraan internasional. Meskipun tim-nya kalah, tetap salut buat Maradona!
sbenernya intinya dalah,
balik ke individu masing2..
mo sekedar maen ato menang…
bagus lagi kalo maen untuk menang..