RSS You're reading Kemana Pemain Tionghoa? article on sekadarblog

Kemana Pemain Tionghoa?

Olahraga Indonesia banyak didominasi oleh kaum Tionghoa. Bahkan bulutangkis sejak jaman dulu selalu menghadirkan bintang dari kalangan Tionghoa yang lebih banyak ketimbang ras lainnya di Indonesia. Sampai-sampai ada anekdot bahwa orang Tionghoa itu dilahirkan hanya untuk berolahraga bulutangkis. Jago banget kalau disuruh main tepok bulu. :D

Bukan, ini bukan masalah rasisme. Juga bukan soal dikotomi pribumi non pribumi. Ini hanya sebuah pemetaan. Katakanlah begitu.

Sepakbola Indonesia sebenarnya juga punya catatan panjang mengenai keterlibatan kaum Tionghoa, terutama di masa penjajahan Belanda hingga 60-an.

Sebut saja nama-nama mereka, misalnya; Chris Ong, Arief Kusnadi (Kiat Sik), Thio Him Tjiang, Peng Hong, Alai, Thio Him Toen, Kwee Kiat Sek dan sebagainya. Itu belum termasuk mereka yang menaturalisasi namanya dengan nama lokal. Misalnya seperti pelatih Sartono Anwar yang kini punya anak sebagai bek tengah Indonesia dan Persib Bandung, Nova Arianto.

Namun keterlibatan kaum Tionghoa di sepakbola nasional makin menciut. Selain Nova, nyaris tak ada lagi. Satu dekade terakhir sempat ada bapak dan anak; Harry dan Edward Tjong. Tak heran muncul pertanyaan kemana pemain Tionghoa di lapangan hijau? Padahal di cabang lain, selain bulu tangkis, tetap ada representasi kaum Tionghoa.

Sebutlah di tinju ada Chris John, kemudian renang, balap mobil, sepeda gunung, bela diri, bola basket dan termasuk pula futsal — anak tiri sepakbola.

Keterlibatan Tionghoa di sepakbola pada awalnya, akhir abad 19, memang sebuah citra perlawanan terhadap (penjajahan) Belanda. Dalam buku Politik dan Sepakbola karangan Srie Agustina Palupi dijelaskan soal itu. Tionghoa enggan disebut sebagai warga kelas dua sehingga sempat ada Chinesesche Java Voetbalbond (CJV) di awal abad 20 yang memicu pula bond-bond bumiputera di seluruh Indonesia pada tahun 1930. Lalu muncul pula sosok pelatih legendaris Endang Witarsa yang bernama lahir Liem Soen Joe.

Sepakbola, seperti juga olahraga lain, pada perkembangan berikutnya bukan lagi alat perjuangan (politik) semata, tapi juga hiburan dan nafkah — dalam konteks modern. Kaum Tionghoa jaman sekarang masih menggemari sepakbola. Jika anda kebetulan melihat kompetisi permainan video game sepakola, jagoannya kebanyakan kalangan Tionghoa. Acara nonton bareng bal-balan luar negeri di kafe pun banyak disaksikan kalangan mereka.

Tapi melihat mereka di lapangan hijau stadion lokal akan sangat sulit, mendekati nihil.

Ini mungkin ada kaitannya dengan dua faktor; sepakbola Indonesia itu sendiri dan penontonnya. Kaum Tionghoa adalah warga kelas menengah yang sesuai kastanya akan mencari kenyamanan. Datang ke stadion lokal yang kualitasnya jauh dari nyaman tentu belum bisa menggugah generasi mereka jaman sekarang.

Jangankan mereka, kelas menengah non Tionghoa pun segan untuk masuk ke dalam stadion. Barangkali menyaksikan Liga Indonesia di televisi pun tidak. Pendeknya, sepakbola Indonesia adalah nomor buncit buat mereka, bahkan bisa jadi jauh di bawah cabang olahraga lain. Sesekali saja mereka ikuti dan mungkin hanya mengikuti perkembangan dari berita.

Jika menonton saja sangat minim, bagaimana mereka yang masih yunior tertarik untuk main secara serius (profesional). Pendapatan profesi pesepakbola Indonesia sekarang ini tidak lagi jelek. Sebagai pemain cadangan yang sangat jarang tampil, anda masih bisa mengantongi uang 2 juta rupiah per bulan. Tapi saya yakin masalahnya bukan hanya soal pendapatan, tapi juga tidak/belum elite-nya citra sepakbola Indonesia.

Citra sepakbola sebenarnya sangat penting untuk menjaring semua golongan dan kepentingan. Jika di masa revolusi bisa sebagai alat perjuangan, mengapa sekarang tidak lagi — katakanlah untuk kepentingan sosial. Buruknya pengelolaan sepakbola nasional sudah menyebalkan bagi banyak kalangan, apalagi kaum Tionghoa. Saya yakin jika ada pertanyaan; lebih baik berdagang atau main bola, pasti jawaban mengarah ke pilihan pertama. Di mana lebih kondusif, mereka pasti mengarah ke sana.

Mereka pasti berpikir, menggemari sepakbola tak berarti harus main. Jika pun harus main, masih ada futsal. Tempat nyaman, keringat dapat dan hobi pun tersalurkan. Mau apa lagi? ;)

NB: Mohon maaf, baru bisa nulis sekarang, bos :D

© Image Endang Witarsa: Koran Tempo

Ϡ

14 Responses to “Kemana Pemain Tionghoa?”

  1. didats says:

    padahal, kalau semua mau open minded, sepakbola bisa jadi alat pemersatu bangsa.

    apalagi, kalau salah satu dari kaum tionghoa jadi pahlawan tim nasional indonesia. bisa2 rasa kesukuan luntur semua. yang ada cuma tinggal nama indonesia.

    tapi, tunggu si nurdin dan kroni2nya turun dulu deh.

  2. morishige says:

    kalau saya lihat, saudara2 tionghoa kita itu memiliki komitmen dan dedikasi yang tinggi pada bidang yang mereka tekuni. mereka mau bekerja keras untuk tampil menjadi yang terbaik dalam bidangnya masing-masing. itu kelebihan mereka… :D

  3. galihsatria says:

    Pendapatan profesi pesepakbola Indonesia sekarang ini tidak lagi jelek. Sebagai pemain cadangan yang sangat jarang tampil, anda masih bisa mengantongi uang 2 juta rupiah per bulan.

    Karir di sepakbola hanya sebentar mas. Paling setelah umur 32 tahun tidak dipakai lagi. Padahal investasi waktunya begitu besar untuk menjadi pemain sepakbola pro. Dan apakah karir di luar pemain di dunia sepakbola menjanjikan? Itu saya kira juga menjadi salah satu faktor.

  4. bangsari says:

    aha! aku seneng tulisan iki.

    konon, pada cabang olah raga apa pun yang banyak orang tionghoa-nya, bisa dipastikan cabang itu pasti maju. entah karena faktor tionghoa-nya, atau karena, seperti yang sampeyan bilang, cabang itu memang sudah mapan dan menghasilkan uang.

    saya sendiri setuju dengan faktor pertama. bulu tangkis contohnya. pada masa eranya susi susanti (alan budikusuma, adi bw wiranata, dll dimana sangat banyak etnis tionghoa di situ, badminton sangat kuat dan selalu ditayangkan tv. setelah itu, tak lagi bertaji di asia. kalah jauh dengan china, mulai tertinggal dari korea dan malaysia. bahkan beberapa saat lalu ada berita pemain pelatnas kalah dari pemain negeri antah berantah. nah, lho!

  5. Vicky says:

    Percayalah, Mas Hedi. Jauh lebih menguntungkan membangun karier kewirausahaan semenjak usia yunior, ketimbang susah-payah jadi atlet sepakbola. Lihat Susi n Alan, setelah berprestasi puncak pun, ujung-ujungnya jualan raket juga..

  6. nothing says:

    orang arab juga dikit yang main olahraga. mereka sepertinya lebih suka dagang lebih banyak untungnya

  7. Jauhari says:

    di Indonesia walaupun kata @didats bisa jadi pemersatu bangsa, tapi AMBURADULnya si PSSI dengan masih banyaknya pemain tidak sportif, penonton dan kadang pemain tawuran.. hal itu bagi orang Tionghoa kurang menjual.. akhirnya banyak yang lebih memilih ke olahraga yang BASAH dan kalaupun tidak lebih elit (bagi mereka) seperti BASKET dan tentu saja TAMPOL BULU ;)

  8. Nazieb says:

    Bisa jadi memang karena ke-tidak-elite-an sepakbola kita. Mungkin sepakbola kita dianggap sebagai permainan “kampung” yang tidak berkelas yang hanya ditujukan untuk orang-orang yang kurang berada.

    Jadi inget di kampung dulu, ada tetangga keturunan Tionghoa yang ga pernah mau diajak maen bola. Sukanya maen video game di rumahnya, dan jaman itu cuma dia yang punya video game di seluruh kampung :D

  9. Mungkin @jauhari benar. Buktinya di basket masih banyak keturunan Cina. Di sisi lain, bal-balan sebagai kegiatan main-main, masih laku kok di kalangan keturunan Cina. Lihat saja di sekolah-sekolah saat jam bebas. Lapangan basket kadang berubah jadi ajang bal-balan. Teman-teman SMA saya dulu, yang keturunan Cina, juga banyak yang bal-balan dalam pengertian “serius”: saban sore bawa sepatu, pake seragam, main di lapangan. Mainnya ya sama anak-anak non Cina.

  10. rental mobil says:

    aku pikir bermain tepok bulu bukan hanya sekedar dimiliki oleh etnis tionghoa malah sebaliknya etnis pribumi pun banyak yang gemar dan memiliki kemampuan yang lumayan.

  11. ayip_eiger says:

    Sudah tepat alasan yang dikemukakan Mas Hendy, sepakbola bukan lagi olahraga elite. Karena untuk menjadi pro proses nya sudah cukup berat. Mulai bergabung dengan tim kecil dengan fasilitas lapangan yang tidak mendukung sulit untuk mengembangkan permainan dan skill. Dari segi kenyamanan hal semacam ini memang dikira-kira secara logika ga masuk lah. Apalagi iklim dagang di Indonesia lagi berkembang pesat, keuntungan jual HP BlackBerry di counter bisa lebih banyak ketimbang jadi pemain cadangan kan?

  12. nade ilakes says:

    tulisan ini menjawab semua pertanyaan yang lama bercokol di benak saya -seperti: kalau PNS aja banyak yang dari keturunan tionghoa, kenapa tidak di sepakbola?. Terimakasih banyak. Bravo Sepakbola Indonesia!

  13. klobot says:

    selama saudara2 warga negara indonesia keturunan cina (tionghoa) enggan main bola, maka jangan harap sepakbola indonesia bisa maju! kenapa? karena mereka main bola tidak cuma pakai otot, tapi juga dengan menggunakan otak dan semangat! ga percaya? terserah ente.

Leave a Reply