&mdash September 25th, 2009 {17}

David Moyes, pelatih Everton, berang dengan kinerja asisten wasit di Liga Europa kemarin dulu. Ajang itu menjadi yang pertama mengujicoba tambahan dua asisten wasit.
Dia mengkritik asisten wasit yang tidak melihat bek lawan menendang bokong striker Louis Saha, tapi justru tahu pemain Prancis itu melakukan handball sehingga kena kartu merah.
Ini jelas mengundang cibiran. Asisten tambahan digunakan untuk meminimalisir kontroversial di area gawang. Asisten tambahan diharapkan bisa mengamati kejadian yang luput dari tiga wasit lainnya.
Tapi kenyataannya kontroversial tetap terjadi.
Berarti ada yang salah? Nggak juga. Masalahnya, ini melibatkan manusia yang tak pernah bisa sempurna. Dan lebih kompleks lagi, permainan yang diawasi juga melibatkan manusia dengan gerakan serba cepat di atas lapangan.
Wasit tak akan pernah bisa mengetahui segala detil kejadian di lapangan. Ada kalanya pandangan terbatas. Ada saatnya dia terganggu oleh aktivitasnya sendiri sehingga justru melewati kejadian serba cepat di depannya. Misalnya; batuk, matanya gatal, kelilipan, dan gejala manusia normal lainnya.
Sepakbola bukan permainan statis. Fair play memang harus ditegakkan. Tapi jika kejadiannya seperti yang dialami Everton malah menjadi lucu. Tak lebih baik dari usulan penggunaan rekaman video bagi wasit mengambil keputusan.
Lagipula, kontroversial di lapangan kadangkala membuat laga menjadi lebih seru dan berwarna. Tapi kontroversi tak terjadi sepanjang 90 menit. Pun tak terjadi di seluruh pertandingan di sebuah kompetisi.
Lalu bagaimana jika tim terpukul mentalnya gara-gara kejadian kontroversial? Apa boleh buat. Ini harusnya peran pelatih. Gembleng pemain agar punya mental baja yang tak mudah runtuh oleh teror suporter atau keputusan wasit yang dianggap merugikan.
Untuk soal satu itu, harusnya pemain di Liga Indonesia unggul karena di mana-mana selalu dicurangi wasit.
yang ada nanti satu pemaen diawasi satu wasit, dan wasit utama juga diawasi wasit juga,. walhasil penuh deh lapangan
ha ha ha, kayaknya lapangan harus diperlebar 7 kali lipat
salam kenal
Kalo di liga Indonesia, mental wasit lebih tebal. Siap-siap dihajar suporter..
Kelihatannya, wasit yang paling jujur itu adalah wasit dalam WE/PES, haha
wasit hanya memimpin pertandingan, seharusnya kalau memang ingin main fair play dimulai dari kesebelasan itu sendiri, sedangkan wasit hanya penentu jika ada perselisihan. tapi ya kembali lagi wasit adalah manusia
tapi jujur kesian juuga liat pemain indo kita dicurangi terusss…. teruss dan teruss
—
mayoritas di Indonesia itu curang, ga pemain atau wasit
– hedi
asisten wasit itu mungkin pernah berkarir di indonesia
Hi5..paragraf terakhir = LIKE THIS!
katanya jumlah wasit emang mau ditambah lagi yah biar mengurangi kontroversi macam gini…
—
lha itu yg saya tulis kan memang ditambah tapi tetap saja ada kontroversial – hedi
hehehehe.. penutup postingan ini mantap kang!,
tapi mungkin perlu diselidiki, siapa di belakang wasit di Liga kita itu!
—
gitu ya?
– hedi
kabarnya banyak tim inggris dibeli sama juragan minyak juragan minyak arab kang iia ?!?!? hhmmm… wasit?!?!?! gmn iia…?!?!? salam kenal iia kang
—
ya begitulah faktanya, salam kenal kembali
– hedi
Ah, kalo soal dicurangi wasit itu, jadi inget final Copa Indonesia 2009..
Biarpun mungkin lebih mahal, saya lebih suka kamera BTW
pemain2 indonesia itu selain sudah biasa dicurangi wasit, juga sudah terbiasa membalas wasit yang mencurangi mereka. jadi, emosi mereka lebih stabil. he2.
—
itu ahlinya bal-balan Indonesia
– hedi
pemain liga endonesa cen top, mental baja kabeh. di curangi wasit model opo ae yo tetep main. hahahaha
wasit selalu menjadi biang kerok dan kambing hitam dalam sepakbola… tapi yah begitulah, wasit juga manusia…
yang terbaru, zico dan rafael benitez juga mengeluhkan kinerja wasit soal pemain yang ‘offside’ saat Liga Champion…
—
offside adalah salah satu isu paling abadi di sepakbola
– hedi
iyo ..
suwe-suwe wasite luweh okeh tinimbang pemainne …
endonesa mah yang paling tahan mental ketume. KPK saja ga mempan kok. hahahaha