&mdash May 15th, 2009 {18}
Dalam era profesionalisme, makin sulit mencari pemain loyal. Tak ada lagi tanda-tanda patron baru setelah era Paolo Maldini, Francesco Totti atau Steven Gerrard. Bahkan Kaka yang menolak iming-iming rekor transfer termahal dari Real Madrid dan Manchester City pun masih belum bisa jadi garansi akan mengikuti pendahulunya.
Batasan menjadi pemain sewaan dengan tuntutan loyalitas sangat tipis. Lihat bagaimana sejumlah bintang Juventus kabur sewaktu tim dihukum turun ke Serie B Liga Italia.
Tentu tak melulu soal uang. Selalu ada pula pertimbangan tim nasional, kemajuan karir dan pencapaian prestasi. Apalagi kalau sang agen ikut campur terlalu dalam.
Itu sebabnya saya harus salut pada pemain yang tetap mau membela PSIS Semarang ketika menolak tim senior dibubarkan sebelum kompetisi usai. Mereka rela gaji bulanan raib dan diganti pay per match.
Itu mulia. Soal apakah mereka desperate agar dapur rumah tangga tetap ngebul, itu jelas soal lain.
soal PSIS saya menduga sebab ga ada pilihan sam. lha mau pindah kemana-mana juga tetap ndak jelas iklim sepak bola kita. mungkin…
saya malah baru tau soal PSIS ini, kang
tapi kalo bener gitu ya salut juga buat mereka
dan smoga bisa dapet solusinya, trutama urusan dapur
Memang sih kadang tuntutan perut bisa membuat loyalitas jd luntur…
Tergantung idealisme masing-masing.
Wah, perlu diacungi jempol terhadap loyalitas mereka. Masalahnya, seringkali hidup ini harus dibayar dengan materi, tidak cukup dengan loyalitas semata
betul kata ipul bangsari, kompetisi dah jalan dan mo kelar, mau pindah kemana? mending bertahan dengan bayaran per main
saya tertarik, 30-40 tahun dari sekarang atlit2 yang loyal itu dapat apresiasi gak ya, dan juga, PSIS sendiri akan masih hidup gak ya?
Saya bener2 memimpikan iklim liga sepakbola yang diisi sejarah panjang dan tidak jadi alat propaganda politik semata. Dan PSSI yang profesional.
Meski memang materis selalu mendominasi – masih ada kok mereka yang memang setia dengan loyalitas dan memandang bahwa loyal itu adalah sebuah kehormatan dan kebanggaan meski nggak selalu membawa kompensasi moneter yang sebanding dengan mereka lainnya…
jadi inget kasus tim kesayangan dulu, LAZIO
moga makin sukses aza persepakbolaan tanah air mas
salam kenal jgn lupa komen baleknya
ya memang uang masih menjadi prioritas bagi sebagian pemain
Wah,.. patut dicontoh tuh…
PSIS nggak mau merjer sama Jepara ?..akhrinya gara gara APBD stop donasi, klub klub pada bubar…
Yaa.. itu sih cari aman namanya. Lha kalau mereka setuju klub dibubarin, bukannya urusan dapur bakal lebih susah, Kang?
*negative thinker*
Ryan Giggs dan Paul Scholes masuk list mas
loyalitas emang perlu
weleh salah tempat mas
)
maksudnya mau komen di postingan yg ini
eh malah di posting sebelumnya
loyalitas emang barang susah dicari sekarang mas…
udah gak terbit lagi…
salut buat psis,
tapi, akankah seperti ini akan terus-terusan terjadi pada klub-klub di indonesia.
kalau menilik klub paling sukses soal manajemen, mungkin arema yang bisa mewakili.