RSS You're reading Mengapa City Gagal dan Spurs Sukses? article on sekadarblog

Mengapa City Gagal dan Spurs Sukses?

Akhirnya proyek ratusan juta pounds Manchester City gagal. Misi menuju Liga Champions berantakan di tangan Tottenham “Spurs” Hotspur.

Rivalnya dari London itu yang menuai ganjaran untuk main di kompetisi elit Eropa musim depan.

Fakta ini menjadi antitesis dari prediksi saya yang menilai City akan melenggang ke Champions dengan menyisihkan Spurs, Liverpool, Everton dan Aston Villa.

Prediksi saya buat di awal dan pertengahan musim, pasca bursa transfer pemain di musim panas (periode pertama). Ini adalah perbedaan pertama yang menentukan keduanya.

Belanja pemain di musim panas jelas City unggul jauh. Tapi kendala City adalah konsistensi. Dalam tulisan lama, saya katakan City sukses meramu sebuah tim dengan komposisi pemain yang 60% wajah baru — sebuah hal tabu di sepakbola. Masalahnya kemudian, City mendapat turbulensi dengan mengganti pelatih dari Mark Hughes ke Roberto Mancini.

Pergantian itu seakan membuat City mundur ke titik awal meski hasilnya tak begitu buruk dan justru lebih tajam. Tapi itu ternyata hanya euforia semata karena tim kedatangan Mancini yang pernah juara Serie A bersama Inter Milan.

Satu kesialan — kalau boleh dibilang begitu — bagi Mancini adalah sempitnya ruang gerak di bursa transfer musim dingin. Dia baru datang dari Italia, masih melakukan due diligence dan satu handycap yang sangat menyulitkan Mancini — saya pikir — jumlah skuad City sudah sangat besar dengan jumlah penyerang over capacity!

Alhasil, Mancini tak perlu lagi berbelanja pemain ketika seluruh lini timnya relatif sudah tertutup dengan baik.

Sebaliknya, Harry Redknapp di Spurs lebih jeli. Dia juga beruntung karena bisa menarik pemainnya dari Portsmouth, klub lamanya yg sedang bangkrut. Redknapp pun menarik Niko Kranjcar dan Youness Kaboul dari sana. Di putaran kedua EPL musim ini, Spurs salah satu tim yang punya kedalaman skuad. Jarak antara tim utama dengan cadangan relatif tipis. City tak seperti itu, terutama untuk sektor belakang dan tengah. Dan ini pasti mengganggu kinerja City saat harus berlaga dalam rentang pertandingan yang rapat.

Kesuksesan Spurs lebih pantas karena mereka melakukan pembangunan skuad sejak lama. Mereka masih percaya pada sebuah tradisi abadi sepakbola bahwa pembinaan tak bisa instan. Bedakan dengan City yang ingin meniru “Cetak Biru” milik Chelsea.

Spurs pun satu dari lima klub besar Inggris. Pelatih Fabio Capello pernah ditanya oleh wartawan. “Bila ingin melatih klub Inggris, mana yang Anda pilih?” Pelatih Inggris itu dengan lantang menjawab: “Tottenham.”

Sedangkan City? Mereka masih klub anak bawang. Bahkan posisi kelima EPL yang mereka tempati sekarang adalah yang pertama dalam sejarahnya.

Satu perbedaan mencolok kedua adalah sisi Redknapp. Lepas dari perbedaan usia dan pengalaman dengan Mancini, Redknapp lebih kebapakan dalam menangani skuad. Jangan lupa pula bahwa Redknapp adalah sosok pembina jempolan di Inggris dan jebolan West Ham United — yang akademi sepakbolanya sebanding dengan Ajax Amsterdam di Belanda.

Lihat bagaimana Redknapp bisa menahan dan menenangkan striker Roman Pavlyuchenko untuk bertahan di White Hart Lane. Di luar pemain Rusia itu, nyaris tak ada riak dari para pemain Spurs terhadap posisi dan ketenangan mereka bermain.

Redknapp sekali lagi juga beruntung diperkuat oleh barisan asisten pelatih yang mumpuni. Mancini hanya dibantu oleh Brian Kidd. Tapi Redknapp punya Joe Jordan dan Kevin Bond untuk memberinya masukan strategi di lapangan. Di sesi latihan, Redknapp dibantu dua mantan punggawa Spurs; Les Ferdinand dan Tim Sherwood.

Intinya, Spurs memang punya modal yang cukup untuk menembus posisi empat besar EPL dan tanpa hanya mengandalkan kekuatan uang semata. Jangan lupakan pula perubahan luar lapangan yang diterapkan Martin Jol dan Juande Ramos, pendahulu Redknapp. Ini juga menjadi salah satu penentu keberhasilan Spurs.

Kini saya tak sabar menunggu petualangan mereka di Liga Champions. Selalu asyik melihat aktivitas tim Rookie di sana. Mudah-mudahan mereka mau belajar dari Leeds United dulu dengan tidak euforia melakukan belanja pemain besar-besaran. :D

———————————
© Photo: PA/Getty Images
Ϡ

12 Responses to “Mengapa City Gagal dan Spurs Sukses?”

  1. […] This post was mentioned on Twitter by zen.rs, Hedi. Hedi said: Update blog: mengapa City gagal danSpurs sukses? http://bit.ly/b0hQK8 […]

  2. Ariw says:

    benci tapi salut sama spurs..


    sebagai penggemar Arsenal, kebenciannya patut dimaklumi :P – hedi

  3. Kru Bolanova says:

    great post!!!


    thanks, bro :) – hedi

  4. Akbar says:

    Kalau ajang menjadi artis instan banyak, tapi sepakbola tidak mengenal kata instan. Butuh proses dan waktu utk menjadikan tim superior. Bahkan, Alex Ferguson harus menunggu hingga 7 tahun utk meraih gelar Liga Inggris pertamanya bersama MU tahun 1992-1993. Kita tunggu Spurs di UCL musim depan!


    mari :D – hedi

  5. bangsari says:

    meski ndak ngerti soal siapa orang-orang yang disebut, tulisan ini menarik. menguatkan tesis lama: jebul sepakbola itu ndak sesederhana cuma tendang menendang bola. :P

  6. cipstuff says:

    itulah sepak bola, bola itu bundar

  7. escoret says:

    spurs…apik di semua lini….
    sampe arsenal sempet kalah…

    mnrtku,musim depan bakal bisa masuk jajaran 3 besar….

  8. didut says:

    :ngakak sek baca komen AriW: (ROFL) ….tapi memang wajar City belum tembus peringkat 4 tahun ini, harus diakui Spurs lebih stabil di periode tengah musim drpd City. Dan sepertinya lebih bagus begini jadi Mancini bisa lebih konsen membangun timnya untuk musim depan drpd hrs dikejar kejar berkompetisi di Liga Champion :D

  9. lindaleenk says:

    sebenernya ga begitu ngerti bola sih :D

  10. aad says:

    Bahkan Chelsea yang ‘instan’ pun butuh waktu membentuk karakter tim sejak era Claudio Ranieri.

  11. I love tottenham :D

    Sejak awal aku cukup yakin kalau tottenham akan mendapatkan posisi liga champion, dimana musim sebelumnya terseok2 karena pelatih Huan de Ramos, tapi setelah digantikan Harry semua berubah. Ketegasan Harry dalam memanajemen Spur terbukti memimjamkan Robie Keane ke Celtic karena mengajak teman2nya mabuk setelah membantai Wigan 9 – 1.

  12. Amy says:

    itulah sepak bola, bola itu bundar

Leave a Reply