&mdash August 6th, 2009 {12}
Sejatinya PSSI itu memang lebih sering kontroversial (dan ngawur). Jadi juga seharusnya sudah biasa. Nggak kaget lagi.
Bagaimana mungkin klub harus kehilangan para pilarnya yang dipanggil ke tim nasional untuk menjalani pemusatan latihan (panjang) saat kompetisi baru bergulir?
Pemain kelas timnas selalu dibayar sangat mahal oleh klub-klubnya. Rata-rata gajinya di atas 10 juta rupiah per bulan. Timnas memang penting dan di atas segalanya. Tapi untuk apa pemain dibayar mahal oleh klub kalau tak bisa dimainkan di awal Liga Super mendatang. Dan PSSI hanya meminta klub mengerti!!!
Wacana dan praktek ini nggak akan pernah selesai sampai kapanpun kalau kompetisi tak dibenahi dan diatur dengan baik.
Sepengetahuan saya, tak ada satu pun tim nasional (mapan) di dunia yang melakukan pelatnas jangka panjang jika bukan untuk putaran final turnamen besar seperti Piala Dunia, Piala Eropa, Piala Asia dan sejenisnya. Bahkan Malaysia, Thailand atau Singapura pun tak pernah melakukan pelatnas panjang.
Lalu bagaimana timnas menjalani latihan untuk partai-partai kualifikasi yang cuma 1-2 laga dalam satu atau dua minggu? Ya maksimal hanya empat hari sebelum laga. Dan partai-partai resmi tim nasional (di bawah FIFA) selalu dilakukan dengan meliburkan kompetisi selama seminggu.
Untuk kasus Indonesia memang sudah salah kaprah dari awal. Latihan timnas selalu dipenuhi dengan materi penempaan skill dan fisik dasar. Padahal timnas sejatinya cuma melatih taktik dan strategi serta pemantapan stamina. Itu pun jika memang ada yang standar fisiknya melorot.
PSSI tak pernah menyeragamkan standar latihan di klub. Bukan metode kepelatihan yang harus dibuat sama. Tapi seharusnya ada cetak biru agar klub bisa mencapai standar tertentu bagi pemainnya. Jadi kapanpun pemain dibutuhkan timnas maka tak perlu bikin persiapan mendasar lagi. Lha waktunya cuma empat hari, kok mau latihan nendang, nyundul, bla…bla…bla…Nggak akan pernah cukup. Apalagi untuk pemain selevel Indonesia.
Federasi Sepakbola Jerman adalah contoh paling bagus. Begitu pelatih Jerman terpilih, maka dia akan memberi edaran pada klub. “Ini lho standar yang saya butuhkan. Nanti tim Jerman akan pakai pola A, B dan C. Jadi tolong klub membiasakan para pemainnya untuk beradaptasi dengan gaya apapun. Ini standar fisik yang saya butuhkan, jadi tolong klub membinanya.” Kira-kira begitu pesannya. Terserah bagaimana pelatih klub melakukannya. Yang dibutuhkan adalah ouput.
Lagipula latihan yang paling optimal adalah melalui pertandingan resmi. Bukan lewat latihan uji tanding. Dalam pertandingan resmi seperti kompetisi itulah terdapat penggemblengan sesungguhnya sehingga pemain akan siap pakai. Dengan catatan, kompetisinya berkualitas dengan jadwal yang rapi dan sistematis.
Jadi, keputusan PSSI itu melanggar aturan FIFA. Uniknya, mereka tahu kok. Coba lihat komentar dari Ketua Badan Tim Nasional, Rahim Sukasah.
Tahun depan pelatnas hanya dilakukan beberapa hari sebelum pertandingan internasional. Kita mengikuti aturan FIFA – Tabloid Bola
Kenapa musti menunggu tahun depan? Andai klub lebih pintar, PSSI bisa kena tuntut. Harusnya itu dilakukan, supaya ada pembelajaran. Tapi dari dulu kok belajar terus, kapan lulusnya?
OOT:
sangking cintanya sama sekolah mungkin, mas
Saya berharap tim sepakbola kita,,untuk yang akan datang ada kemajuan yang lebih,,di dunia internasional teranyar : 2 blog aktual
Organisasi yang tak percaya kompetisi buatannya sendiri, tak berani mengarahkan kompetisi, dan selalu takut menghadapi tuntutan tim kompetisi lokal di dunia cuma 2 kali ya, PSSI sama BLI.
hehehe, cen aneh ki PSSI, ga waras waras.
kebiasaan memang, pake TC jangka panjang. dimana pemain mulai lagi dari awal fisik dan teknik dasar. padahal itu semua dah sehari hari dilahap di klub, harusnya di TC timnas ya urusan taktik dan strategi..
Itulah Endonesia..
ketuanya aja aneh bin ajaib begitu (doh)
itu danyang danyang penunggu senayan sudah seharusnya ditendang keluar. mosok siapa pun ketum pssi kok ya gitu gitu melulu. tapi, apa yang bisa kita lakukan?
yah jelas dong bro…
PSSI kan sukanya belajar….
bukan suka bermain sepak bola… ha….haa…haa..haa..ha…
tak tunggu komennya di blogku ya bro..
Ketuanya khan udah terbiasa ‘breaking the rule’
Suka sepak bola Indonesia mas?
Salam kenal
Mungkin keanehan itu baru sampai akhirnya apabila PSSI bubar.
Cuma ada di indonesia ya…hehehe…