&mdash January 30th, 2010
Isu paling utama pada suporter adalah bukan hasil pertandingan, tetapi “kampung tengah”. Jangan biarkan mereka lapar saat sedang melakukan perjalanan jauh. Jangankan suporter, manusia manapun yang kelaparan bisa berubah menjadi singa liar.

Berdasarkan pengalaman, suporter akan mendapat makanan begitu turun dari kereta. Mereka langsung diangkut truk atau bus — entah dari komunitas atau polisi.
Sampai di tempat kumpul, misalnya stadion, kembali mereka mendapat makanan. Setelah pertandingan, mereka juga akan mendapat makanan.
Pokoknya, suporter pada saat itu adalah raja. Bahkan perlakuannya bisa seperti VIP. Namun ada juga kekonyolan ala anak yang tak tahu diri. Setelah mendapat nasi bungkus dan air minum, selanjutnya: “Rokoknya mana, mas?” Kampret!
Itulah isu paling utama saat suporter sedang bepergian. Berikan makanan sebanyak-banyaknya maka mereka tenang dan bisa diatur. Analoginya mirip binatang sirkus, tapi apa boleh bikin.
Namun ada antisipasi lain yang sebenarnya juga penting untuk mengontrol perilaku suporter tetapi tidak dilakukan oleh pelaku sepakbola di Indonesia. Nyaris tak ada langkah signifikan dari klub untuk bertanggung jawab pada suporternya.
Suporter memang bukan urusan nyata klub atau tim. Tak ada tim di dunia yang punya pegawai resmi untuk mengurusi suporter. Tidak pula tim-tim besar dunia itu. Jadi bila ada yang menyalahkan klub atas kerusuhan suporternya secara semen-mena adalah tak pada tempatnya.
Tapi bukan berarti klub boleh lepas tangan. Klub-klub di Eropa selalu mengeluarkan peta perjalanan bagi suporter bila ada partai tandang. Klub memberi taklimat pada suporter untuk melajui jalur transportasi mana yang boleh dan terlarang. Klub juga akan mempersilahkan suporter tim lawan keluar dari stadion lebih dulu dan menahan suporter tuan rumah lebih lama di dalam stadion selepas laga.
Pelatih atau petinggi klub juga seharusnya mengeluarkan komentar membangun. Ada contoh terbaru mengenai itu. Manajer Manchester United, Sir Alex Ferguson, meminta fans United untuk tidak lagi melecehkan koleganya di Arsenal, Arsene Wenger, dalam lagu-lagunya. Komentar itu dikeluarkan Ferguson menjelang pertandingan kedua tim di London, Inggris, Minggu besok (31/1).
Imbauan Ferguson sangat penting dan membangun. Tapi apa yang diperbuat oleh petinggi kota Surabaya? Alih-alih meminta maaf pada publik dan mencari penyelesaian, sang walikota justru memberi penekanan pada isu konspirasi suporter untuk menyerang bonek dalam rangka provokasi. Artinya bonek berulah karena ada serangan — kira-kira begitu maksud walikota.
Sebuah sikap yang aneh dari pemimpin kota - walaupun itu sangat biasa di Indonesia. Dalam kasus suporter Surabaya, seakan ada pembelaan.
Percayalah, menyalahkan itu sangat gampang. Tapi percuma, tak akan ada solusi dan kasus justru akan berulang. Kejengkelan dan kemarahan masyarakat pada suporter, entah dari kelompok mana, sudah sangat tinggi. Di Tangerang pun bentrok antara suporter dengan masyrakat sekitar stadion sudah biasa.
Suporter itu harus dilokalisir, di manapun. Siapa yang bisa melakukannya? Ya polisi! Di Eropa, suporter selalu dikawal pasukan berkuda atau pasukan anti huru hara. Tak ada suporter yang boleh berjalan berkelompok — kecil atau besar — tanpa kawalan. Minimal untuk beberapa radius kilometer. Di Malang, Jawa Timur, selalu akan ada minimal seorang polisi yang mengawal berjalan kaki dengan suporter saat pulang dari stadion.
Seperti di tulisan pertama, suporter manapun punya potensi rusuh. Hanya antisipasi yang perlu dilakukan untuk meminimalisir. Panggil para ahli manajemen publik, psikolog dan dedengkot suporter. Cari cara menangani perilaku mereka di ranah publik. Tanpa itu, bukan hanya perang antar suporter yang bakal terjadi. Tapi bisa pecah menjadi masyarakat umum kota dengan suporter. Jika itu terjadi, biaya kerusakannya akan jauh lebih besar.
Boikot mungkin perlu, tapi seharusnya bisa tanpa itu. Ini soal budaya kekerasan di masyarakat kita dan bukan berarti masyarakat harus diboikot kan?
© Image: Virgin Media
bagaimanapun juga mereka telah mengukir sejarah sepak bola dalam hal penonton
hahaha, walikota geblek. ra mudeng bal. iso ne mung nyuruh bajulijo mundur pas final empat besar di senayan.
hidup persebaya.. halah
kenapa ya suporter sepak bola itu suka merusuh… kayaknya sekarang gak cuman bonek doank deh… sedih ngeliatnya…
Yeah.. hidup persebaya!
bukan Bonek
saya kemarin ketika melihat arema bermain. saya salut ketika aremania mau bernyanyi diluar meskipun tidak boleh menemani pemainnya di stadion
gokiel gambare…
hidup arema.:)
diluar beberapa faktor pemicu rusuhnya suporter bola seperti yang disebutkan diatas, saya melihat faktor mistrust and distrust terhadap PSSI, sebagai organisasi tertinggi yang punya wewenang mengurusi bola kaki di negeri ini, cukup rasional untuk dijadikan pemicu rusuhnya suporter bola, PSSI kerap tidak konsisten terhadap aturannya sendiri, hukuman terdahap pelaku pelanggaran ataupun disiplin, bisa gugur lewat hak prerogatif sang ketua umum, tidak mendidik dan gagal menimbulkan efek jera, maka jangan heran, kerusuhan sepakbola itu ibarat candu, karena memang tak ada hukuman yang setimpal atas itu..
Hukuman larangan menonton itu sepertinya tidak ‘ngefek’ ya, mas?