&mdash November 13th, 2009 {8}
Dulu, Peter Withe pernah mengatakan bahwa pemain Indonesia punya skill terbaik di Asia Tenggara. Tak ada yang mengalahkan. Tidak Thailand, Singapura, Vietnam, apalagi Malaysia.
Ivan Kolev mengatakan hal serupa. Steve McMahon, eks pemain Liverpool dan kini menjadi komentator EPSN, juga bilang begitu.
Semua benar. Indonesia punya catatan panjang soal sepakbola — khususnya sampai era 80-an. Kita dulu raja di Asia walau belum pernah juara. Minimal ada di empat besar di bawah Korea Selatan dan Utara serta di atas Burma (kini; Myanmar). Negara-negara Arab, Jepang, Thailand dan yang lain masih belajar nendang bola, kita sudah merajalela.
Melihat skuad Indonesia U-19 main sejak pertama pun saya harus salut pada skill individu mereka. Jadi apabila bisa menang telak 6-0 atas Cina Taipei tadi sore pun saya tidak heran.
Tapi masalahnya, sepakbola adalah permainan tim. Individu jago sekelas Cristiano Ronaldo pun tak akan bisa apa-apa bila secara tim justru tampil buruk. Ibraratnya, pemain Indonesia itu tidak ditajamkan dengan asahan yang baik dan benar.
Timnas Indonesia lebih sering tampil buruk. Bahkan bila dibandingkan Malaysia. Bangunan serangan dan alur bola terlihat berantakan, jika tak mau dibilang timnas kita main tanpa pola yang jelas. Mungkin banyak pemain belum mengerti bahwa permainan membutuhkan aliran, tak bisa instan.
Pemahaman seperti ini bukan hanya tanggung jawab pelatih nasional. Saya selalu katakan bahwa tugas pengembangan skill pemain ada di tangan pelatih klub. Pemain itu sehari-harinya ada di klub dan apabila mereka gagal di timnas maka tanggung jawab juga harus dibuat oleh pelatih klub yang menyumbang pemainnya.
Dari apa yang saya lihat di Liga Super Indonesia, memang sudah ada yang bermain rapi. Namun lebih banyak kesan memainkan umpan panjang yang justru akan sia-sia ketika bertemu lawan dari luar negeri. Umpan bola daerah nan panjang menjadi sangat tak efektif karena tak mungkin dilakukan terus menerus. Kasihan striker-nya, bisa mati di tengah lapangan.
Namun membina pemain di liga juga tak sesederhana yang dipikir. Unsurnya sangat kompleks, teknik dan non teknik. Kompetisi yang tak sehat, tak lengkap kastanya dan lapangan yang bergelombang layaknya ajang buat motocross. Singkatnya, pelatih dan pemain mendapat lingkungan yang kurang mendukung. Akan sangat panjang diurai di sini.
Satu hal, setelah melihat Indonesia U-19 tadi sore, saya bertanya-tanya mengapa tak bisa bermain seperti itu ketika kalah dari Singapura dan Jepang. Saya tak memedulikan soal skor akhir, tapi permainan. Jawabannya terletak pada masalah mental. Pemain Indonesia sudah dikenal mudah kalah sebelum bertanding jika bertemu tim besar. Disiplin juga menjadi catatan. Pemain Indonesia sering bertindak kelewatan di saat akan bertanding. Misalnya, pelesir (termasuk seks yang sering digosipkan) hingga larut malam. Itu sangat sering terjadi, apalagi jika bermain di luar negeri.
Jika sudah begitu, bukan hanya pengasuh yang salah, tapi juga pemainnya. Dokter yang paling jitu tak akan berhasil mengobati pasien apabila sang pasien tak mau meminum obat yang diberikan sang dokter.
Pemain Indonesia harus punya kebanggaan mengenakan Garuda di dadanya. Seringkali semangat dan determinasi militan bisa mengalahkan skill, yang penting disiplin. Alcorcon yang tim amatir pun bisa mengalahkan Real Madrid. Dalam sepakbola apapun bisa terjadi. Yang penting usaha dengan baik dan benar dulu, soal hasil biar nanti saja.
hiks..iya, mental wong indonesia kebanyakan…kalo ngadepin bule, walopun item sudah minder duluan..
pssi dengan berbagai persoalannya jelas jelas mencerminkan wajah bernegara kita secara umum. semua bisa diatur. dan semua jadi kacau balau. akhirnya orang cari kaya (bukan cuma selamat) sendiri-sendiri.
cen sepakbal endonesa ki salah asuhan tenan…
yups, bener kata mas hedi van gal, belum ada klub endonesa yang punya alur serangan bagus, semuanya tipikal liga endonesa, umpan umpan panjang dari tengah ke depan, ga efektif dan monoton
dari PSSI, penyakitnya merembet ke PLN..
*anyel karo PLN sing ngawur*
“membina pemain di liga itu kompleks”. dan tetep aja PSSI salah karena dari bertahun2 yg lalu perkembangannya ga ada, malah menurun. dulu kita kl piala tiger selalu ke final ketemu thailand. sekarang bisa ngelewatin singapura sama vietnam aja udah bagus..
kl mental bertanding, saya juga ga tau knp bisa begitu yah. main di kandang sendiri lawan jepang, knp jiper.. malah harusnya jepang yg jiper ngeliat sepak bola indonesia sering rusuh..
Permasalah mental terlihat kembali ketika timnas senior kemarin kalah 1-2 dari Kuwait. Padahal udah sempat unggul dulu 1-0. Dan permainan timnas sempat terlihat bagus beberapa saat setelah unggul. Semuannya ancur, ketika kuwait berhasil menyamakan kedudukan lewat penalti.
Bener-bener dah ah…. Untuk kesekian kalinya kecewa. *nepok jidat*
Indonesia memang perlu belajar banyak menjaga emosional saat bertanding. Lihat pertandingan kedua lawan KUWAIT, sudah bagus unggul 1-0, ismed yang tau kalo dirinya udah kena kartu kuning, masih saja bersikap kelewatan dalam menghalau lawan, padahal tindakannya ga terlalu penting untuk dilakukan disaat itu. Alhasil sejak babak kedua, Indonesia main dengan 10 orang, ga ciamik lagi mainnya, merusak keseluruhan permainan.
Itu bukti kalo emosional pemain timnas masih perlu perbaikan.
NB: nice blog..
yg terpenting tanamkan jiwa patriot,baru bertarung. contohnya germany bisa menjuarai 3 piala dunia,4 eropa padahal germany tdk punya skill individu, jepang menjuarai 3 piala asia berhasil mengalahkan denmark. semua itu di lakukan dengan jiwa patriotik, bukan skill dan ke egoisan. renungkanlah wahai pemain indonesia