RSS You're reading Kurang Latihan? article on sekadarblog

Kurang Latihan?

Indonesia kalah lagi. Tak mengejutkan dan memang cuma partai persahabatan sebagai persiapan untuk melawan Kuwait minggu depan. Tapi lagi-lagi kalahnya dari Singapura.

Pelatih Benny Dollo menyebut kekalahan disebabkan waktu latihan yang sempit.

Itu komentar umum pelatih Indonesia ketika hasil pertandingan tak sesuai harapan. Sangat biasa. Tak ada yang baru.

Menyoroti waktu latihan yang sempit adalah absurd. Semua timnas di dunia hanya punya waktu latihan 2-3 hari atau seminggu paling lama sebelum kick-off. Persiapan/latihan yang lumayan panjang hanya terjadi jika tim akan tampil di putaran final sebuah turnamen besar.

Bila waktu latihan sempit yang jadi masalah, mengapa Singapura bisa menang — lepas mereka main di kandang sendiri? Toh pelatih Radojko Avramovic juga baru mengumpulkan pemainnya 2-3 hari sebelum main. Apalagi beberapa pemainnya tampil di Liga Super Indonesia.

Masalah di timnas Indonesia memang sangat kompleks. Manajemen tim nggak pernah rapi. Apalagi profesional. Pertama, mangkirnya para pemain dari panggilan kerap terjadi. Ada saja pemain yang terlambat bergabung dalam latihan. Itu jadi preseden buruk jika tak ada sanksi tegas.

Kedua, timnas selalu mengadakan uji tanding hanya menjelang partai resmi. Itu bagus dan dibutuhkan, namun tidak cukup. Pertandingan melawan Singapura kemarin adalah yang pertama bagi Indonesia sejak Januari 2009.

Lalu kemana saja mulai dari Januari hingga Oktober? Mungkin Indonesia menjadi satu dari sedikit negara (lainnya negara kecil antah berantah) yang timnasnya sangat jarang bertanding. Padahal jadwal resmi internasional (sebagai ajang untuk timnas bermain) entah partai kualifikasi atau persahabatan di Februari ada 2 matchdays, Maret (1), April (1), Mei (1), Juni (2), Juli (1), Agustus (1), September (2) dan Oktober (2). Total 13 pertandingan.

13 pertandingan, katakanlah dipakai 10 saja, adalah waktu yang cukup untuk mengumpulkan pemain, berlatih dan bertanding. Saya yakin kekompakan tim bisa terjalin. Strategi pelatih bisa dipahami karena waktu berkumpul yang konsisten setiap bulannya. Pendeknya, jam terbang pemain meningkat.

Jangan lupa, kuota jadwal itu datang dari FIFA. Artinya seluruh klub di seluruh dunia wajib melepas pemainnya yang dipanggil timnas. Itu jadwal di sela-sela padatnya kalender klub. Artinya, materi timnas komplit — kecuali ada yang cedera.

Beberapa kawan bilang pelatihnya harus diganti. Saya pesimistis. Siapapun pelatihnya, Indonesia tak akan maju jika jarang bertanding. Ironisnya, Benny bekerja di dua jabatan sekaligus; pelatih timnas dan penasehat tehnik Persija Jakarta.

Itu bukan hal aneh atau langka. Pelatih negara lain pun ada yang melakukannya, walau tak banyak. Guus Hiddink bahkan sempat memegang Chelsea sembari tetap menangani Rusia. Tapi Benny lupa, kualitasnya belum seujung kuku pelatih asal Belanda itu. Apalagi dengan materi pemain Indonesia yang untuk kelas Asean saja sudah ngos-ngosan.

© image: Lai Jun Wei/Red Sports

Ϡ

12 Responses to “Kurang Latihan?”

  1. didut says:

    bah …mo mengeluh tapi organisasinya msh kek gitu ….*keluh*

  2. nothing says:

    pelatih kurang handal di tambah sistem manajemen organisasi yang amburadul, klop dah.

  3. zephyr says:

    kurang latihan? fisik pemain yang kurang fit? banyak pemain utama yang cidera? tak adakah alasan yang lebih keren?

  4. jensen99 says:

    Pemain Indonesia susah beradaptasi dengan rekan yang jarang main bersama. Istilahnya, ga bisa langsung “nyetel”. Oleh karena itu sampai hari ini timnas kita selalu perlu pemusatan latihan berbulan2 biar bisa padu seprti kalo main di klub. Apalagi Bendol suka pake pola 4-3-3 atau 4-2-3-1 yang AFAIK tidak dipake di klub manapun. Tentu saja pergerakan pemain makin canggung.

  5. oglek says:

    ah udah biasa

  6. haris says:

    seharusnya benny didorong utk melepas jabatannya di persija. melatih timnas aja udah merepotkan. dia kan harus fokus.

  7. galihsatria says:

    Negara lain sudah pada berlari, kita masih saja jalan di tempat menyelesaikan konflik internal. Ini juga terjadi di PBSI, dimana dulu cabang olahraga ini pernah kita banggakan…

  8. bangsari says:

    olah-raga, sebagaimana jalanan, toilet dan perilaku buang sampah adalah cermin berbudaya suatu bangsa. endonesia? pengin muntah. :P

  9. morishige says:

    padahal dulu waktu zaman Ivan Kolev, Bendol ini termasuk orang yang vokal dalam mengkritik timnas. sekarang, giliran dia yang megang, sama aja. bahkan keknya lebih kacau. ckckck..

    timnas ga akan pernah berprestasi, semua tergantung materinya ;) – hedi

  10. lie says:

    Kalah lagi ya??Dah biasa itu…..yang penting pulang ke indonesia bisa nenteng belanjaan shopping dari luar negri

  11. [...] timnas Indonesia tidak memanfaatkan segala kemudahan itu. Calon latih tanding dicari dan dipilih secara sporadis dan mendadak. Padahal [...]

  12. [...] sangat jarang memanfaatkan kalender internasional untuk timnas. Ketika Indonesia dijadwalkan menghadapi Filipina [...]

Leave a Reply