RSS You're reading Invasi Singapura article on sekadarblog

Invasi Singapura

Timnas Indonesia selalu keteteran, bila tak mau dibilang kalah, saat bertemu Singapura dalam beberapa tahun belakangan. Bahkan bila kompetisi nasional masih hobi main bawah tangan dan nggak kunjung membaik pengelolaannya, Indonesia bisa tercecer makin jauh di peta Asean.

Lalu menjadi lucu jika sekarang ini pemain Singapura ramai-ramai “menyerbu” Liga Super Indonesia. Sedikitnya sudah ada delapan pemain Singapura, yang semua anggota timnas, resmi jadi pemain asing di Indonesia. Konon, masih ada 3-4 pemain lagi yang sedang negosiasi dengan beberapa klub kita.

Bahkan para pemain itu direkrut tim-tim elite Liga Super seperti Persija Jakarta, Arema Malang dan Sriwijaya FC yang masing-masing mengontrak dua pemain Negeri Singa.

Namun banyak suporter Singapura yang nggak setuju dengan eksodus pemain mereka ke Indonesia. Klaim yang paling umum adalah hanya akan menurunkan kualitas Liga Singapura dan pemainnya sendiri.

Ini memang mengejutkan. Banyak pemain dari Vietnam, Thailand atau China yang enggan main di sini tetapi tak demikian dengan Singapura.

Jika saya pemain asing, saya tak akan mau main di sini — berapapun bayaran saya. Skill saya bisa hancur berantakan karena Liga Indonesia tak pernah mementingkan skill. Mental juga tak terasah dengan benar, kecuali melatih kesabaran dan emosi karena dicurangi wasit atau lawan. Stamina saya juga tak akan tertempa dengan baik karena pertandingan di sini nggak pernah teratur jadwalnya.

Sebenarnya lebih banyak ruginya melihat kedatangan pemain Singapura itu. Bukan, bukan dari sudut nasionalisme. Nggak perlu melihat dari aspek itu. Tidak signifikan.

Yang saya maksud rugi adalah kini pemain Singapura itu bisa ramai-ramai belajar segala sepakbola kita yang sudah melempem itu. Jika sekarang saja kita sering kalah dari mereka, bagaimana jika nanti mereka makin paham benar bagaimana orang Indonesia bermain sepakbola dengan segala macam gayanya?

Klub memang tak memikirkan kerugian itu. Mereka berpikir praktis. Pemain Singapura jelas lebih murah dari pada mengontrak pemain Amerika Selatan atau Afrika. Pemain Singapura juga tak akan mengalami terlalu banyak kejut budaya, termasuk cuaca. Selain itu, mendatangkan pemain Singapura adalah kiat memenuhi syarat Liga Super Indonesia soal pemain asing dari Asia.

Tapi yang jauh lebih merugikan adalah sumber gaji para pemain Singapura itu yang berasal dari APBD! Miris benar. Banyak orang Indonesia membuang devisa di Singapura dan sekarang kita gunakan uang rakyat untuk membayar mereka.

Tobatlah!

Ϡ

12 Responses to “Invasi Singapura”

  1. jensen99 says:

    Sebenarnya yang jadi sasaran klub kita itu kan pemain S’por yang naturalisasi dari Afrika, karena pemain Afrika cepat adaptasinya dengan lingkungan dan sepakbola Indonesia. Pemain “asli” Asia konon susah adaptasinya, juga sedikit yang tertarik ke ISL. CMIIW

    BTW, S. league emang profesional, tapi AFAIK atmosfernya kalah jauh dengan ISL. :roll:

    Err.. soal pembiayaan klub dengan APBD itu… gimana yaa~
    *garuk-garuk dagu*


    pemain naturalisasi singapura dari afrika cuma segelintir, yang disewa klub sini malah banyakan melayu-nya :) – hedi

  2. jensen99 says:

    Etapi Afrika atau Melayu atau dari manapun, secara pribadi saya senang kok pemain2 S’por itu main disini. Walopun itu berarti klub2 kita susah dapet pemain lokal yang selevel. Soal dibayar pake APBD, toh pemain asing dari manapun juga dibayar pake sumber yang sama. :mrgreen:


    saya juga seneng, indikasi bahwa liga indonesia itu berpotensi (profit ala showbiz) semakin kuat — hedi

  3. lawan.us says:

    wah invasi singapura,ko cuma sekadar blog sich

    maksudnya? :) – hedi

  4. Mas Hedi nggak perhitungkan ya? Main di Liga Indonesia bisa belajar macem-macem. Belajar menyelesaikan pertandingan di bawah tangan. Belajar tawuran. Belajar korup. Di Singapore, mana ada kayak gini??


    nyindir nih? :P – hedi

  5. zam says:

    wah TOB! berarti klub-klub Indonesia layak berkompetisi di liga Singapura!


    mungkin…terutama yg profesional sejati, bukan pake dana APBD :P — hedi

  6. gagahput3ra says:

    Masalah dana itu wajar kayaknya, kita kan emang seneng bikin2 lingkaran setan yang tanpa guna. Contoh lainnya, expor gas keluar negeri, cuma untuk diimpor lagi di lain hari. :D


    berarti kita ini setan, mas? :D – hedi

  7. Zephyr says:

    Mungkin pemain singapura tsb. Menganut paham : rumput Indonesiatetangga jauh lebih hijau dr pada rumput sendiri. :P


    kayaknya sih gitu :) – hedi

  8. nothing says:

    konon ini program nya BTN nya PSSI nya Singapura, biar pemainnya mencicipi kompetisi yang kompetitip, eh embuh ding


    betul, program pengembangan mental pemain Singapura…karena liga mereka sepi penonton, untuk satu ini Indonesia unggul :D – hedi

  9. haris says:

    analisismu menarik. jika memang pemain2 singapura bs mencuri ilmu kita yang tinggal sedikit, berarti memang pemain2 di sekitar asia tenggara seharusnya “dilarang” main di indonesia. utk jaga2. mereka kan saingan2 kita.

    sebenernya sih bukan dilarang, tapi harusnya kita termotivasi untuk meningkatkan diri, ya kan? ;) – hedi

  10. haris says:

    jadi, seharusnya semua pemain di sekitar asia tenggara “haram” masuk indonesia y? he2. supaya ilmu kita yg tinggal sedikit tak tercuri dan benar2 habis. ha3.

  11. mastongki says:

    jadi, mereka ke Indonesia bukan untuk “bermain bola”?

  12. Piyudh says:

    Hahaha..tak pernah terpikir oleh saya tentang apa yang dikata mas di posting ini..sungguh terlalu..terlalu bagus analisanya.:-D
    Wkwk
    Maka dari itu, saya waktu SMA dlu,mengubah cita-cita saya, dari pingin jd pemain bola profesional menjadi pewartafoto olahraga aja..:-Dwkwk..

    foto2 sampeyan keren, saya suka :) – hedi

Leave a Reply