RSS You're reading Sutikno Hanya Korban Salah Asuhan* article on sekadarblog

Sutikno Hanya Korban Salah Asuhan*

Gelandang Persitara Jakarta Utara, Sutikno, kini menjadi pesakitan setelah menekel secara brutal bek sayap Persebaya Surabaya, Anang Maruf, hingga cedera dislokasi siku tangan.

Tak pelak semua pihak meminta Sutikno dihukum sangat berat. Bahkan Komisi Medis PSSI pun ingin pemain berusia 24 tahun itu diganjar hukuman seumur hidup akibat perbuatannya.

Apa yang dilakukan Sutikno pekan lalu memang tak bisa dibenarkan dalam panggung sportifitas olahraga. Kadarnya hanya berbeda tipis dengan tindakan pemain Persela Lamongan Denny Tarkas yang melabrak gelandang Bontang FC Jumadi Abdi hingga menimbulkan kematian tahun lalu.

Tapi tindakan Suktikno dan Tarkas juga dilakukan oleh mayoritas pemain di Liga Super Indonesia atau divisi-divisi bawahnya. Di Indonesia tak ada istilah permainan keras. Yang biasa terjadi pada prakteknya adalah permainan kasar.

Tim nasional Thailand bahkan pernah menyebut pemain Indonesia bukan bermain sepakbola, tetapi olahraga rugby yang mana menabrakkan diri sekerasnya ke tubuh lawan dihalalkan. Contoh terbaru pun memperlihatkan bagaimana tim U-23 Indonesia, yang sedang dipersiapkan tampil di SEA Games Laos 2009, juga bermain kasar saat sedang berujicoba dengan tim Malaysia di Palembang tengah pekan lalu.

Ada kesan para pemain Indonesia belum mengerti batasan keras dan kasar. Eks pelatih timnas Peter Withe pernah mengeluhkan bagaimana mudahnya pemain Indonesia menerima kartu kuning di laga internasional. Pemain Indonesia terbiasa mengawal lawan dan mengambil bola dengan tindakan berlebihan, misalnya menabrakkan tubuhnya, tanpa memikirkan kemungkinan apakah bola bisa dikuasai atau tidak.

Itu semua karena kebiasaan bermain. Sebuah perilaku yang sayangnya tidak baik dan tidak juga benar. Pemain tak bisa disalahkan sepenuhnya. Mereka punya pelatih dan juga ada wasit di lapangan yang (seharusnya) berhak melakukan pembinaan.

Wasit di kompetisi Indonesia tak pernah melakukan tindakan persuasif seperti yang biasa dilakukan wasit di Liga Premier. Wasit jarang kelihatan memberi petunjuk atau nasehat kepada pemain yang melakukan pelanggaran, termasuk pelanggaran yang tak terlalu keras sekalipun. Belum pernah terlihat pula wasit Indonesia menerapkan kebijakan 10-20 menit yang sering diagung-agungkan FIFA. Apa itu kebijakan 10-20 menit?

Ini adalah kebijakan dalam menerapkan keputusan keras (strict). Wasit akan langsung memberi kartu kuning ketika ada pelanggaran keras di 10 menit pertama. Ini adalah tindakan shock therapy sehingga pemain lain tak akan melakukan hal serupa. Berikutnya wasit akan menurunkan tensi policy-nya selama 20 menit. Tetapi bila setelah itu ada permainan keras lagi maka kebijakan keras selama 10 menit kembali berlaku. Begitu seterusnya.

Seperti juga halnya skill, maka mental bermain kasar adalah tugas pelatih untuk membenahi dan membinanya. Pelatih Inggris Fabio Capello pernah mengatakan bahwa seorang pelatih juga harus bertindak sebagai psikolog bagi para pemainnya. Di Indonesia, kredit besar patut dialamatkan pada pelatih Pelita Jaya, Fandi Ahmad, yang melarang pemainnya melakukan permainan kasar. Dia juga mengajari bagaimana cara bermain keras, bukan kasar. Ironisnya, dia orang Singapura. Kemana pelatih Indonesia?

Apa yang dilakukan Sutikno dan Tarkas seharusnya menjadi pelajaran bagi semua pihak; pemain, pelatih, wasit, pembina klub dan sepakbola Indonesia. Semua saling terkait. Menghukum Sutikno seumur hidup juga tidak beralasan. Belum pernah ada pemain dihukum selama itu, di manapun, kecuali dia terlibat narkoba atau doping seperti halnya Adrian Mutu saat memperkuat Chelsea.

Bek Birmingham City Martin Taylor pun akhirnya hanya dihukum sebulan oleh FA seusai mematahkan kaki dan engkel striker Arsenal Eduardo da Silva pada taun 2008. FA menolak usulan FIFA agar Taylor dilarang main seumur hidup.

Dalam kasus Sutikno, hukuman yang paling adil mungkin adalah selama Anang tak bisa bermain. Mungkin dua-tiga bulan sudah cukup. Yang diperlukan adalah efek jera, bukan masalah durasi. Bukan hanya bagi Sutikno pribadi, tapi juga pemain lain. Lagi pula, sekarang Sutikno pasti mengalami depresi seperti halnya Taylor dulu. Dan yang paling penting, hukuman yang sudah dikeluarkan jangan lagi dianulir — meski dengan embel-embel hak prerogatif Ketua Umum PSSI.

*Tulisan ini juga di-cross posting ke dua situs lain. Mohon maaf jika tak menyertakan link pendukung & gambar.

Ϡ

12 Responses to “Sutikno Hanya Korban Salah Asuhan*”

  1. seharusnya sportifitas harus dijunjung tinggi sekali dalam sepakbola. TIdak hanya kemenangan

  2. galihsatria says:

    Nampaknya memang sepakbola Indonesia berada beberapa level di bawah sepakbola internasional…

  3. nothing says:

    ya hukumlah sepantasnya itu sutikno, ga usah sampe seumur hidup. biar ada efek jera.
    masalah 10-20, saya pernah dengar, tapi belum merasakan praktiknya di liga endonesa

    ini sekedar guyon, jangan di masukkan ke hati ya…,
    kalo laga persitara kontra bajul ijo di gelar di Solo atau sebuah tempat di Jawa Tengah, pasti deh si sutikno akan ditangkap polisi Polres atau Polda Jateng, hehehehe, dianggap berbuat kriminal.. hahaha maaf, saya ngaco.

  4. haris says:

    pemain sepakbola indonesia bermain rugby? saya kira itu benar mas! pemain indonesia itu total sekali dlm bermain, sampai2 mereka mau hajar2an. :D

  5. zam says:

    hanya rugby? kukira udah bermain taekwondo.. :D

  6. Raffaell says:

    Berarti pemain indonesia cocok nya maen rugby aja ya pak, hehehehe, pasti jadi juara dunia tuh

  7. bangsari says:

    Dan yang paling penting, hukuman yang sudah dikeluarkan jangan lagi dianulir — meski dengan embel-embel hak prerogatif Ketua Umum PSSI.

    hahaha. iki seneng bagian iki. nendang!

    *Tulisan ini juga di-cross posting ke dua situs lain. Mohon maaf jika tak menyertakan link pendukung & gambar.*

    menurutku malah lebih baik begini. maksude, lebih mudah bagi pembaca. memantau banyak situs atau rss bikin pusing euy…

  8. jensen99 says:

    Syukur2 cederanya bukan di kaki…

  9. adipati kademangan says:

    lah ini yang luka tangan lhoh, bukan kaki

  10. didut says:

    *bingung mo komen apa*

  11. ayip_eiger says:

    setuju tu..

    waktu nonton Indo v/s Kuwait, indonesia yang lebih dulu unggul 1-0 gagal total bermain apik gara-gara Ismed Sofyan yang melakukan pelanggaran yang tidak perlu, tidak penting, dan sangat merugikan sehingga indonesia bermain dengan 10 pemain. Indonesia masih perlu belajar banyak bagaimana bermain baik tanpa harus menggunakan kekerasan.

  12. zacky says:

    diindonesia sepak bola masih dalam perjuangan, bukan karir. kalo emang karir, itu sudah pasti mengerti cara mencari uang dipersepakbolaan tanah air, saling melindungi dan tidak saling mencederai. masalah hhukuman sutikno, saya katakan memang ksarr, sangatt kasarrrr, tapi hukuman nominal ung 25 juta menurut saya terlalu berat. gaji pemain ISL sekelas tikno itu lo berapa?? 2 milyarr 1 bulan baru nggak papa.. !!! saya rasa cukup sudah hukuman bagi tikno. tapi perlu diawasi permainan tikno yang masih masih masih sangattt kasarrr….

Leave a Reply