&mdash October 7th, 2009 {28}
Perkiraan kasar saya, jumlah penggemar Manchester United (MU) di Indonesia jauh lebih banyak dibanding pendukung klub lainnya.
Saya belum pernah tahu berapa jumlah pastinya, beserta perbandingan dengan suporter Arsenal, Liverpool, Juventus atau Inter Milan. Namun rasa-rasanya pendukung “Setan Merah” paling banyak, mungkin sama besarnya pula dengan mereka yang tak suka (MU Haters).

Dari pengamatan di lingkungan terdekat; kawan narablog, saudara sepupu, anak-anak para kawan, rekan kantor, tetangga — mayoritas mengaku bangga sebagai fans MU.
Lalu jangan heran jika kemudian ada beberapa orang yang penasaran mengapa peta suporter tim luar negeri condong ke MU. Tentu urusan suka atau tidak adalah masalah preferensi individu. Sangat sulit ketika anda ditanya mengapa suka atau tidak suka dengan klub tertentu. “Kenapa ya…pokoknya suka deh,” itulah jawaban umum, sambil nyengir dan garuk-garuk kepala.
MU kebetulan punya momentum untuk memiliki jumlah suporter terbanyak di luar negaranya yang tersebar di seluruh dunia dan benua.
Dia memang bukan klub abal-abal. Tapi di Indonesia, mungkin sebagian besar penyuka sepakbola yang sekarang berusia di atas 35 tahun lebih dulu kenal Hamburg SV, Moenchengladbach, Hannover atau VfB Stuttgart. Wajar karena pada era 80-an, siaran sepakbola live cuma ada Bundesliga Jerman dan hanya di TVRI. Berita sepakbola juga tak sebanyak sekarang, apalagi belum ada internet.
Mereka juga belum tentu kenal klub Inggris selain Liverpool yang kebetulan sedang jaya. Atau ketika saya masih berusia belasan tahun, saya justru lebih sering dengar nama klub Inggris seperti Wimbledon, Nottingham Forest, Quuen Park Rangers, Ipswich Town dan klub-klub gurem lain yang kini justru cuma beredar di kasta terbawah.
Tahun 80-an bukanlah era seperti sekarang di mana penikmat sepakbola dimanjakan oleh siaran langsung di lebih dari satu kanal tv. Satu hal lagi, Inggris juga sedang berbenah karena baru mendapat pukulan telak berupa pengucilan lima tahun dari Eropa, 1985-1990, karena Tragedi Heysel. Citra tukang rusuh dengan label Hooligans benar-benar merusak Liga Inggris.
Pembenahan itulah yang menjadi momen MU. Mereka menjadi satu-satunya klub, setidaknya menurut saya, yang siap menyongsong era baru ketika skorsing dari UEFA selesai. MU berbenah menjadi klub modern, mendatangkan Alex Ferguson (pada 1986) dan langsung juara ketika klub Inggris boleh main lagi di kompetisi Eropa. Sir Ferguson memberi gelar juara Cup Winner’s Cup 1991 dengan memukul Barcelona dan juara Super Eropa dengan mengalahkan Red Star Belgrade.
Sebenarnya di awal 90-an, Liga Italia dengan Serie A sedang merajai dunia. Siaran langsung setiap minggu di RCTI menjadi alasan mengapa saya dan beberapa kawan bisa setia di dalam rumah pada hari Minggu malam. Orang Indonesia pun menjadi lebih familiar dengan klub-klub seperti Salernitana, Bari, Vicenza, Piacenza atau Sampdoria.
RCTI kemudian memperkenalkan Piala Champions (kini Liga Champions). Kompetisi inilah yang kemudian sedikit banyak memomulerkan MU dan klub Inggris lainnya ke luar jagad Eropa. Tapi bagi MU, momentum kedua berhasil direbut dengan menjadi klub Inggris pertama yang mampu juara di tiga ajang sekaligus pada 1999.
MU Juara di Liga Champions, Liga Premier dan Piala FA (Treble Winners). Belum pernah ada klub Inggris yang melakukannya. MU berhasil mencuri perhatian fans sedunia. Jangan pula lupakan bumbu penyedap berbentuk David Beckham. Pemain modern pertama yang lengkap dari sisi showbiz dan tehnik sepakbola.
Kesuksesan MU di era modern membuat banyak penggemar bola melakukan perbandingan. Italia yang sedang merajai dengan Serie A-nya dan Liga Inggris dengan MU-nya. Permainan Italia yang lambat, penuh trik dan intrik serta hanya melulu taktik ternyata tak sejalan lagi dengan mayoritas orang modern yang pragmatis. Itulah mengapa anak-anak baru gede di pertengahan 90-an mencari bandingan ke Inggris. Modernitas nan praktis menjadi daya tarik.
Tehnik mungkin tak seberapa. Tapi permainan bergaya kick and rush dan ber-passion tinggi nan cepat justru lebih menyenangkan untuk ditonton. Belum lagi jumlah gol yang tercipta lebih banyak ketimbang permainan di Serie A. Akhir 90-an hingga kini, MU menjadi raja di raja dunia sepakbola. Tentu saja banyak orang mulai menemukan ksatria baru pada tubuh MU, bukan lagi cuma AC Milan, Juventus , Inter Milan dan Real Madrid.
Pada akhirnya MU menjadi lambang kemapanan sebuah klub, prestasi dan role model. Tentu saja ada pihak-pihak yang tak suka. Sebuah kewajaran. Muncul MU haters yang tak suka melihat dominasi MU. Bahkan di Indonesia pun sempat muncul himbauan agar tidak mendukung MU hanya karena logonya yang dinilai mewakili iblis dan julukannya yang Red Devils. Klaim inilah yang tak wajar karena iblis ada di mana-mana dalam kehidupan ini.
Jadi sangat mahfum bila MU punya penggemar sangat banyak di Indonesia. Tak heran pula kemudian MU buka “warung” di Jakarta. Urusan apakah pendukung MU akan sering makan malam di sana atau tidak, itu sudah urusan dagang dan duit. Lalu anda masuk kategori mana; MU lovers atau MU haters?
suka MU juga….
Saya termasuk pecinta MU, juga Milan dan Barcelona. Eh, plus Brazil ding. hahaha
MU itu lawannya cuma satu Nuhannadiyah..
—
kamu sudah lucu, zam…silahkan pulang
– hedi
Kembali ke pertengahan tahun 90-an akhir, ketika itu akhir pekan. Kalau tidak salah ingat, Liga Serie A ada di RCTI dan Liga Inggris ada di Indosiar. Saya nyeletuk ke kakak saya yang notabene penggemar AC Milan, “Kok sepertinya nonton Liga Inggris lebih asyik ya? Lebih mengalir, kalo nonton Liga Itali bola sering keluar, dikit-dikit pemain dijatuhkan” Kakak saya bilang, “Iya, memang!”
—
Liga Italia kental dengan trik dan taktik, terasa ndak menikmati permainan malah – hedi
wah mang gtu yach….
ya sich kmrn mo da acra gt…
aku pikr momentumnya bukan beckham tapi Cantona … pemain satu ini memang benar benar elegan dan mantaff
—
Cantona jelas salah satu faktor sangat penting dan berpengaruh dalam permainan MU, serta kharismatik, tapi ndak termasuk branding. Beckham lebih komplet. Aku nggak suka MU, dut…tapi menurutku waktu Beckham kolaborasi dengan Andy Cole & Dwight Yorke adalah permainan MU paling seger – hedi
Alasan utama gw suka MU adalah pemasarannya yang keren. Mereka tahu caranya mengemas produk mereka menjadi produk yang menjual. Kafe, merchandise, cara mereka memanjakan fans. Lepas dari sikap arogannya Fergie yang kadang-kadang rese, MU sukses bikin klub mereka jadi penting bagi dunia hiburan.
—
Itulah kesiapan mereka menyambut era modern industri sepakbola, MU ahlinya. – hedi
sayah jadi ndak suka ah…abisnya ndak mau bantuin Indonesia untuk memulihkan citra di luar negeri waktu kita kena bom…keknya ndak ada empatinya sama sekali…masih minta bayaran pula padahal main pun tidak…
—
Soal bayaran walau nggak main, itu sudah diatur dalam MoU panitia dan manajemen MU. Konyol memang, tapi aturannya (mungkin) sudah begitu. Tapi mengenai citra negara, Indonesia nggak runtuh karena soal bom itu. Lagi pula Gary Neville sempat bilang tim ingin datang apapun yg terjadi, tapi pemerintah Inggris melarang. Neville juga bilang bom bisa terjadi di mana saja. – hedi
Yang patut disadari… kesenang tidak butuh alasan, sekalipun terkadang ada alasan yg mewakili .. makanya asal dekat di hati
Mu di dadaku… gantiin garuda mungkin
saya MU hater dan merasa most of MU fans itu rata-rata orang yang ga gitu gila bola yang hanya dukung tim yang emang paling terkenal…sama halnya saya yang ga gitu gila basket yang hanya dukung tim yang memang lagi in saat sekarang seperti lakers atau Bulls dulu waktu lagi masih ada MJ…jadi walau banyak saya ko mempertanyakan ke–diehard-an fans mereka…
oh iyah soal jumlah, kompas pernah memuat persentasenya dan MU bukan dengan jumlah terbanyak…entah valid atau engga…
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/07/31/04375820/Kolonialisme.Lewat.Sepak.Bola
YNWA!
—
ooo ok saya lupa kalo ada artikel itu, thanks – hedi
proud to be MU lover.
lebih suka klub indonesia, lebih terasa emosinya karena kenal dan jumpa pemainnya langsung..
saya ndak suka persebaya, tapi karena kumpul terus dengan tim jadi bisa merasakan hal lain dari sisi yang lain juga, meski toh tetap ndak menjadikan saya suka dengan persebaya.
begitu juga dengan tim tim indonesia lain, yang pernah saya `tempel` macam Petro Kimia Putra Gresik dan tim ajaib Deltras Sidoarjo. asik pokoke
Kick and rush memang sangat bagus di liat, namun.. Peran media juga tak kalah pentingnya dalam mengangkat pamor MU (Selain strategi marketing MU sendiri yg memang bagus). Media (dunia & terutama Indonesia ) lebih sering memberitakan liga inggris, terutama kehidupan dan gaya hidup pemain di luar lapangan ; skandal, gossip, dan para WaGs. Oh ya.. I am MU HATER
United Lover since 1995.
Nah, terjawab sudah penasaran saya. Terima kasih atas pencerahan njenengan, Sam. BTW, tapi saya tahu ada klub Dinamo (Moskow), Cosmos (NY), Feyenoord & Ajax. Lumayan kan?
)
—
ya…ya lumayan, tapi Cosmos wis almarhum bos, minimal cuma jadi klub amatir sekarang
– hedi
Di dunia ini cuma ada dua supporter, pendukung MU dan ABU(asal bukan United)
Biyen aku sik kelingan, tim favoritku Crystal Palace, mbuh saiki ning endi kok ra tau ketoro.
—
Cyrstal Palace munggah mudun, saiki ndok divisi Championship (divisi 1) – hedi
aku termasuk jarang nonton liga inggris, tapi kalo MU yg main pasti aku nonton
Hohoho..pertama kali saya cinta MU, saat MU msh punya 2 si hitam..andy cole dan dwight yorke..he5..dulu saya dberi film dokumenter MU yg perjalananya menuju trible winner sama ayah saya, dan sjak itu saya menggilai si red devils itu..sampai sekarang..:-)
—
saya udah lihat film dokumenter itu
– hedi
roswanda:
[...saya MU hater dan merasa most of MU fans itu rata-rata orang yang ga gitu gila bola yang hanya dukung tim yang emang paling terkenal…]
Itu resikonya tim yang banyak disorot media juga yang sarat prestasi dan piala. Pasti fans Barca yang baru lumayan banyak bermuculan sekarang usai treble musim lalu. Itu hukum alam. Jika jumlah fans karbitan itu ekuivalen dengan prestasi tim, saya tidak keberatan klub yang saya sukai juga disukai para fans karbitan. Di luar kuasa Fergie untuk menentukan lebih banyak fans karbitan atau fans gila bola sejati
————
Saya mulai suka MU di akhir 1980-an, di era Bryan Robson, waktu itu entah kenapa MU disiarkan beberapa kali secara beruntun dalam siaran ulang Arena dan Juara atau Dari Gelanggan ke Gelanggang [saya lupa-lupa ingat]. Sempat terfokus pada Milan karena dua alasan: trio Belanda maen di situ [saya penggemar tim nas Londo] dan karena Seri-A disiarkan RCTI.
Tapi hausnya saya pada MU terpuaskan sejak 1992 atau 1993 saat ada tetangga yang gila bola bisa memasang parabola dan makin sempurna saat SCTV rutin menayangkan Liga Inggris. TVRI menyiarkan Liga Jerman dan saya kepincut dengan Werder Bremen dan Mario Basler muda waktu itu. Sembari belajar menganalisis bola dari Edy Sofyan dan John Halmahera.
Btw, postingan iki analitik tenan, cak!
—
Eropa, terlalu absurd jika harus mengatakan dunia, 80-an sedang dikuasai Milan, begitu keran Inggris ke Eropa dibuka diambil alih oleh MU
– hedi
saya sempet menyukai MU saat lini depannya duet york-cole
ya cuman di era itu saja…
—
betoool, duet Cole-Yorke adalah salah satu permainan efektif MU nan mematikan – hedi
gw suka liverpool mas,,,
tapi emang MU.. banyak yg suka tuh.. terutama cewek2.. gara2 si ronaldo, tapi skrg ronaldo pindah.. mungkin mereka juga suka real madrid skrg.. heehe
kalo yang asli lokal bukane NU?
berkunjung
suka MU karena kebetulan keturunan LOL
LAZIO menang….
aku (masih) gak ngerti bola
)
ah liga italia banyak golnya koq. terutama lazio dengan zeman, beppe, cashiragi, rambaudi..kayaknya mantep dulu..banyak ngegolin dan digolin..hehe..dan saya suka lazio..viva 4-3-3
—
lazio salah satu dari sedikit tim Italia yg mainnya ofensif, tapi secara umum Liga Italia memang minim gol kok – hedi
Ada beberapa hal yg saya saya tambah kan.
1. Liga Italy memang penuh intrik dan sedikit lambat
tetapi unggul dalam hal teknik.
kalau masalah mana yg lebih enak ditonton. itu ma
salah selera.
kebanyakan penggemar lga inggris lahir pertengahan
delapan puluhan.
2. Kejatuhan Liga Italy tahun 2000 an adalah karena
masalah Finansial. Klub-2 italy tidak pandai dalam
mengatur keuangan klub. dan tentu stadion yg dkuasai
pemerintah kota. Juventus tahun 2012 akan menjadi pi
onir liga italy untuk memiliki stadion sendiri
3. kalau anda bilang penggemar Manchester banyak di
Indonesia. iya saya setuju. tapi saya tidak percaya
Manchester yg terbanyak di Indonesia sebelum ada
fakta yg bisa jadi acuan. itu kebetulan bila orang
disekeliling anda adalah penggemar MU.
dikantor saya ternyata pengemar juventus 3 orang,
manchester 3 orang, Aberden 1 orang, liverpool 1
orang. dilingkungan kampus saya tahun 2000-2005
rata-2 penggemar AC-Milan. jadi masalah suporter
sangat beragam saya rasa.
4. liga Italy pernah mendarah daging di Indonesia..dan
sampai sekarang masih banyak orang yg fanatik kpd
AC Milan, juventus, Inter Milan, AS Roma, Lazio,
tapi percaya bung di Indonesia suporter AC milan
sangat banyak jumlahnya (note : saya bukan suporter
AC milan)