&mdash January 7th, 2010 {29}
Ya, kami memang manusia gila. Segila-gilanya. Anda yang tak gemar sepakbola pasti mencibir. Sebuah kewajaran. 
Bagaimana mungkin sepakbola Indonesia yang jauh dari bermutu, baik dari sisi tehnik maupun hiburan, justru tetap digandrungi masyarakat. Nyaris tak pernah ada stadion kosong di seantero negeri ketika ada pertandingan sepakbola.
Saya harus katakan, masyarakat Indonesia memang “gila bola”. Pertandingan apapun. Level apapun. Saya tak bisa membayangkan andai tim nasional bisa juara Asia, kemudian Dunia. Jika itu terjadi, saya yakin stadion di seluruh Indonesia harus di-upgrade kapasitasnya — termasuk Stadion Utama Bung Karno. Bisa-bisa negeri ini mengalahkan Brasil dan Inggris dengan slogan Football is about religion and culture.
Lihatlah bagaimana kecintaan berbalut kegilaan itu muncul di Senayan kemarin malam. Yakinlah, malam itu “Garuda Senior” bermain bak pemain baru belajar sepakbola. Itulah kualitas sesungguhnya tim kita. Bukan barang baru. Pun demikian hasilnya.
Tapi sebenarnya sepakbola Indonesia punya potensi. Sekali lagi, dengan jumlah pendukung yang bejibun dan stadion yang tak pernah sepi, seharusnya Indonesia bisa merajai minimal Asean — seperti yang terjadi pada era 60, 70, 80 dan awal 90-an. Bekas pelatih Indonesia, Peter Withe dan Ivan Kolev, menyebut keunggulan kualitas individu pemain Indonesia terbaik di Asean. Yang terjadi di sini hanya salah urus.
Melawan Oman, kita terlihat bobrok secara tim. Oman hanya bermain sesuai text book, tidak terlalu istimewa sebenarnya. Masalahnya, kita justru tidak jelas menggunakan kamus sepakbola dari mana. Fisik dan stamina yang cupret. Rotasi dan posisi pemain yang sangat absurd, kebalikan dari Oman. Padahal skill individu Indonesia diakui bagus oleh pelatih lawan. Namun skill tanpa manajemen yang rapi tak ada artinya.
Sekali lagi, itu bukan barang baru. Kekalahan adalah hal biasa bagi timnas. Permainan dengan tingkat kesalahan elementer juga sebuah kebiasaan.
Yang diinginkan oleh masyarakat gila ini sebenarnya hanya melihat mereka bermain bagus, baik dan benar. Mereka tak melulu menuntut hasil positif, meski berharap demikian. Contoh soal itu sudah ada di Piala Asia 2007. Kita tak lolos dari grup, tapi dengan cara terhormat. Permainan yang positif, dengan pendekatan mental yang positif pula. Soal hasil akhir, itu hanya karena kualitas tim kita memang masih di bawah Korea Selatan dan Arab Saudi. Jujur saja, walau tipis.
Tapi bila harapan untuk melihat permainan yang membangun pun tak terpenuhi, jadilah sosok Hendry yang mencuat. Mendapatkan tiket dengan susah payah, termasuk saya, berdesakan di pintu masuk yang menyerupai bottle neck, bertukar keringat dengan bau aneka rupa dan duduk di tribun yang jauh dari kenyamanan kelas satu bak stadion dunia akhirnya menjadi pelengkap detonator.

Sosok Hendry yang menjadi “pemain ke-12″ adalah sebuah tamparan telak bagi pengelola sepakbola Indonesia. Inilah demonstrasi paling luhur di ajang sepakbola. Dia salah karena menerobos keamanan. Dia salah menurut hukum acara pertandingan. Tapi sikapnya jauh dari salah. Dia mau menunjukkan bahwa semua ini demi “kegilaan”.

Seharusnya pengelola sepakbola Indonesia bersyukur. Penonton pulang dengan tertib dan nyaris tak ada gangguan ketertiban. Suporter kecewa, tapi mereka menerima. Saya yakin mereka akan kembali ke stadion ketika “Merah Putih” bertanding lagi. Mereka juga masih akan tetap membagi kesenangan yang sama antara Liga Indonesia dan liga-liga Eropa itu.
Mereka masih rindu pariwisata stadion. Itu yang terjadi kemarin malam. Aksi foto-foto bak sebuah acara temu kangen adalah kejadian wajar di tribun. Mereka bahkan tak hanya bermodalkan kamera foto, tapi juga kamera video. Belum lagi dengan makin banyaknya wanita kinclong yang datang. Sungguh ini cuma ada di Indonesia. Di balik keburukan, tersembunyi sebuah suka cita.
Tapi pengelola sepakbola juga harus bisa membalas kecintaan dan kegilaan itu sekaligus. Tunjukkan bahwa anda sama gilanya dengan kami. Buktikan bahwa anda bisa bertanggung jawab agar kebobrokan permainan tak terjadi lagi, di seluruh level. Bila gagal, anda tak punya kecintaan dan kegilaan yang sama. Jika hanya anda yang waras, sementara seluruh publik sepakbola gila, maka itu tidak fair. Itu justru abnormal. Malangnya, itu sudah kronis dan harus cepat diobati.
© Image 2: Tweetphoto @casiraghii
Hendri bukan gila, ia hanya ujud akumulasi rakyat yang putus asa taktahu harus gimana
—
memang bukan gila, tapi “gila” dan sekaligus geram
– hedi
penonton gila, pengurusnya (pssi) ndak pernah waras.
tapi itu potret negeri ini yang morat marit.
eh aku kok terharu ya baca postingan kang hedy ini, terutama bagian yang ini:
Mereka masih rindu pariwisata stadion. Itu yang terjadi kemarin malam. Aksi foto-foto bak sebuah acara temu kangen adalah kejadian wajar di tribun. Mereka bahkan tak hanya bermodalkan kamera foto, tapi juga kamera video. Belum lagi dengan makin banyaknya wanita kinclong yang datang. Sungguh ini cuma ada di Indonesia. Di balik keburukan, tersembunyi sebuah suka cita.
—
kalo liat di sana langsung pasti lebih trenyuh, Chi
– hedi
ya ya dibalik semua kepahitan dan kesedihan, masih banyak sosok yang mencintai negeri ini ternyata
tulisan bagus. bagus banget.
sam, mbok sampeyan wawancara sama si NH trus di posting di sini
—
wah wis tuwuk interview NH, tapi ga dipost nang kene
– hedi
like this!!!
semoga saja, sepakbola bukan sekadar pelipur lara, tapi juga salah satu cara hidup bermartabat dan memunculkan rasa setara di antara warga dunia lainnya.
Sebuah kado awal tahun yang mengecewakan, yang dipersembahkan Timnas dibawah asuhan Bendol, di bawah naungan PSSI yang diketuai Si NH, yeah…. sejarah telah mencatat bahwa pada tahun 2010, Timnas Indonesia telah menghentikan tradisinya untuk selalu lolos ke final piala Asia.
mengenai perbuatan Hendry, saya teringat ucapan Bung Hedi –saat kasus Adebayor September lalu– bahwa apa yang di lakukan itu singguh tindakan yang kurang bijaksana, meski manusiawi.
yeah, berharap efek tindakan itu tak akan ada sanksi dari AFC
—
pasti kena sanksi, denda sekitar 10 ribu dolar.
– hedi
keknya perasaan saya udah terwakili sama Hendri.
berat rasanya mau bilang, tapi kalau memang kita gak ada bakat dan bener2 gak bisa mengembangkan sepakbola, nyerah aja. alokasikan anggaran ke cabang2 yang lebih realistis seperti bulutangkis, angkat besi, atau pencak silat. daripada maksa dan bikin rakyat gemes tiap timnas pentas?! ya nggak?
dr pertandingan kemaren, cuma satu pemain yg kusuka, ialah hendry
ya dialah pemain yg berjiwa merah putih sesungguhnya
jadi kapan PSSI dirombak sam ?. $@I)$@)$@
teriakan dari dulu terutama dari aremania yang selalu menggema tapi bak lewat saja…bagai angin lalu…… sampai kapan sepakbola indonesia seperti ini. salut buat hendri…mungkin dengan cara begini sepakbola indonesia bisa membuka mata.
—
kapan? nunggu munaslub atau kongres aja, gus
– hedi
dikontrakan teman saya sampai guyon : “nonton timnas indonesia tuh nambah – nambah dosa, isinya misuh misuh donk kalo nonton di TV”..hahahaha..dan saya sangat bersyukur ada seorang Hendry yang “pemberani” untuk menyatakan ketidak sukaannya dengan wajah persepakbolaan kita walo dengan cara seperti itu, mau gimana lagi, saya dan teman – teman saya sempat berpikir kalo bagaimana kalo membuat demo, kita memberontak untuk dilakukannya perubahan secara besar – besaran sistem pembinaan di tubuh PSSI sampai akar – akarnya, kayaknya yang perlu didemo bukan hanya pemerintah saja untuk soal korupsi dsb, tapi juga demo untuk PSSI…rasanya miris sekali melihat timnas kita mainnya kayak orang baru main bola gitu. apalagi denger alasan bendol di tivi…”kekalahan ini karena kurangnya waktu persiapan”…alah – alah..bendol bendoll..ckckck…. saya takut kalo 1-5 tahun mendatang, Timnas kita sama negara ASEAN sekalas Laos dan Myanmar aja kalah…Kayaknya perlu dibakar tuh Senayan…….
—
lho sama laos & myanmar memang kita udah ga menang di SEA Games kemaren, memang bola kita udah di titik nadir
– hedi
Melihat permainan timnas senior kemarin, sumpah saya gilo. Umpan ga ada yang bener, kontrol bola lepas melulu. Astaga!
Tapi saya merasa sangat trenyuh saat Hendry masuk ke lapangan dan menggiring bola. Ia seperti mewujudkan rasa kesal saya (dan mungkin banyak pecinta bola juga) yang sudah sampai di titik jenuh. Andai saja tendangannya masuk..
Shame on you PSSI!
Aksi Hendry kemarin selain ironis juga “menghibur” penonton di saat tim Indonesia bermain sangat buruk. Bendol gagal total. Dia nggak fokus sih, ngurusi Persija juga…
—
bendol ngurus persija karena bayarannya dari PSSI ga pernah lancar…salah situasional aja – hedi
mengharukan memang melihat “kegilaan” masy indo. benar ini potensi baik dari sisi bisnis maupun prestasi.
tapi kok ya dibiarkan begitu saja? masak tidak ada orang indo yang bisa ngurus itu?
—
yg bisa pasti ada, pasti, tapi masalahnya mau atau enggak
– hedi
masalahnya apa kita punya orang yang tepat untuk duduk di jajaran pengurus? jangan sampai udah ganti2 kepengurusan, orangnya ya bobrok juga..
saya ga ikut ke sadion, cuma liat di tipi kantor. saya ikut nyanyi2 Garuda Didadaku dan akhirnya nyesek liat hasil akhirnya (walopun udah nebak sebelumnya).
lalu hendri ngasih kejutan. ia bener2 mewakili perasaan semua penggila bola!
sayangnya, PSSI kok bebal. cih!
Semoga suatu saat menjadi lebih baik, masak 200juta lebih mencari 11 orang yang bisa maen bola sedemikian susahnya sih
—
kelihatannya sepele, mas…tapi percayalah untuk mencari 11 orang itu yg ceritanya sangat panjang – hedi
musti ngomong apalagi… pemain kita pendek2 tapi main bola ga pakai otak !!!
contoh itu barca/spanyol, biar pendek pakai otak, hasilnya juara champion dan piala eropa !!!
—
dulu pelatih Vietnam dari Austria, Alfred Riedl, bilang bisa jamin timnya main bagus. tapi yg dia pusing adalah soal postur, itu sangat sulit. Jadi sebenernya ga semudah membandingkannya dengan Barca, walaupun memang tak mustahil
– hedi
lalu bagaimana dengan para juniornya?
—
yunior yang mana dulu? kalo yg dilatih di Uruguay bagus, ga ada masalah…tapi problemnya bukan cuma itu kok, problemnya adalah manajemen sepakbola kita yang ga beres
– hedi
KANGKER PSSI sepertinya harus segera di TERAPI.. DEEP TERAPI kalau mau Sepakbola kita Mantap kembali…
Dan bagi saya Hendry tetaplah hendry…..
jujur baru kemarin saya nonton timnas cuman 20 menit pertama saja (di televisi) pas lawan kuwait saya nonton di gbk (setelah sekian lama gak nonton timnas langsung), dan saya menyesal melewatkan aksi hendry itu
jadi kongres tahun berapa pak? tahun ini? ato 2011, 2012?
—
Kalau ga salah, kongres terakhir digelar 2008 lalu sewaktu ada tuntutan dari FIFA untuk mengubah statuta (AD/ART). Jadi jadwal berikutnya ya 2013, kecuali memang ada desakan untuk munaslub/kongres luar biasa maka bisa kapan saja. – hedi
saya sedang mencoba menjadi orang (semoga yang pertama) yang kapok melihat timnas kang! semoga saja bisa, hehehehe….
—
Ya itu dia, orang selalu jera buat nonton timnas. tapi tetep aja orang tergoda untuk nonton, padahal sudah tahu pasti timnas main bakalan jeblok (langganan). Berharap itu memang enak
— hedi
sama seperti henry, sebenarnya saya juga kecewa sama timnas. beruntung henry bisa aksi seperti itu
semoga hal ini membuat timnas malu dan berbenah diri…
Pariwisata stadion. Kayaknya menarik. Menunggu waktu yang cocok nih.
BTW barusan baca Bruno Metsu yang jadi Abdul Karim di Islam Digest. Belum banyak terbaca di sana (menurut saya), karena memang bukan itu angle tulisan, kenapa dia dulu bisa angkat prestasi ba-balan Senegal?
—
jawaban sudah ditulis via email ya, paman
– hedi
dan hanya di indonesia ada kejadian kayak gini, penonton ikut main ya? huehehe…
great post. aku jarang komen tapi yg ini asli postingannya cuwanteek…
selama ketua PSSI masih bekas koruptor minyak goreng.
susah untuk berubah wajah sepak bola kita
harusnya media mainstream ituh bisa memuat tulisan-tulisan yang seperti ini, biar para pejabat itu membuang keabnormalan mereka
sepanjang pertandingan itu, yang menarik cuman aksi pemain nomer 12 ini … pemain laen nothing