RSS You're reading Suporter atau Gangster? article on sekadarblog

Suporter atau Gangster?

Di bulan April yang belum selesai ini, sudah ada dua kericuhan suporter di kawasan Balkan sana. Pertama, terjadi dalam derbi Belgrade antara Red Star dan Partizan (Serbia). Kedua, dilakukan oleh suporter FK Sarajevo (Bosnia).

Sumber masalahnya sama, kecewa pada hasil laga. Sasarannya pun nyaris mirip; polisi — apabila tak ada suporter rival.

Di Serbia, keributan suporter adalah hal biasa, terutama oleh fans Red Star. Sejarahnya sangat panjang, bahkan melibatkan pemerintah pula, termasuk terkait masa perang sektarian Yugoslavia silam.

Kalau mau tahu lebih lengkap soal itu, silahkan baca buku menarik “Soccer Explains The World” karangan Franklin Foer. Mau beli atau unduh E-book-nya, itu terserah Anda. ;) Di negara Barat atau di kawasan Argentina-Brasil, kerusuhan suporter pun biasa terjadi. Untuk negara sepakbola yang telah maju, mungkin frekuensinya mulai menurun, mulai jarang. Kalaupun ada, kekerasannya terisolir. Misalnya di Inggris, Jerman atau Spanyol. Belakangan hanya tinggal Italia dan Belanda saja yang masih menyimpan potensi kerusuhan besar.

Di Yunani, awal 2010, kerusuhan suporter merebak di berbagai pertandingan divisi satu dan dua. Pemerintah Yunani bahkan terpaksa menghentikan dana subsidi bagi liga sebagai terapi kejut. Otoritas liga juga menghentikan sejenak roda kompetisi.

Bagaimana dengan Indonesia? Ah, Anda sudah tahu jawabannya. Tak berbeda dengan di Eropa atau Amerika Selatan. Saya tak perlu memberi contoh kasusnya. Anda bisa cari beritanya sendiri, bahkan termasuk yang terjadi di akhir pekan kemarin.

Tapi tahukah Anda apa perbedaan antara suporter di negara maju dengan di Indonesia?

Di Italia atau kawasan Eropa Timur, tawuran suporter selalu memiliki penyebab dasar. Ada filosofi yang bermain di sana. Misalnya antara suporter tim kawasan Utara yang makmur dengan Selatan yang kèrè. Atau praktek paling umum adalah suporter dengan aliran politik komunisme, misal Livorno, dengan rivalnya dari aliran fasisme, contoh Lazio. Ada pula misalnya Katolik dengan Protestan. Atau berbasis sektarian lainnya.

Di Serbia, perseteruan suporter Red Star dengan Partizan juga bermuatan politis perebutan kekuasaan. Red Star didukung tentara, Partizan didukung polisi. Sementara di Prancis, kerusuhan suporter bisa dipicu oleh masalah rasial. Terutama oleh suporter Paris Saint Germain yang kebanyakan anak muda berdarah Tunisia atau Aljazair. Tindakan keras polisi pada kaum minoritas itu bisa membangkitkan kerusuhan kota, seperti di awal musim Ligue 1 kemarin dulu.

Tapi di Indonesia, kerusuhan suporter nyaris tak ada pertentangan filosofi atau kecemburuan apapun — meski juga tak harus punya prinsip politis dan sejenisnya –, kecuali soal dendam turun temurun yang bahkan asal muasalnya pun sudah gelap atau tak jelas dan belum tentu diketahui generasi suporter yang lebih muda. Yang terjadi di Liga Indonesia seakan-akan hanya satu pemicunya; “Tim saya harus menang”. Jika kemenangan tak terwujud, mari kita bikin kerusuhan.

Tragis sekali.

Di negara barat, suporter juga tak punya nama khusus hingga menjadi sebuah organisasi. Yang ada misalnya asosiasi suporter. Dan itu pun tanpa nama khusus. Pengecualian terjadi di Eropa Timur atau Brasil. Itu pun terkait faktor sosial politik. Betul, memang ada sebutan untuk pendukung Inter Milan, Real Madrid, AC Milan, Juventus, Liverpool dan sebagainya. Tapi sebutan itu kerap kali datang dari pers dan berangkat dari sebuah sejarah sosiologi kemasyarakatan setempat. Bukan disengaja dibuat oleh suporter terkait.

Namun di Indonesia, suporter justru berlomba-lomba membuat nama. Silahkan sebut mulai dari Aremania, JakMania, Viking, BonekMania dan daftar akan makin panjang. Bahkan, lucunya, mayoritas kelompok suporter itu punya struktur organisasi mulai dari ketua sampai koordinator lapangan. Ini tidak salah, namun berpeluang kontraproduktif. Memancing di air keruh sangat mungkin terjadi. Mereka yang tergabung dalam organisasi umumnya berniat baik, agar mudah mendapatkan tiket dan sebagainya. Namun niat baik itu seringkali dirusak oleh mereka yang baru melek dan bau kencur itu.

Pendukung sepakbola di Indonesia juga masih lebay. Coba Anda masuk ke situs-situs berita dan lihat kolom komentar. Anda bisa temukan komentar model begini: “Ayo Internisti, jangan mau kalah sama Roma”, “Tetap semangat Juventini walau kau kemarin kalah”, “The Jak, beli dong pemain yang bagus”. Benar-benar aneh, kapan Internisti, Juventini atau The Jak punya klub sepakbola dan bermain di kompetisi reguler? Sebagian suporter di Indonesia belum bisa membedakan mana tim dan mana suporter.

Itu belum termasuk komentar-komentar miring dan kasar yang patut masuk dalam jaring moderasi. Di luar negeri, memang ada pula komentar kasar seperti itu. Terutama di Eropa Timur yg beraliran politik tertentu tadi.

Lihat bagaimana suporter Manchester United menyindir rivalnya dari Manchester City dengan cara memasang spanduk bertuliskan jumlah gelar “Setan Merah”. Atau simak komentar pendukung MU ketika timnya memukul City: “Shame on them”. Pendukung Chelsea pun hanya bernyanyi untuk menyindir Liverpool: “Lihat itu Merseyside, lihatlah kami.” Cuma sampai di situ.

Tak ada kata atau lagu “Bantai si A…hancurkan si B” dan seterusnnya. Tak ada pula suporter MU yang akan menyebut Chelsea dengan sebutan Chelshit, misalnya. Atau suporter Everton menyebut Liverpool dengan istilah Liverfool. Tentu saja, satu-dua kasus ada, tapi bukan membudaya. Bukan kebiasaan.

Suporter di Indonesia justru seperti gangster, seperti halnya di Brasil atau Eropa Timur. Tapi di Indonesia masih berbeda, karena tak ada filosofi apapun di balik pembentukan kelompok itu. Mereka hanya membuat kelompok saja. Mereka ingin “bermain” juga. Jadi jangan heran kalau lihat ada suporter sebuah tim di Liga Indonesia terjaring razia karena membawa senjata tajam. Jangan kaget pula jika ada tawuran antara suporter dengan masyarakat di satu kawasan kota. Ini terjadi karena suporter masih bermental gangster.

Parahnya, menurut pengamatan saya, mereka bukanlah penggemar sepakbola sejati. Mereka hanya menumpang keramaian seperti halnya anak-anak muda yang bikin rusuh di konser musik. Mereka bukan penikmat musik sejati. Bahkan peta persaingannya melebar hanya kepada pertarungan antar kelompok saja — entah ada bola atau tidak. Anda bisa temukan kaos ukuran anak kecil dengan suara suporter Jakarta yang isinya sangat memprovokasi rivalnya di Bandung.

Lagi, tragis sekali.

Satu hal yang pasti, kerusuhan sepakbola selalu bisa menjadi salah satu penyebab kemunduran prestasi tim atau kompetisi tertentu. Lihat bagaimana Italia tak lagi menjadi kompetisi antar klub yang disegani. Juga Red Star tak pernah lagi bermain di Liga Champions, padahal mereka pernah juara di ajang elite itu. Brasil menjadi pengecualian karena bakat alam para pemainnya mampu mengatasi tekanan dari kerusuhan suporternya.

Untuk apa kita harus meniru yang buruk? Ada banyak pilihan untuk meniru yang baik walaupun keributan dan gontok-gontokan dalam sepakbola adalah hal biasa.

Kerusuhan suporter di Indonesia punya banyak sebab. Yang paling utama, tak ada sanksi yang bisa membuat jera. Padahal semua bisa dicari solusinya seperti Inggris memberangus Hooliganisme. Lebih runyam lagi, sanksi sosial di Indonesia belum sebaik di negara maju. Akhirnya masyarakat yang belum dewasa menjadi asal muasal suporter. Masyarakat yang gemar tawuran, tentu akan menjadi suporter yang senang berantem pula. Ironisnya, pengelola sepakbola dan kompetisi pun tak mampu berbuat apa-apa. Klub pun cuma sebatas mengimbau.

Suporter di manapun punya tugas mendukung tim, bukan mengintimidasi (suporter) lawan dengan tindakan berlebihan. Bukan dengan menyanyikan lagu-lagu yang bernada rasis atau penghinaan di titik nadir. Entah mengapa sulit sekali untuk tidak menghina. Entah mengapa tidak fokus pada tindakan untuk memberi semangat tim idola mereka saja. Soal itu, hanya suporter sendiri yang bisa menjawabnya.

_________

Catatan: Gambar diperoleh dari situs ultrasnotred. Coba perhatikan logo-logo suporter aliran keras di situs itu. Mayoritas mengandung filosofi aliran politik, sektarian & agama — umumnya antara Komunisme & Fasisme.

Ϡ

25 Responses to “Suporter atau Gangster?”

  1. […] This post was mentioned on Twitter by MuhammaD Rustham and suporter indonesia, Hedi. Hedi said: Blog update: Suporter atau gangster? – http://bit.ly/b5Gp5w | Cc: @infosuporter @gunawanrudy […]

  2. SlemaniaSambilegi says:

    Yaa ndak semua kelompok supporter gitu kan…ada yang baik
    Dan insyaallah yang namanya supporter pasti cinta bola,fasih lah ngomongin teknis

    O ya tentu saja, mas…ndak semua, ndak bisa digeneralisir. Tapi kecenderungan yg terjadi di Indonesia hampir seperti itu dan bukan salah semata2 suporternya aja. Seperti saya bilang, banyak penyebab…kompleks. :) — hedi

  3. Dari tulisan Mas Hedi, aku menyimpulkan bahwa kalo tawuran itu harus didasari filosofi ^_^

  4. nothing says:

    sebagai penggemar liga jowo alias liga endonesa, saya cuman bisa ikut sedih karena suporter pada ngisruh, kualitas liga ga karuan, pengurus klub dan pssinya bejat.

  5. aRuL says:

    jangan2 dasarnya bangsa kita ini suka bikin kisruh, ngak di sepakbola, ya demo, ya dpr, ya pada rusuh’e :D

  6. […] Suporter atau Gangster? ← sekadarblog […]

  7. Tehaha says:

    Menarik mas. Saya menilisik, kerusuhan suporter di liga kita lebih karena faktor syndrome mad of anger yang memang sedang mewabah di negeri ini. Sepakbola dan oknum suporternya pun terjangkiti. Beda dengan latarbelakang kerusuhan suporter diluar yang memang didasari berbagai faktor pembeda selain tentunya rivalitas itu sendiri. Mungkin ada saatnya nanti, kita punya database lengkap suporter, dan hukuman yang menimbulkan efek jera untuk tiap cerita rusuh yang timbul. Tapi, kapan? entahlah… :)

  8. mpokb says:

    Tempo ari sempat nonton beritanya yang di Serbia itu, Bung Hedi.. hih, ngeri. Petugas keamanannya pada kabur, eh ada satu yang ketinggalan, jatuh pula. Udah deh, abis diinjek2 suporter..
    Kalau di Indonesia, di mana-mana amuk mengintip kok sekarang. Nggak cuma di lapangan bola. Ada pemicu dikit aja, meledak deh :(

    Sepakat, mpok. Orang yang menyalahkan kekerasan suporter sama aja ga punya kaca. Lha wong di sini siapapun bisa ribut, mulai dari DPR sampek anak sekolah :) – hedi

  9. Social comments and analytics for this post…

    This post was mentioned on Twitter by hedi: Blog update: Suporter atau gangster? – http://bit.ly/b5Gp5w | Cc: @infosuporter @gunawanrudy…

  10. didut says:

    *ngekek baca komennya vicky* …. memang di indonesia organisasi supporternya gak pernah bikin keg edukasi bagaimana jd supporter yg baik yah? hihi~ *just wondering*

    bikin edukasi kok, dut…tapi ini massa, sulit untuk berhasil 100 persen ;) – hedi

  11. yuDa says:

    Organisasi/firms di sepakbola eropa banyak juga kok, mas.. Habit mereka di level grass roots juga tidak selembut yg mas tulis disini deh, kayaknya.. Tapi saya juga setuju, bahwa kekerasan di sepakbola tanah air harus diminimalisir, paling tidak kalau mau ribut antar supporter silahkan, tapi jgn mengganggu kepentingan umum (lho?!) :) yah, inilah hasil sepakbola berbasis politik, yg membuat sepakbola juga sebagai distraksi masalah2 sosial. Daripada protes ke pemerintah, lebih baik dibiarkan rusuh di sepakbola.. :)

    Di mana suporter bola yang tidak berlevel akar rumput, mas? Dan saya juga bilang tak lembut, kekerasan di manapun sama, termasuk suporter. Bahkan levelnya bisa lebih ngeri di sana. Tapi poin saya adalah tidak menjadi budaya. Bedakan Inggris era 80-90-an dengan sekarang. :D — hedi

  12. hehehehe……..Sudah ada yang menulis tentang ini rupanya. Saya rasa ini memang perlu untuk diketahui oleh publik sepakbola Indonesia. Ini juga mengganjal di benak saya sejak lama karena tidak ada dasar apa pun dari perseteruan antar suporter klub sepakbola Indonesia selain hanya diktum “klub saya lebih hebat dari anda.”

    It’s nice to know someone shares the same feeling with moi about this matter :)

    tulis di media loe juga dong, lay :D – hedi

  13. rere says:

    jadi, saya sarankan kepada supporter (gangster) bola yang mau berkelahi, hendaknya terlebih dulu mencari filosofinya. *manggut-manggut

  14. Bukan penggemar sejati? Mmmm… mulai rada paham. Ini seperti cinta kepada, katakanlah, tanaman. Ada kemauan merawat agar terus tumbuh sehat. Bukan menguasai untuk kepentingan entah apa. Terima kasih atas pencerahan njenengan.

  15. haris says:

    tulisan yg menarik, mas. suporter indonesia berarti sangat oportunis, tak ideologis sama sekali ya? :D

    tapi patut disyukuri pula bahwa suporter kita sama sekali tak ideologis. lha wong tanpa lambaran ideologi aja udah berantem terus, apalagi kalau ada hubungannya dg ideologi. lagipula, secara umum, masyarakat kita memang tidak lagi dekat dg ideologi dlm pengertian normal–ini pasti karena deideologisasi orba. lalu, dari mana misalnya kita mulai membenahi soal tawuran suporter ini? sanksi?

  16. tukang komen says:

    Aku seneng lihat foto suporternya aja yang diatas….. seksi gitu…. wkwkwkwkw….. yang jelas, bola ditanah air kebanyakan rusuhnya…daripada enggaknya….

  17. Salam kenal kang Hedi, saya baru belajar nulis artikel2 sepakbola, daripada dikerem terus di otak mending di share di blog saya. Anyway, artikelnya keren mas. Supporter kita emang lain daripada yg lain, selalu pengen keliatan beda, padahal nyimpang.

  18. oon says:

    memang kehidupan mereka biasa keras kali ya om?…terbiasa mengedepankan otot agar tidak diserobot

    *jadi kangen nonton disenayan bersama geng bawa tom² drum, treak²…dan tetap bisa pulang dengan selamat…eh itu karena nontonnya timnas lawan negara beda ding!…liga lokal mending nonton di tv

  19. escoret says:

    gambare,susune mantebbbb

    soal suporter,hawa dilapangan beda hed..aku pernah nonton bola langsung..hawane pengen misuh2….
    nonton bola berasa nonton tinju…dan atau sebaliknya

  20. Dian says:

    Genetic kayake.

  21. Ogi says:

    Saya bobotoh mas…frim suporter dbndung lmayan bnyak,.menurut saya sudah ada perkembangan yang lumayan tntang suporter dbndung,..adapun orang lain yg mngaku ikut2 viking,padhal dia org biasa,dia mengaku demikian krna viking mrupakan suporter yg besar d bndung,itu salah stu contoh yg buruk..tapi bagi saya tidak seperti it…dan semoga apa yang diributkan oleh suporter indonesia adalah sesuatu yang pantas dan berpilosofi juga…

  22. juned says:

    Analisa bagus mas, bisa dipakai untuk pembelajaran para suporter Indonesia. nyuwun sewu share di blogku mas……..tengkyu sebelumnya


    terima kasih ya – hedi

  23. […] petualangan ayas menjelajahi dunia maya, sering kali ayas menemui posting tentang banyak hal yang membuat ayas tertarik untuk membacanya, akan tetapi hal yang sangat membuat […]

  24. phery says:

    baru baca sekarang. ya begitulah. mending kalo dengan suporter klub lain, yang ironis sekarang ini, di sleman, keributan dengan kelompok suporter yg sebenarnya mendukung klub yang sama. sudah bukan lagi berpikir klubku yang paling bagus, tapi berpikir kelompokku yang paling bagus. pemikiran yang paling parah


    Iya mas. Walaupun panggungnya di sepakbola, justru yang mereka lakukan ga lumrah untuk bola. – Hedi

  25. balatas says:

    sepertinya permasalahan suporter di indonesia ada yang sama dengan di luar ,arema dan bonek contohnya ini di dasarkan rasa iri anak muda kota malang karena merasa menjadi kota nomer 2 di jawa timur setelah surabaya mereka tidak terima karena arek malang dianggap nomer 2 setelah arek suroboyo dan masalah antara nj mania dan jakmania karena north jak merasa tidak dianggap ibukota orang hanya tahu 1 tim dari jakarta yaitu persija tanpa persitara ,tapi keseluruhan benar juga kebanyakan tanpa alasan bahkan seseorang bisa membenci suporter lawan karena sering sering dihina bukan karena tau akar masalahnya

    jayalah sepakbola dan suporter indonesia dilapangan boleh rival tapi di luar kita semua bersaudara :D

    dan saya tidak ada maksut menghina saya hanya menyebutkan contoh nya saja :D

Leave a Reply