ketika sepakbola bikin penasaran

Ya, judulnya memang saya samakan dengan post Raden Mas Blontank. Mau apa lagi, itu label yang paling umum diketahui orang — termasuk yang nggak suka bal-balan sekalipun.

Bonek seakan menjadi salah satu momok di sepakbola Indonesia. Bahkan kadarnya melebihi level kelompok lain di saat sedang melakukan kerusuhan, insiden dan cerita. Menyebalkan.

Bonek, bondho nekad – modal dengkul, sangat menakutkan bagi banyak orang — terutama yang berada di luar sepakbola. Kerap toko-toko di seputar Stadion Tambaksari, Surabaya, tutup bila Persebaya ada jadwal main.

Saya pernah mendengar percakapan seorang calo tiket dan pedagang gorengan di seputaran Senayan. “Gue seneng nih kalo yang dateng bukan bonek. Kalo bonek abis deh.”

Benar-benar momok.

Lalu kalau mereka kemarin dulu bikin geger di Solo, Jawa Tengah, sehingga seorang wartawan foto gegar otak, sudah pasti disambut kutukan dan amarah. Bahkan warga Solo sudah menyiapkan “sambutan” baru saat Bonek pulang dari Bandung ke Surabaya. Eye for an eye. Balas dendam.

Suporter adalah benang kusut sepakbola Indonesia. Paham primordialismenya sangat kental. Bahkan jika anda bukan penggemar sepakbola, anda bisa sangat terikat secara batin dengan tim dari kota kelahiran anda. Almarhum nenek saya yang tak pernah suka dan nonton sepakbola pun terkadang masih sempat tanya bagaimana hasil pertandingan Arema.

Mirip jika timnas Indonesia main. Anda sebagai orang Indonesia pasti berkepentingan (untuk sekadar tahu hasilnya saja). Padahal anda bukan penggemar sepakbola.

Misalnya. Anda orang kelahiran Jakarta atau asli betawi, maka anda akan merasa dekat dengan Persija. Demikian pula dengan suporter di kota lain. Orang Malang yang tak senang dengan sepakbola, pasti merasa sehati dengan klub Arema Indonesia karena Arema adalah singkatan dari Arek Malang. Atau andai anda orang Sunda, maka Persib Bandung adalah bendera anda di sepakbola.

Itu fakta yang saya pelajari sejak lama, sejak saya masih menjadi suporter yang rajin masuk stadion dan mendapat lemparan batu segala hingga “pensiun” untuk menjadi suporter dalam kapasitas maniak dan masif. Kesimpulan mentah saya terhadap suporter yang membuat rusuh adalah karena adanya unsur penumpang gelap atau istilah kerennya free rider!

Siapakah mereka? Ya, orang yang sebenarnya tak terlalu suka sepakbola, bahkan memang tak suka bal-balan, tapi terikat karena unsur primordialisme dengan tim tertentu. Mereka adalah orang yang memang senang dengan keramaian. Di acara konser musik pun banyak yang seperti ini dan mereka pula yang membuat rusuh. Ditambah lagi dengan faktor dari kalangan mana mereka berasal. Mereka adalah orang-orang yang kalah (secara ekonomi).

Kasus keributan di Solo kemarin dulu itu sebenarnya bisa dihindari bila ada koordinasi antara polisi dan PT. KA. Saya pernah punya pengalaman naik kereta Matarmaja yang 90 persen berisi suporter dari Malang ke Jakarta. Matarmaja adalah kereta kelas ekonomi yang paling malang dari kelas ekonomi lainnya. Tapi saat berisi suporter, seingat hitungan saya, kereta itu hanya berhenti sekali dan bahkan kereta eksekutif Argo Bromo pun harus mengalah untuk memberi jalan.

Bisa ditebak, nyaris tak ada insiden meski kereta juga sempat dilempari batu di tengah jalan. Matarmaja yang biasanya masuk Jakarta paling cepat jam 10 pagi, hari itu masuk stasiun Senen jam 7! Itu pengalaman yang tak akan saya lupakan. Dengan tiket 10 ribu, jarak Malang-Jakarta bisa sedemikian cepat.

Suporter selalu berpeluang membuat rusuh, siapapun dan dimanapun. Hanya antisipasi dari pihak terkait yang bisa meminimalisir. Saya pesimistis bila keributan suporter bisa dihilangkan. Bahkan di Eropa pun masih ada. Mau mendata suporter di sini pun sangat sulit. Dari puluhan ribu suporter yang ada di dalam stadion, mungkin hanya 40-50 persen yang ada datanya di kelompok suporter. Sisanya, sangat sporadis! Kepolisian kita pun tak punya sumber daya untuk itu. Jangan bayangkan polisi kita bisa berpraktek seperti Scotland Yard yang punya seluruh data lengkap suporter Inggris Raya.

(bersambung)

© image: ANTARA/Eric Ireng

§403 · January 24, 2010 · Sepakbola Indonesia · Tags: , , , , , , , · [Print]

22 Comments to “Bonek (1)”

  1. dendam, sejatinya tak memperbaiki persoalan. malah menambah runyam.

    kita pantas berharap, kasus bonek bisa menjadi catatan bagi PSSI dan pemilik/pengelola klub untuk memperbaiki diri. jadikan fanatisme dukungan publik sebagai energi untuk kian memacu prestasi, bukan sebaliknya.

    orang bola dan politisi kita punya kecenderungan sama, suka mengelola potensi konflik. seolah-olah, brutalisme massal bisa jadi kelompok penekan lawan kepentingan.

    coba kita ingat masa lalu. kalau Surabaya dijadikan sentra isu politik, maka diciptakan kondisi rusuh (melalui fanatisme bolamania). kalau Aceh diinginkan lebih kondusif, maka klub di sana diberi hadiah kemenangan.

    sepakbola, sungguh-sungguh bentuk permainan. dalam artian denotatif, maupun konotatif…. itulah Indonesia, yang pemimpinnya tak pernah mau dewasa….. (jangan lupa, lihat potret kepengurusan PSSI juga, ya…)

  2. azaxs says:

    Dari gambaran diatas, tentunya kita butuh solusi nyata pembangunan moral bangsa ini. Bonek hanyalah sebuah komunitas kecil diantara komunitas yang lain, komunitas bangsa ini, bangsa yang katanya ramah, menunjung adat ketimuran.

    Bagaimana mungkin bangsa ini dapat maju, ketika mereka yang diatas asyik dengan perut sendiri, sementara yang dibawah mudah menjadi beringas dan anarkis…

    Salam Satu Jiwa!

  3. Social comments and analytics for this post…

    This post was mentioned on Twitter by hedi: nulis soal bonek :D http://bit.ly/91BqOt

  4. mpokb says:

    Ketika orang kecil semakin terpinggirkan dan kekecewaan harus terbungkam, amarah paling mudah dilampiaskan kepada “mereka yang berbeda”. Amuk bukan hanya Bonek, karena ternyata di Jakarta pun (kalau bisa disebut sebagai puncak pembangunan Indonesia), orang biasa bisa dengan mudah menindas orang lain tanpa rasa takut terhadap aparat.

  5. bangsari says:

    dulu, saya juga pernah mengalami sekali segerbong dengan bonek-bonek dala, perjalanan dari jombang ke jogja. sikap dan agitasi mereka sungguh mengerikan. untungnya, pihak kereta api seperti sampeyan bilang diatas, sepertinya sudah siap dengan beberapa antisipasi. mulai dari penyediaan nasi bungkus hingga pengerahan aparat berbaju doreng doreng. lancar jaya.

    sayangnya, saat seorang suporter mengalami patah tulang karena nekat mengibarkan bendera di luar pintu dan tangannya terhantam tiang, kereta harus berhenti di nganjuk. maka terjadilah adegan penjarahan di stasiun. benar-benar chaos!

    tapi dengan sebungkus rokok, membuat mereka sangat bersahabat. bahkan saya dan teman, dicarikan tempat duduk diantara mereka sendiri. sementara yang sudah duduk dengan kerelaan yang jelas, memberi kami tempat. usut punya usut, mereka memang ndak punya sama sekali.

    edan! lungo lungo kok ra duwe duik.

  6. kw says:

    aku juga heran, kenapa segitu militannya dengan sepakbola. mereka rela mati hanya untuk mendukung timnya. selain memakai cara2 gak elegan: konon gak bayar tiket, menjarah pedagang, dan kalau timnya kalah ngamuk.

    anehnya lagi semua supporter bola seperti itu, ngawur. termasuk di kampungku. mungkin itu salah satu alasan kenapa aku gak suka bola ha ha ha

  7. venus says:

    mbencekno. gak ada kata lain selain ‘mbencekno’.

  8. nothing says:

    ole ole ole ole..ole ole ole..
    sedih melihat sepakbal endonesa tak kunjung rapi dan menghibur

  9. yati says:

    doh! bingung mau komentar apa. aparat ngadepin bonek juga ngasal. seharusnya memang pihak kereta nanganinnya kayak pengalaman mas hedi. dan harus dijaga tentara. loreng masih dipandang ketimbang kopisusu
    meski geram banget sama kelakuan mereka, tapi sepertinya menghadapi bonek ga boleh dengan kekerasan juga, melainkan dengan kemanusiaan. buktinya mereka nurut dan diem aja kalo udah dikasih makan. dimaklumi juga, kondisi kereta ekonomi yang harus didiami berjam2 bisa memunculkan tindak kebinatangan

  10. galihsatria says:

    Bicara soal kedekatan primordial, saya orang Tulungagung, tapi merasa lebih dekat ke Persebaya daripada Persik. Mungkin karena kemunculan Persik yang baru-baru jika dibandingkan dengan Persebaya yang mulai liga Dunhill (Ligina pertama yang saya ikuti).

  11. ayip_eiger says:

    Yup, rata2 orang2 yang bermodal nekad tersebut memang kalah (ekonomi), itulah potret hitam keadaan bangsa ini. Kemelaratan menjadi ujung tombak yang mengancam bangsa ini sendiri. Mungkin suatu bentuk wujud emosional orang2 melarat yang meski tak mampu secara ekonomi tapi mereka membuktikan kemelaratan mereka tidak menjadi soal untuk tetap survive lewat kekerasan dalam kebersamaan.

  12. pudak says:

    Euphoria massa…

  13. Siddiq Basid says:

    semoga dunia sepakbola Indonesia bisa membenah diri untuk menjadi lebih baik lagi……….

  14. maslie says:

    kalau nonton sepak bola gak ada ribut, ngumpat atau rame2 katanya nggak seru kang Hedi he3!!

    mengumpat boleh, lie…bisa jadi guyonan lucu malah, tapi ga semua suporter bersikap sama ;) – hedi

  15. rudie says:

    menurut saya sih bukan semata-mata kalah(ekonomi)/melarat ,tp lebih ke jiwa yg melarat. sebagai contoh;dalam perjalanan keberangkatan ke Bandung,sudah ada korban terjatuh dari KA yg meninggal,dan setelah diperiksa bekal perjalanan (isi Tas) ternyata ditemukan uang tunai 150rb,HP,dan KAMERA DIGITAL. mungkin jg sebagian orang tahu kalau kamera digital harganya tidaklah murah,so apakah itu menunjukkan kekalahan(ekonomi)/kemelaratan????????


    Mas Rudie, tentu ga bisa digeneralisir bahwa semua suporter adalah golongan ekonomi lemah. Masalah suporter juga tak mengikat hanya pada satu faktor saja melainkan begitu kolektif dan kompleks. – hedi

  16. aRuL says:

    kata “tradisi” yang melekat dalam fikiran mereka sehingga akhir seperti ini, padahal mereka sudah dewasa dan paham seharusnya hal tersebut tidak terjadi.

  17. Sebenarnya tergantung perspective masing masing kan :)

    kalo boneknya semacam mas cosa saya rasanya aman aman saja, kecuali memang bonek yang membuat khawatir semena mena

  18. hni says:

    sediihhnyaa sepakbola indonesia..timnasnya kalah mulu…ketuanya gak ganti ganti..sebagian supporternya edan…:p

    ps: saia bukn org malang p hed tp blh doong pilih Arema ajahhh..

  19. Nazieb says:

    Wow, Matar sampai jam 7 pagi? :shock:

    Ada beberapa temen sesama Aremania yang punya slogan begini Kang: “Arema gak juara, gak masalah. Yang penting Persebaya degradasi” :lol:

    Mungkin itu contoh yang sporadis kali yak? :P

  20. Anang says:

    sing penting saya bonek yang tertib.. hihihihi…….

  21. elia|bintang says:

    mnrt saya, semakin sering perilaku mereka diulas, semakin menjadi-jadi juga mereka. untuk mereka, itu keren. memberi mereka identitas. bonek: biang rusuh! bangga mereka dengernya. namanya juga orang ga berpendidikan :|

  22. adi thebonek says:

    heh….menikmati kacang buang dulu kulitnya, jangan langsung ditelan, disini saya gak akan adakan pembelaan terhadap BONEK krn memang tercap sedemikian rupa, intinya apakah solusi anda2 disini untuk mengatasi hal ini dgn jalan mencaci maki oknum BONEK yg bermasalah, klo memang itu jawaban anda, berarti anda juga sama bodohnya dgn BONEK2 yg anda katakan…terakhir dari saya, masih ada jalan lain daripada sekedar mencaci mereka, yaitu memahami dan membina mereka…dan itu yang masih diproyeksikan oleh pengurus PERSEBAYA, wasalam !!!

Leave a Reply