RSS You're reading Salah Asuhan (1) article on sekadarblog

Salah Asuhan (1)

Ketika Liga Indonesia musim ini baru bergulir, seorang kawan merekomendasi saya untuk nonton. “Mainnya udah mendingan. Menarik!,” begitu katanya.

Saya tidak mengiyakan, tapi tidak juga membantah. Saya pun tak bertanya patokan dan perbandingan mana yang dipakai hanya untuk mengatakan bahwa permainan di kompetisi kita sudah membaik.

Tapi sejak Indonesia kalah dari Singapura, termasuk tim yunior U-19, dan U-23 yang digasak Malaysia, kami berdua berdiskusi hangat hingga jam 10 tadi malam.

“Gue setuju sama lo, sepakbola nasional ga pernah berubah. Penyakitnya ada di PSSI,” itu kesimpulannya.

Timnas kalah bukan lagi soal baru. U-19 yang digodok di Uruguay selama dua tahun, dengan dana lebih dari 5 miliar per tahun, kalah dari Jepang tujuh gol tanpa balas juga bukan hal yang bikin penasaran. Yang membuat miris adalah pasukan yunior kalah dari Singapura 0-1 dan di kandang sendiri!

Padahal Singapura dibentuk seadanya dan dalam persiapan yang minim. Sangat miris dan ironis.

Melalui Twitter, ada yang bertanya apakah jika dikirim ke Brasil dengan jangka waktu yang sama maka hasilnya akan sama? Saya yakin 100 persen, iya!

Sudahlah, hentikan pembentukan tim dengan cara instan begitu. Setahu saya, cuma Indonesia yang melakukannya di dunia ini. Parahnya, tak pernah berhasil. Brasil, Primavera Italia, Belanda dan terakhir, Uruguay; semuanya cuma nol prestasi. Jika dibandingkan dengan prestasi tertinggi terakhir Indonesia di SEA Games atau Asian Games, timnas cuma digembleng di dalam negeri.

Saya sudah berkali-kali menulis bahwa pembinaan olahraga di Indonesia salah kaprah. Tidak hanya sepakbola, tetapi hampir semua cabang olahraga. Satu yang agak lebih baik hanya bulu tangkis. Apa bedanya? Kompetisi!

Atlet bulu tangkis selalu bermain di kompetisi melalui super series-nya. Coba lihat apa yang dilakukan atlet atletik, bela diri, balap sepeda dan sepakbola? Hanya try-out! Ujicoba! kalau pun ikut kompetisi, sifatnya hanya sporadis.

Ujicoba berbeda dengan kompetisi murni. Tak ada penggemblengan mental di sana. Tak ada tempaan skill dan tehnik yang sesungguhnya karena lawan pun pasti menurunkan standarnya karena takut cedera dan sebagainya.

Hanya kompetisi yang menjadi satu-satunya kawah candradimuka. Di sinilah terjadi penggojlokan mental, skill, tehnik dan manajemen bermain. Ada tuntutan untuk terus mempersiapkan diri supaya tidak terjungkal di laga berikut. Ada pula tanggung jawab dan penilaian demi sebuah solusi. Ada siklus. Ada reward and punishment.

PSSI mengirim tim yunior ke Primavera atau Uruguay untuk menjalani kompetisi. Takjub! Mengapa PSSI tidak membentuk saja kompetisi tingkat yunior di dalam negeri. Dari pada membuang uang miliaran rupiah ke luar negeri, mengapa tidak digunakan untuk meneruskan kompetisi level bawah sekelas Piala Suratin, misalnya?

Sampai saat ini, PSSI tak pernah punya cetak biru pembinaan sepakbola nasional seperti yang dimiliki Singapura, Malaysia, Thailand, atau negara-negara maju lain dengan meniru Inggris atau Jerman yang punya sistem bernama Piramida Kompetisi.

Sistem Piramida menitikberatkan kompetisi paling bawah sebagai penunjang yang di atas. Inilah ajang para pemain yunior calon pemain masa depan yang masih berusia 5, 10, 12, 15, dan 17 tahun.

“Tapi sangat sulit membuat kompetisi model itu di Indonesia karena bentuk geografisnya. Belum biayanya.” Untuk soal itu, biar PSSI yang berpikir. Saya yakin orang-orang di Senayan itu mampu. Masalahnya, mau atau tidak?

© image: pssi-football.org

Ϡ

16 Responses to “Salah Asuhan (1)”

  1. arya says:

    PSSI ki gobloooookkkkkkkkkkkk pol. dikritik sana sini ngga pernah mau denger. goblok dan beballllllll

  2. […] This post was mentioned on Twitter by indonesiasatu, Hedi. Hedi said: Timnas cuma salah pengasuh dan juga asuhannya :D http://bit.ly/1DmlTK #PSSI #whatswrongwithpssi […]

  3. morishige says:

    tau tuh. udah 2 tahun main di Uruguay, masiiiih aja kalah. balik aja deh mending. ngabis2in duit rakyat aja.

  4. bangsari says:

    aha! badminton, olahraga yang saya sukai, juga selalu hampir menjadi korban kepentingan yang ndak jelas. masih ingat kasus taufik hidayat yang kabur ke singapura? atau kaburnya mia audina? atau tony gunawan yang ke amerika? dan masih banyak lagi.

    intinya, terlalu banyak yang ingin dikatakan sebagai pembina keberhasilan cabang olah raga. cilakanya, mereka justru jadi penghancur kemajuan olahraga tersebut.

    pembina di sini ga ngerti cara ngebina :( – hedi

  5. didut says:

    pokoknya perombakan dimulai dulu dr yg paling atas

  6. nothing says:

    hahaha, ga sabar nunggu `salah asuhan II` hehehe

  7. ardianzzz says:

    hahaha.. mungkin yang mereka (PSSI) pikirkan sekarang ini adalah bagaimana mengatasi tawuran

  8. Zephyr says:

    nasionalisme kita (apa hanya saya?) terhadap Timnas sudah mulai luntur.. :mrgreen:

    .
    .
    .
    .
    jadi inget, dulu hampir jadi atlet Taekwondo :cool:

    nasionalisme jangan dipersempit, mas… :D – hedi

  9. emang ngebinanya ga serius.. kl pun serius, ga ngerti cara yg pas.. jadinya ya ga pernah berhasil..

  10. soalnya kalo cuma dilatih di dalam negeri cuma sedikit duit yang bisa ditilep pengurus. Kalo keluar negeri khan bnyak yang bisa “dimainkan”. Duit makan, transport, hotel, biaya pelatih, pengurusan paspor, visa dan masih banyak lagi. :D


    sampeyan bisa aja ;) — hedi

  11. arista says:

    tulisan yang menarik, warga bolaria ya

    betool bolaria, ayo main bola dgn kata2 :) – hedi

  12. haris says:

    menarik, mas hedi. kompetisi yang teratur memang akan mengembangkan kemampuan pemain secara pelan2 tapoi berkelanjutan. pertanyaannya, masak sih orang2 PSSI belum pernah mikir kayak gini? lucu sekali kalo belum.

    sangat tidak lucu :P – hedi

  13. fan says:

    sorry sblmnya ya . tapi, yang gue liat, n yang bakal gue liat ntar d masa dpn, Indonesia, akan lebih baik di angkatan tahun kelahiran 1992 ke bawah artinya, timnas u19, u-16, atau yang lebih bawahnya lagi …

    emng sih skrng timnas senior n timnas 23 menjadi kuang di mata kita, tapi menuut gue, setelah melihat permainan timnas u-19, dan kelompok umur d bawahnya, mainya lbh baik d banding senior dan 23 .

    gueliat timnas u-19 ga sia2 sebenrnya. klmpok d bawahnya jg sama, mengalahkan thailand. emng g di sangka2. tp percayalah, kalo terus d olah, Indonesia akan setara tim2 di asia yang juga setara dgn tim eropa . ga ada yng mustahil sebenarnya .

  14. […] itu. Ini bukti bahwa pemain kita miskin improvisasi karena terkebiri kompetisi. Tapi ini juga bukan salah pemain semata. Kembali, ini muara kesalahan klub dan kompetisi di Indonesia yang tidak jelas […]

  15. Registery says:

    Pengennya instant, hahaha..
    Setuju apa kata empunya blog, perlu perbaikan kompetisi mulai dari usia mudanya


    tanpa itu, lupakan prestasi hehehe – Hedi

  16. […] ini juga bukan salah pemain semata. Kembali, ini muara kesalahan klub dan kompetisi di Indonesia yang tidak jelas […]

Leave a Reply