RSS You're reading S.League* article on sekadarblog

S.League*

Sebagai negeri yang harus diakui well organized, Singapura punya sebuah kompetisi sepakbola yang tertata dengan baik.

Liga profesional Singapura disebut dengan S.League. Sebuah kompetisi yang unik karena punya sederet tim asing.

Musim lalu ada tujuh tim asing di S.League. Berasal dari Jepang, China, Brunei, Afrika (dengan negara campuran) dan Korea Selatan. Lengkapnya silahkan dibaca di Wikipedia.

Untuk musim depan — yang bergulir mulai Februari — ada dua legiun asing baru yang bergabung; Etoille FC (Prancis) dan Beijing Guoan (China). Seluruh tim asing boleh menggunakan pemain dari negara manapun, kecuali Singapura.

Tim asing harus bermarkas di Singapura. Memainkan partai kandang dan tandang pun tetap di sana. Ini pula yang menyebabkan (ide) usulan Aremania beberapa tahun lalu agar Arema Indonesia ikut S.League akhirnya buyar. Pasalnya, Arema harus main home & away di sana.

Andai rencana itu terjadi, sebuah tamparan yang telak untuk PSSI.

Satu-satunya minus S.League adalah sepinya penonton. Tiga kali saya nonton di sana, sebagai penonton murni — bukan peliput, kesimpulannya tak ada greget. Saya masih ingat komentar penjual teh tarik di sekitar Stadion Jalan Besar. “The stadium will be full house for national team or big European teams only. Not too good for business.”

Singapura juga punya Liga Reserve atau liga untuk pemain muda lapis kedua dari tim senior yang main di S.League. Pengelola sepakbola Temasek, FAS, paham benar bahwa pembinaan harus berjenjang. Tak bisa instan. FAS juga mengirim tim Young Lions atau Singapura yunior untuk main di S.League. Jadi tak perlu mengirim tim yunior main jauh-jauh di kompetisi luar negeri seperti praktek ala PSSI.

Karena timnas, maka para pemain Young Lions selalu berubah setiap saat ketika diperlukan dan ada penilaian negatif/positif terhadap pemain asli Singapura tertentu.

S.League tak mengenal promosi dan degradasi. Tapi setiap akhir musim, seluruh tim dinilai kinerja manajemennya. Jika tak memenuhi kualifikasi, mereka tak bisa ikut musim depan.

Suatu ketika, kawan saya bilang Singapura bisa melakukan itu karena luas wilayahnya tak lebih besar dari Jakarta. Tapi masalahnya bukan itu. Kuncinya adalah bagaimana mereka melakukannya dengan kerapian dan keteraturan (order). Soal besar kecilnya wilayah, bisa disiasati. Itu cuma urusan teknis. Yang penting adalah komitmen pengelola liga dan para pesertanya.

Andai Indonesia serapi S.League, seru juga bila ada kumpulan tim bule seperti di Ciputat itu ikut kompetisi Liga Super Indonesia. :)

—-

*Tulisan perdana mengenal liga asing secara singkat.

Ϡ

12 Responses to “S.League*”

  1. Piyudh says:

    Bru tau kalo sistem liga di singapura kayak gtu. :-). Kayaknya perlu review liga2 di asean lainya kayak vietnam yg smakin meninggalkan indonesia,dan laos+myanmar yg smakin susah buat dkalahin timnas kita.

  2. Mas, kenapa kok penontonnya sepi? Apakah orang Singapur ndak seneng nonton expat main bola?

  3. galihsatria says:

    Setidaknya kita masih menang dari liga di singapura di sisi suporter. Lihat bagaimana gegap gempitanya stadion Tambaksari waktu Persebaya kontra Arema. Bahkan saking gemuruhnya, Aremania dilarang ikut masuk stadion.

  4. nothing says:

    persebaya pun dulu niat main di liga singapura :p
    kalu dulu hal itu terwujud wah asik tenan, bonek go internasional hehehe

  5. bangsari says:

    singapura memang yahud. juga kuat. kaya. dan tentu saja keren.

    lha gimana ndak. wong negeri seuprit gitu aja sanggup merontokkan korporasi-koporasi besar di sini kok, gimana kalo dia sebesar negeri ini?

  6. elia|bintang says:

    yang perlu dibenahi ya emang manajemennya dulu, mas hedi. kl komitmen sih mana bisa diharapkan kl orang2nya malah korup? dapetin orang2 serius dan berkomitmen utk sepak bola indonesia, baru kita bisa bicara teknis dan harapan akan sepak bola indonesia yg lbh baik :D

  7. Epat says:

    klo tentang keteraturan di sg memang salut kang. btw, ini postingan menarik, saya baru tau klo di sg sana liganya ada peserta club asingnya.

  8. Ndoro Seten says:

    pastinya mereka lebih tertib, masyarakatnyapun disiplin sih….

  9. zam says:

    tapi Singapura suka nyolong wilayah. mbuang sampah ke wilayah Indonesia. mbok sekali-kali Singapura itu mbuang kebiasaan dan keteraturannya ke Indonesia.. :p

  10. hanif IM says:

    kurang lebihnya pasti ada, semua punya kurang lebih, hehe, liga inggris juga punya kurangnya, mungkin karena sistem jadwalnya yang padat menjadikannya pertandingan tanpa henti, atau mungkin kurang lainnya. hehe, yang penting dinikmati saja nonton bolanya… :D

  11. topan says:

    tetep paling keren liga indonesia lah, bisa ngatur siapa juaranya..

    @nothing, bonek ra iso go internasional yu, mergone nek numpak prau mesti mlebeg, kerem, overload..ngerti dewe…

  12. hedi says:

    @Vicky: penonton di Singapura lebih seneng nonton olahraga basket, tenis meja, renang, polo air.

Leave a Reply