RSS You're reading Pemain atau Preman? article on sekadarblog

Pemain atau Preman?

Kasus pengeroyokan terhadap suporter Sriwijaya FC Palembang yang dilakukan oleh empat pemain tim itu sungguh memprihatinkan. Ini kasus yang (mungkin) baru pertama kali terjadi di Indonesia.

Ironisnya, keempat pemain itu berkaliber tim nasional. Bahkan salah seorang dari mereka adalah kapten tim nasional Indonesia.

Mereka bereaksi negatif lantaran merasa terhina oleh ocehan oknum suporter yang kecewa melihat Sriwijaya tampil buruk.

Di liga yang sudah mapan, pemain terlibat keributan bukan hal langka. Tapi dengan suporter tim sendiri? Rasanya sangat jarang.

Yang pernah terjadi adalah bentrokan dengan suporter lawan. Misalnya kasus tendangan kung-fu Eric Cantona ketika masih memperkuat Manchester United terhadap suporter Crystal Palace 15 tahun lalu.

Di Italia, suporter justru biasa “menyerang” tim sebagai reaksi protes perjalanan tim yang buruk. Biasanya mereka menyerbu markas latihan tim atau melempari bis tim dengan telur busuk, tomat dan berbagai benda lain.

Suporter di Italia biasanya menyerbu markas latihan dalam rangka ingin bicara langsung, entah kepada kapten tim atau pelatih. Mereka muak pada tim yang terus menerus kalah.

Sementara di Inggris, beberapa pemain sempat terlibat keributan di bar. Tapi itu terjadi di luar konteks sepakbola. Perkelahian terjadi karena situasi mabuk. Mungkin di sini dikenal istilah “senggol bacok” :D

Inilah yang sepatutnya diketahui pemain pro di Indonesia. Profesi mereka memang masih baru, secara resmi belum diakui masyarakat. Tugas mereka adalah menjawab tudingan atau hinaan fans dengan berlatih keras dan bermain lebih baik di lapangan. Bukan meresponnya dengan bogem mentah, keroyokan pula hingga si suporter masuk rumah sakit!

Apa yang dilakukan suporter Sriwijaya juga tak pada tempatnya. Mereka melakukannya di luar stadion dan bukan saat pertandingan. Tak perlu kita meniru yang dilakukan suporter di Italia. Apalagi jika kita menuntut tim berprestasi kelewat tinggi. Padahal level tim kita masih kelas sekian di Asia.

Tindakan mencemooh tim sendiri justru merugikan. Tingginya beban hanya membuat permainan tim tak berkembang. Manajer gaek Sir Alex Ferguson pernah mengatakan budaya penonton Inggris yang gemar membunyikan suara “huuuu” pada pemain tertentu membuat permainan Inggris tak berkembang.

Tugas suporter adalah memotivasi timnya, bukan justru memberangusnya.

Suporter Arema Indonesia punya lirik lagu yang menurut saya bagus untuk memotivasi pemain: “Arema bukan putri Solo…” Maksudnya para pemain Arema tak boleh bermain lemah gemulai karena mereka adalah atlet yang digembleng keras dan dibayar sehingga harus bermain giat.

Bila sudah mendengar lagu seperti ini, tinggal para pemain menjawabnya di lapangan. Bukan lagi menggunakan cara-cara preman. Tunjukkan bahwa Anda pemain profesional.

Ϡ

13 Responses to “Pemain atau Preman?”

  1. Mas Hedi, sebenarnya ada nggak sih sanksi untuk suporter yang melecehkan tim pemain? Misalnya dikeluarin dari stadion, gitu? Di seluruh dunia, maksudku.

  2. galihsatria says:

    Mendingan dibubarin aja deh liga sepakbola indonesia ini. Mau nonton langsung ke stadion juga nggak berani. Bisa-bisa mati konyol. Mendingan juga nggak usah pakai kaos atribut salah satu tim kalau keluar rumah, bisa-bisa juga mati konyol. :-)

  3. didut says:

    @Vicky: sptnya sanksi kl di italia (atau eropa) ada deh..ada yg gak bleh masuk stadion seumur hidup malah :P

  4. ayip says:

    ban kapten Indonesia selayaknya di lepas kan dari lengan Charis, sebagai bentuk pertanggungjawabannya karena merendahkan jabatan sebagai kapten timnas Indonesia.

    Tapi di Indonesia jotos2an kayaknya hanya masuk dalam ranah hukum, tidak sampai ke sanksi sosial, nampaknya sepakbola masih dihargai hanya sebagai olahraga semata, bukan sebagai identitas jati diri bangsa.

  5. agustri says:

    kalau di negeri kita susah mau ngasih sanksi..:) kucing-kuccingan….wkkwkwkwk

  6. goop says:

    itu kalau kedengaran sama yang punya putri apa ngga tawur lagi, mas? :D
    *zam mana, yaaa? hahahaha*

  7. nothing says:

    hahaha, sejak awal baca kasusnya pemain sfc, saya cuman mbatin.. `ini pemain goblok banget sih`

    salam satu jiwa

  8. mbah sangkil says:

    hal ini tidak terlepas dari sanksi komdis sendiri dalam setiap pelanggaran baik oleh pemain, klub atau supporter. banyak hukuman-hukuman yang terkesan formalitas dan kurang tegas, bahkan banyak nego2 dan deal2 yang akhirnya meringankan dan jelas2 tidak mendidik.

  9. PakOsu says:

    Kalau dari atas gak beres, mana mungkin mengharapkan dibawah bisa beres. Masa organisasi bola dipimpin mantan pesakitan lulusan dari elpe cipinang. Apa kata gayus? :)

  10. suamimalas says:

    di luar negeri…baru pemain baru di cemooh sama suporter ajah..hukumannya udah berat banget…apalagi kalo sampe dipukul kayak disini yah

  11. zam says:

    @goop: ya, saya? piye?

    *hunus clurit*

  12. Arief says:

    nice post,,,,,,
    mmpir jg k blog saya : areeve
    dan website kami :Kumpulan Abstrak

    terima kasih,,,,

  13. […] sejumlah pemain Sriwijaya FC bereaksi terhadap cemooh pendukungnya sendiri dengan melakukan penganiayaan. Lalu kiper nasional sekelas Markus Maulana pun mencak-mencak hanya karena Persib kalah akibat […]

Leave a Reply