&mdash September 9th, 2009 {19}
Sepakbola sejatinya cuma permainan sederhana. Kumpulkan 22 orang dan satu bola, beres. Tinggal tendang, sundul, umpan sana sini, jegal lawan, dan cetak gol.
Cuma itu? Ternyata tidak juga.
Itu yang makin saya sadari ketika saya diapit dua begawan di tengah kesunyian tadi malam. Rentetan pertanyaan mereka berdua justru menebalkan filosofi saya terhadap sepakbola.
Buat saya, permainan sepakbola ibarat sebuah permainan catur. Ada menyerang dan menghambat dengan bidak. Tapi untuk melancarkan permainan itu, pelatih harus berpikir keras. Belum lagi dengan aneka tekanan yang (bisa) bikin stres.
Bergerak ke luar lapangan, ada bermacam-macam urusan supaya permainan catur di lapangan hijau itu bisa optimal. Pelatih ditemani staf ringkasnya. Ada pula manajer tim yang mengurus jadwal skuad hingga urusan ransum tubuh dan “dapur” pemain.
Di luar tim tehnik, ada peran manajemen. Di sinilah segalanya digodok. Di sinilah segalanya mulai diatur. Mulai dari cari uang sampai mengelolanya dengan cermat, termasuk untuk menyewa pelatih dan pemain. Mengelola tim (klub) dan mengurus skuad adalah hal berbeda, tetapi sama ruwetnya.
Cuma itu? Ternyata tidak juga.
Dalam kaitan industri saat ini, urusan akan makin beragam. Sebuah klub bak perusahaan yang harus punya pendapatan. Sebagai badan usaha, tubuhnya harus sehat. Bagaimana menjaga kesehatan itulah yang sering bikin frustrasi. Itu sebabnya direksi sebuah klub sering dijabat oleh orang yang justru belum tentu mengerti tehnik permainan sepakbola. Banyak dari mereka yang justru punya latar belakang akuntansi, hukum dan ahli manajemen.
Cuma itu? Ternyata tidak juga.
Sepakbola ternyata menyangkut sebuah semangat, passion dan kebersamaan. Coba bayangkan bagaimana sebuah tim membiayai kelangsungan hidupnya di sebuah jaman pra profesionalisme. Selain pemilik timnya maniak terhadap sepakbola, para suporter juga punya rasa memiliki. Bukan hanya sekadar faktor primordialisme semata.
Pemilik keluar uang terus menerus untuk ongkos operasional dan fans terus buang uang untuk beli tiket serta merchandise. Semua demi kepuasan diri. Menang atau kalah (seharusnya) urusan kesekian.
Sepakbola yang lintas sektoral dan struktural sekarang ini, muaranya memang cuma satu; kehidupan. Ada tanggung jawab sosial di sana karena melibatkan manusia (civil society). Itulah yang justru belum terlihat dari sepakbola Indonesia.
cuma itu?
tidak juga,kan sam?
maka, ditunggu terus sepakbola dan filosofinya seiring semakin jarangnya saya melihat permainan itu
seperti kata pepatah, bola itu bundar, jendral!
Indonesia itu akan maju. AKAN!
*nyontek salah satu komik GM Sudarta*
kalau di Indonesia, asal punya uang dan kekuasaan, siapa aja bisa mengurusi tim / klub sepakbola. bahkan seorang politikus (yang tidak punya basic bola) bisa menjadi manajer tim.
Inilah Indonesia kita. Indonesia yang AKAN maju…
–
sepakbola di Indonesia memang masih mainan politik dan korupsi, mas – hedi
perlahan lahan sepakbola Indonesia bisa lebih baik , terutama menjadi Industry… tapi ya entah kapan saya bisa melihat industry ituh
di sepakbola indonesia ada manajer non teknis nya
–
– hedi
ga cuma manajer, semuanya non teknis
mang sepak bola gak sederhana namun da pelatihan kusus dan aturan yang bagus
blognya lumayan
kalau menurut real madrid ya mas…. sepakbola itu sesederhana uang… hahaha.. ya bisa dibeli dengan uang.
–
– hedi
itu bukan sepakbola lagi, tapi bisnis
setuju, buat stadion aja udah susah, ngurus rumput, ngurus bangku penonton, ngurus yang duduk di bangku penonton, ngurus konsumsi pemain dan official, ngurus pengurusnya yang males ngurus (ra urus)…halagh!
cuma hedi yang bisa begini. ayo sam, mainkan bolamu
–
ngawur…sindhunata dan zen bisa lebih hebat – hedi
betul sekali. sepakbola bisa mnjadi cermin kehidupan itu sendiri. jadi ingat tulisan2 zen tentang sepakbola dan kebudayaan.
– hedi
kalo zen memang ahlinya, mas…hebatlah
Lha saya kok ditendang-tendang eh dibawa-bawa ke sini? Tapi ke mana lagi saya nanya soal bal-balan kalo nggak ke sampeyan, Sam?
—
ga ditendang kok, disundul man
– hedi
nek aku presidene..kowe tak angkat dadi ketua PSSI..plus tak kei bojo telu….
–
masalahe sopo sing arep milih awakmu dadi presiden – hedi
Wahaha.. mengedepankan kesenangan dalam bermain itu filosofi jaman dulu banget ya?
–
di Inggris masih ada faham itu lho
— hedi
BTW, mas.. sekali lagi mohon maaf soal email kemaren itu ya~ (OOT)
–
santai aja, mas…ndak ada masalah — hedi
when saturday comes and i feel alright: football is life
*singing*
–
lha inilah aktor sejatinya — hedi
jan tenan bal kok dipadake catur….piye to mas….
—
bah! senenganku Nul heuheuheu
— hedi
jarene paklik ” I’m a special one “, bal – balan iku mung 1-0 , 2-1. gak onok liyane.
—
akur karo mourinho, untuk kompetisi/turnamen cocok banget. tapi untuk tontotan belum tentu
— hedi
ya bgs lah kalo gitu trzn ya jgn sampai down lagi
kita minta ma’f