RSS You're reading Sepakbola; Tak Sesederhana itu article on sekadarblog

Sepakbola; Tak Sesederhana itu

Sepakbola sejatinya cuma permainan sederhana. Kumpulkan 22 orang dan satu bola, beres. Tinggal tendang, sundul, umpan sana sini, jegal lawan, dan cetak gol.

Cuma itu? Ternyata tidak juga.

Itu yang makin saya sadari ketika saya diapit dua begawan di tengah kesunyian tadi malam. Rentetan pertanyaan mereka berdua justru menebalkan filosofi saya terhadap sepakbola.

Buat saya, permainan sepakbola ibarat sebuah permainan catur. Ada menyerang dan menghambat dengan bidak. Tapi untuk melancarkan permainan itu, pelatih harus berpikir keras. Belum lagi dengan aneka tekanan yang (bisa) bikin stres.

Bergerak ke luar lapangan, ada bermacam-macam urusan supaya permainan catur di lapangan hijau itu bisa optimal. Pelatih ditemani staf ringkasnya. Ada pula manajer tim yang mengurus jadwal skuad hingga urusan ransum tubuh dan “dapur” pemain.

Di luar tim tehnik, ada peran manajemen. Di sinilah segalanya digodok. Di sinilah segalanya mulai diatur. Mulai dari cari uang sampai mengelolanya dengan cermat, termasuk untuk menyewa pelatih dan pemain. Mengelola tim (klub) dan mengurus skuad adalah hal berbeda, tetapi sama ruwetnya.

Cuma itu? Ternyata tidak juga.

Dalam kaitan industri saat ini, urusan akan makin beragam. Sebuah klub bak perusahaan yang harus punya pendapatan. Sebagai badan usaha, tubuhnya harus sehat. Bagaimana menjaga kesehatan itulah yang sering bikin frustrasi. Itu sebabnya direksi sebuah klub sering dijabat oleh orang yang justru belum tentu mengerti tehnik permainan sepakbola. Banyak dari mereka yang justru punya latar belakang akuntansi, hukum dan ahli manajemen.

Cuma itu? Ternyata tidak juga.

Sepakbola ternyata menyangkut sebuah semangat, passion dan kebersamaan. Coba bayangkan bagaimana sebuah tim membiayai kelangsungan hidupnya di sebuah jaman pra profesionalisme. Selain pemilik timnya maniak terhadap sepakbola, para suporter juga punya rasa memiliki. Bukan hanya sekadar faktor primordialisme semata.

Pemilik keluar uang terus menerus untuk ongkos operasional dan fans terus buang uang untuk beli tiket serta merchandise. Semua demi kepuasan diri. Menang atau kalah (seharusnya) urusan kesekian.

Sepakbola yang lintas sektoral dan struktural sekarang ini, muaranya memang cuma satu; kehidupan. Ada tanggung jawab sosial di sana karena melibatkan manusia (civil society). Itulah yang justru belum terlihat dari sepakbola Indonesia.

Ϡ

19 Responses to “Sepakbola; Tak Sesederhana itu”

  1. goop says:

    cuma itu?
    tidak juga,kan sam?
    maka, ditunggu terus sepakbola dan filosofinya seiring semakin jarangnya saya melihat permainan itu :(

  2. zam says:

    seperti kata pepatah, bola itu bundar, jendral! :D

  3. bangsari says:

    Indonesia itu akan maju. AKAN!

    *nyontek salah satu komik GM Sudarta*

  4. zephyr says:

    kalau di Indonesia, asal punya uang dan kekuasaan, siapa aja bisa mengurusi tim / klub sepakbola. bahkan seorang politikus (yang tidak punya basic bola) bisa menjadi manajer tim.

    Inilah Indonesia kita. Indonesia yang AKAN maju… :)


    sepakbola di Indonesia memang masih mainan politik dan korupsi, mas – hedi

  5. perlahan lahan sepakbola Indonesia bisa lebih baik , terutama menjadi Industry… tapi ya entah kapan saya bisa melihat industry ituh

  6. nothing says:

    di sepakbola indonesia ada manajer non teknis nya :P


    ga cuma manajer, semuanya non teknis ;) – hedi

  7. lawan.us says:

    mang sepak bola gak sederhana namun da pelatihan kusus dan aturan yang bagus
    blognya lumayan

  8. Anang says:

    kalau menurut real madrid ya mas…. sepakbola itu sesederhana uang… hahaha.. ya bisa dibeli dengan uang.


    itu bukan sepakbola lagi, tapi bisnis :P – hedi

  9. Klanjabrik says:

    setuju, buat stadion aja udah susah, ngurus rumput, ngurus bangku penonton, ngurus yang duduk di bangku penonton, ngurus konsumsi pemain dan official, ngurus pengurusnya yang males ngurus (ra urus)…halagh!

  10. ndoro kakung says:

    cuma hedi yang bisa begini. ayo sam, mainkan bolamu


    ngawur…sindhunata dan zen bisa lebih hebat – hedi

  11. haris says:

    betul sekali. sepakbola bisa mnjadi cermin kehidupan itu sendiri. jadi ingat tulisan2 zen tentang sepakbola dan kebudayaan.
    kalo zen memang ahlinya, mas…hebatlah :) – hedi

  12. Lha saya kok ditendang-tendang eh dibawa-bawa ke sini? Tapi ke mana lagi saya nanya soal bal-balan kalo nggak ke sampeyan, Sam?

    ga ditendang kok, disundul man :P – hedi

  13. escoret says:

    nek aku presidene..kowe tak angkat dadi ketua PSSI..plus tak kei bojo telu….

    masalahe sopo sing arep milih awakmu dadi presiden – hedi

  14. jensen99 says:

    Menang atau kalah (seharusnya) urusan kesekian.

    Wahaha.. mengedepankan kesenangan dalam bermain itu filosofi jaman dulu banget ya? :mrgreen:

    di Inggris masih ada faham itu lho :) — hedi

  15. jensen99 says:

    BTW, mas.. sekali lagi mohon maaf soal email kemaren itu ya~ (OOT)

    santai aja, mas…ndak ada masalah — hedi

  16. zen says:

    when saturday comes and i feel alright: football is life

    *singing*

    lha inilah aktor sejatinya — hedi

  17. inalinul says:

    jan tenan bal kok dipadake catur….piye to mas….

    bah! senenganku Nul heuheuheu :P — hedi

  18. adipati kademangan says:

    jarene paklik ” I’m a special one “, bal – balan iku mung 1-0 , 2-1. gak onok liyane.

    akur karo mourinho, untuk kompetisi/turnamen cocok banget. tapi untuk tontotan belum tentu :P — hedi

  19. lawan.us says:

    ya bgs lah kalo gitu trzn ya jgn sampai down lagi
    kita minta ma’f

Leave a Reply