RSS You're reading Surga article on sekadarblog

Surga

England is a paradise for the coaches who can plan for the future without the pressure of winning in the short term — Jose Mourinho

Komentar Mourinho jelas bisa subyektif atau obyektif. Tergantung siapa punya urusan. Andai saya jadi pelatih di Inggris, tentu negeri itu tempat yang enak — meski belum tentu bisa disebut surga.

Bagi pelatih, tekanan adalah partner setia. Ancaman pemecatan adalah hal jamak. Mungkin dalam hati kecil, bisa jadi malah senang karena bakal dapat pesangon besar. Itu pun dengan catatan ada di klausul kontrak.

Inggris memang beda. Di Liga Italia musim ini saja ada 10 pelatih yang sudah dipecat, di Inggris nggak lebih dari lima pelatih termasuk dari tim kacangan yang kalah terus sekalipun.

Bila anda melatih di Inggris, anda belum tentu dipecat meski dua musim berturut-turut cuma nangkring di posisi papan tengah-bawah dan gagal pula ikut kompetisi antar klub Eropa. Efek paling hebat buat anda dari manajemen mungkin dana belanja pemain yang akan dipangkas drastis.

Artinya melatih di Inggris lebih nyaman. Anda bisa fokus melakukan pembinaan. Eksplorasi skuad dan gaya main bisa jalan terus. Tentu saja kalau hasil kerja anda kebangetan jeleknya, orang tak mungkin maklum.

Tapi di Italia atau di Jerman atau di Spanyol, tak perlu menunggu lama. Tiga kali kalah beruntun pun, anda bisa dipaksa mengepak koper. Minimal, anda harus sering kontrol tekanan darah dan detak jantung ke dokter.

Ini memang soal budaya. Inggris jelas lebih mengutamakan passion. Hasil jelas menjadi target, tapi bukan berarti harus instan. Berbeda dengan Italia di mana hasil adalah nomor satu. Bahkan filosofi semua tim di Italia adalah “membenci kekalahan”. Artinya, kemenangan adalah wajib. Caranya terserah anda. Mungkin itu sebabnya skandal dan trik jadi hal biasa di Italia.

Inggris juga paham bahwa kompetisi adalah esensi pembinaan. Jika sebuah tim lebih sering ganti pelatih, bagaimana mungkin tim itu bisa punya standar permainan yang layak. Coba lihat tim sekelas Palermo. Mereka tak pernah naik kelas. Lagipula kalau mau jadi juara, penentunya bukan cuma pelatih dan skuad. Itu sebabnya tim bertabur bintang pun belum tentu dijamin jawara.

Anehnya pemahaman mepet-mepet seperti ini nggak ada di Indonesia. Cara berpikir instan ala tarkam justru yang paling umum. Setiap musim ganti pelatih dan ganti 80 persen pemain pula. Artinya tim harus dibangun dari awal lagi. Padahal membangun tim butuh waktu panjang. Begini kok nuntut prestasi.

Tapi itu bukan cuma salah klub sendiri. Kompetisinya pun nggak mendukung. Jangan-jangan ketika ditanyakan buat apa kompetisi Liga Indonesia dibuat, orang di PSSI sana nggak bisa jawab. Lalu apakah kompetisi di Indonesia adalah neraka? Yang ini, saya nggak berani jawab. :D

Ϡ

13 Responses to “Surga”

  1. edy says:

    hehehe tarkam yg instan dong, mas
    emang mestinya sebuah tim dibangun atas kerjasama dan butuh waktu yg lama. kalo bongkar pasang melulu, trus kapan mainnya?

  2. keringat says:

    kompetisi di Indonesia adalah absurd…

  3. gagahput3ra says:

    sepertinya kita perlu mengembangkan indonesian football doctrine….jadi semacem ideologi sepakbola yg harus dipake sama PSSI…..kalo kyk sekarang bener….kompetisi dan timnas ga ada rencana jangka panjang…tanpa arah gitu :)

  4. nothing says:

    sepak bola indonesia memang unik

  5. haris says:

    tradisi panjang sepakbola Inggris yg mungkin membuat manajemen klub di sana punya pikiran lapang dan tak gampang memecat pelatih, mas. gak kyk kita yg selalu grusa-grusu. he2.

    ulasannya bagus

  6. Epat says:

    Indonesia gak mengenal sifat sportif, itu bisa dilihat sampe sekarang tak pernah ada padanan kata sportif dalam bahasa indonesia.
    hahaha

  7. denologis says:

    Yah, simpel saja deh. Itulah Endonesa…. :)

    **yang dibahas nih Endonesa atau Indonesia?**

  8. bangsari says:

    pateni ae ketume…

  9. Bagas says:

    Jadi ingat artikel di goal indonesia, kalau gak salah judulnya, Apa saja keberhasilan Nurdi Halid selama memimpin PSSI.
    Di dalam artikelnya cuma kosong.
    Bikin ngakak.

  10. Contohlah Arsenal,..Arsene Wenger belum pernah memberi gelar Liga Champion dan beberapa tahun terakhir minim gelar lokal,..tapi masih nggak dipecat pecat he he he….

  11. didut says:

    @mas Iman: asal jgn kelamaan mas *mlayu*

  12. -GoenRock- says:

    Bikin kompetisi kok ndak jelas tujuannya buat apa. :roll:

  13. Gunanya bikin Liga Indonesia:
    - memberi kesempatan kepada para penjual rokok, penjual minuman, pawang hujan, penyiar tv, pemasang iklan, untuk memberikan sumber penghasilan
    - memberi kesempatan kepada para rumah sakit, untuk memperoleh pemasukan dari korban-korban kerusuhan pasca pertandingan
    - … (silakan isi sendiri!)

Leave a Reply