RSS You're reading Peduli article on sekadarblog

Peduli

Pelaku sepakbola di negara maju adalah panutan masyarakat. Mungkin bukan cuma sepakbola, tapi juga sport lain. Di Amerika Serikat, misalnya, ada NBA. Mereka semua role model.

Karena itu nggak heran selalu saja ada program layanan masyarakat. Yang paling sering terlihat adalah ban hitam di lengan ketika bertanding.

Maksudnya sebagai tanda ikut prihatin, simpati atau berkabung. Biasanya ada pula prosesi a minute of silence (mengheningkan cipta) sebelum kick-off.

Di luar lapangan, sekelompok pemain atau klub kerap berkunjung ke panti sosial atau rumah sakit anak-anak. Kadang juga membentangkan spanduk himbauan ketika masuk lapangan. Bila anda seorang super bintang, boleh jadi anda akan ditawari jadi duta besar ini dan itu. Yang paling aktif melakukan adalah Unicef.

Beberapa klub juga getol beramal. Bahkan menggunakan spot yang harusnya mendatangkan keuntungan. Bagian dada sebuah kostum klub bisa punya nilai jual belasan hingga puluhan juta euro per tahun, tergantung ketenaran si klub. Tapi Barcelona merelakan spot itu untuk memasang tulisan Unicef dan bahkan keluar duit.

Padahal, bagian depan kostum Barcelona selama ini bersih dari tulisan — kecuali sponsor apparel dan logo klub. Aston Villa melakukan hal serupa. Klub kota Birmingham itu pasang nama rumah sakit anak-anak.

Kepedulian klub terhadap masyarakat luas juga nggak stop di situ. Di Inggris, klub ramai-ramai memotong harga tiket di masa krisis. Villarreal lebih hebat lagi. Klub kuning Spanyol itu akan menggratiskan tiket langganan musim depan bagi fans-nya yang menganggur akibat krisis ekonomi.

Sepakbola memang niche, apalagi ketika sudah memasuki ranah industri. Tapi seperti juga perusahaan yang punya CSR, demikian juga klub sepakbola.

Ungkapan “bola satu kok diuber-uber orang banyak” nggak bikin penikmatnya berkurang. Dalam jaman yang sudah modern, sepakbola justru makin dalam merasuk ke jiwa orang. Ikatan primordial pun bukan barang haram, walau kadang ngeselin.

Akibatnya, suporter jadi terikat (secara batin). Bagaimana klubnya, ya begitu pula suporternya. Atau lebih pas dibalik, bagaimana masyarakat sebuah tempat, akan demikian pula klubnya. Saling memengaruhi.

Itu sebabnya saya tak heran suporter Real Madrid dari Indonesia juga bikin kegiatan peduli sosial. Yang jadi rasa penasaran saya, kenapa tim lokal justru jarang bikin kegiatan sosial. Bahkan tim nasional pun nyaris nggak pernah ketahuan punya acara sejenis.

Mudah-mudahan itu karena cuma saya yang kurang gaul. Siapa tahu pelaku sepakbola di Indonesia menganut paham: “berbuat tak harus diceritakan”.

Ϡ

11 Responses to “Peduli”

  1. gagahput3ra says:

    Di Indonesia tim bola masih belum dimanage sebagai .inc, jadinya ya mereka kira manajemen klub cuma on the field aja, yg laen gpp jd sampingan, contohnya suporter yg masih belum diberdayakan secara maksimal dan club branding & image yg belom diperhatiin. Boro2 CSR :D

  2. Kru Bolanova says:

    good point.

    tapi kita mesti maklum. Industri bola di Indonesia masih dalam tahap merangkak. Jadi, masalah bakti sosial belum kepikiran. Mungkin… Ini hanya pendapat saya loh, hehehe…

  3. bangsari says:

    Siapa tahu pelaku sepakbola di Indonesia menganut paham: “berbuat tak harus diceritakan”.

    semoga tidak sebaliknya, tidak berbuat dan banyak bercerita. hehehe

  4. galihsatria says:

    Boro-boro mikir program CSR mas Hedi, mikirin jadwal kompetisi dan mempertahankan kelangsungan hidup klub saja sudah kembang kempis kok. :)

  5. nothing says:

    asekk liga indonesia main lagi :)

  6. Team Indonesia suka mengadakan kegiatan pertandingan amal kok,misalnya buat bekas pemain yang sakit…
    Cuma itu saja..

  7. hedi says:

    @Gagah & Galih: ga mesti CSR-nya kok, dalam bentuk kunjungan aja udah bagus
    @ Iman: sepakat, mas

  8. agustri says:

    jarang sekali melihat partai amal di indonesia.

  9. mas kopdang says:

    Nanti saya sampaikan kepada , minimal, Om Nurdin khalid

  10. ceznez says:

    berbuat tak harus di ceritakan.. beramal dengan tangan tangan.. klo bisa tangan kiripun tak tahu.. biar lebih ikhlas ya? :)

  11. didut says:

    kalau di Indonesia mo hidup aja msh kembang kempis :P …. tapi memang kalo di negara maju keg sosial sdh menjadi keg PR untuk klub mereka

Leave a Reply