Archive for May, 2009

Menyerang

Thursday, May 28th, 2009

 

Apa kunci kemenangan Barcelona atas Manchester United tadi pagi?

Saya lebih suka menyebut “paham menyerang” pasukan Pep Guardiola. Mereka selalu menyerang apapun kondisinya. Dan itu sudah berlangsung selama satu musim; di La Liga dan Champions. Attacking football adalah nafas Catalan.

I don’t care about opponent’s game and tactic. I just focus to my team. They should play as ussual; attack the opponent whatever happens – Guardiola sebelum tanding kepada Sky Sports TV

Barca konsisten pada pilihannya.  

(more…)

Tiket…oh…PSSI

Wednesday, May 27th, 2009

Semenjak berita Manchester United mau sowan ke Jakarta muncul, entah sudah berapa sms, buzz messenger, telpon dan email soal tiket yang saya terima.

Entah itu yang minta info atau yang langsung minta jatah. Request pertama bisa saya jawab dan di beberapa media pun sudah ada. Tapi permintaan kedua di luar jangkauan saya.

Sejak awal, saya sadar masalah tiket pasti akan bikin pusing (peminat). Info saja belum jelas, apalagi ketersediaan. Pengalaman rusuhnya urusan tiket di Piala Asia 2007 bisa terulang. (more…)

Bobrok

Tuesday, May 26th, 2009

Karena muatan UU-ITE yang multi tafsir dan jauh dari bermutu, maka…

Janganlah menyesal jika persepakbolaan tanah air tak akan pernah maju. Sebab kini aktivitas untuk mengkritisi PSSI bisa dianggap pencemaran nama baik.

Loyalitas

Friday, May 15th, 2009

Dalam era profesionalisme, makin sulit mencari pemain loyal. Tak ada lagi tanda-tanda patron baru setelah era Paolo Maldini, Francesco Totti atau Steven Gerrard. Bahkan Kaka yang menolak iming-iming rekor transfer termahal dari Real Madrid dan Manchester City pun masih belum bisa jadi garansi akan mengikuti pendahulunya.

Batasan menjadi pemain sewaan dengan tuntutan loyalitas sangat tipis. Lihat bagaimana sejumlah bintang Juventus kabur sewaktu tim dihukum turun ke Serie B Liga Italia.

Tentu tak melulu soal uang. Selalu ada pula pertimbangan tim nasional, kemajuan karir dan pencapaian prestasi. Apalagi kalau sang agen ikut campur terlalu dalam. 

Itu sebabnya saya harus salut pada pemain yang tetap mau membela PSIS Semarang ketika menolak tim senior dibubarkan sebelum kompetisi usai. Mereka rela gaji bulanan raib dan diganti pay per match

Itu mulia. Soal apakah mereka desperate agar dapur rumah tangga tetap ngebul, itu jelas soal lain.