RSS You're reading Euforia Kosong article on sekadarblog

Euforia Kosong

Entah sudah berapa puluh, mungkin juga ratusan, laga Liga Indonesia yang tidak saya saksikan secara langsung di stadion. Mungkin sudah 5 tahun saya absen nonton liga di stadion.

Tak ada perbaikan kualitas dari satu laga ke laga lain dan satu musim ke musim berikutnya adalah alasan pertama. Tapi alasan terpenting sebenarnya adalah saya tahu benar betapa di balik permainan itu justru ada “permainan” pula yang mematikan animo saya pada Liga Indonesia — meski belum pada asa saya, semoga tidak.

Namun pada hari Minggu (30/5) kemarin, saya akhirnya berkompromi. Membatalkan sebuah agenda, saya berangkat ke Senayan untuk menonton partai pamungkas Liga Super antara Persija Jakarta dan sang juara Arema Indonesia.

Saya ingin melihat sebuah “pesta” dari Arek Malang. Selain itu saya ingin pula merasakan kembali atmosfir juara Arema seperti yang pernah saya rasakan tahun 1993 (Galatama). Tapi kali ini sedikit berbeda, saya harus sedikit kecewa.

Dan kesan sekadarnya itu seperti menemukan bukti. Kualitas yang muncul hanya sebatas euforia semata dan ironisnya kosong. Hanya keriuhan pada sebuah ritus sepakbola — entah itu berbaju primordialisme atau maniak. Tanpa memedulikan (perbaikan) kualitas.

Saya memang merinding melihat bagaimana Stadion GBK penuh sesak meski sebagian kecil masuk secara gratis. Ini baru level klub, belum level tim nasional Indonesia yang bermain. Kehadiran 80 ribu lebih penonton seakan memberi bukti bahwa kita boleh bersaing dengan Brasil dan Inggris dalam hal “gila bola”. Dahsyat prospektusnya. Berulang kali saya katakan, ini harusnya bisa banjir sponsor dan iklan!

Saya juga salut bagaimana kedua suporter, The Jak sebagai tuan rumah dan Aremania sebagai tamu, cukup rukun. Sejauh yang saya tahu tak ada bentrokan, kerusuhan atau gesekan antar keduanya. Ini berbeda dengan tahun 2005 saat ada kaca bis Aremania yang parkir pecah paska partai kedua tim di final Piala Indonesia. Sebuah perbedaan yang sangat kecil.

Saya pun gembira melihat kawan-kawan dari Arema Batavia* masih setia pada komitmen untuk menyediakan posko swadaya bila “saudaranya” dari Malang datang ke Jakarta.

Namun segala kegembiraan saya seketika sirna saat pertandingan sudah berlangsung. Keindahan konfigurasi oranye-biru, gelombang Meksiko (Mexican Wave) dan kemeriahan atmosfir tak mampu menutupi kegalauan hati saya.

Di balik sukaria suporter, masih nyata dan lantang terdengar nyanyian dengan lirik menghujat kelompok suporter tim lain yang ironisnya tak bertanding di hari itu. Lagu bertipe menghujat itu bahkan dinyanyikan paling sering. Seakan-akan, kedua kelompok suporter ini ingin menunjukkan bahwa agenda mereka sebenarnya adalah “menabuh genderang perang”!

Suporter Indonesia memang belum beranjak dewasa. Mereka masih sebatas berhura-hura dalam kendaraan sepakbola. Ini belum termasuk yang free rider — bermodalkan baju suporter, tapi datang ke stadion untuk berbuat kriminal. Lihat saja mereka yang mau nonton bola tetapi membawa senjata tajam. Atau seperti kemarin, sejumlah suporter kehilangan barang berharga. Bahkan ada pula yang tanpa permisi mengambil ransum makanan/minuman.

Saya justru menangkap kesan kelompok suporter hanya dibuat dengan alasan kebencian dan berlomba meraih superioritas. Tapi superioritas dalam hal apa? Kebanggaan (semu) yang bisa didapat dari kancah sepakbola nasional yang kualitasnya masih “segitu”? Semoga kesan saya salah.

Yang jelas, mereka lupa bahwa tugas suporter adalah membakar semangat dan adrenalin timnya dengan nyanyian positif. Jika lagunya hanya menghujat kelompok suporter lain, saya pikir tak ada gunanya sama sekali untuk tim. Apalagi jika suporter tujuan tak menjadi lawan di hari itu.

Euforia céték itu memang bukan hanya milik suporter. Mahasiswa pun demikian. Anggota DPR dan banyak pejabat lain juga setali tiga uang. Belum lagi beragam ormas yang justru sering bikin resah publik. Katakanlah masyarakat kita baru melek dan suporter adalah bagian dari masyarakat.

Tapi sepakbola, seperti juga olahraga lainnya, bsia menjadi pintu identitas (bangsa). Negara-negara antah berantah di Afrika dikenal publik justru melalui sepakbola. Seperti halnya Ethiopia dan Kenya dengan lari jarak jauh dari cabang atletik.

Sepakbola di negara-negara yang sudah maju justru menjadi tempat membangun civil society. Permainan itu dengan segala komponennya menjadi sebuah model peran (role model) bagi lapisan masyarakat di luarnya. Mereka punya ketegasan dengan fair play. Tentu saja satu-dua kasus ada yang meleset. Tak semua hal bisa 100 persen sempurna dan ideal, bukan?

Di negeri kita ini, di sepakbola tercinta kita ini, banyak pihak dan suporter lebih sering menghujat PSSI. Mereka menyebut PSSI selalu main curang, main belakang, tukang ngembat duit dan sebagainya yang negatif. Betul, PSSI nyaris memang tak pernah beres. Lebih banyak nodanya. Tetapi hanya menyalahkan juga tak akan menyelesaikan masalah.

Mengapa suporter tidak lebih dulu melakukan fair play, misalnya? Mau menerima sekontroversial apapun hasil pertandingan. Tak lagi melepas lemparan botol. Selalu mau membeli tiket masuk stadion. Hanya menyanyikan lagu yang bisa membakar semangat dan bukan memancing emosi kubu rival, terlebih jika lagu itu bernada rasis dan genosida.

Terus terang, kemarin saya terpaksa keluar dari stadion saat babak kedua belum dimulai. Selain saya dikejar tampungan air seni dalam kandung kemih, saya juga akan merasa lebih nyaman untuk duduk saja di tenda Arema Batavia. Saya malah bisa membantu para suporter wanita menangani sesama gendernya yang semaput.

Sebenarnya saya sudah tahu atmosfir di dalam stadion akan berangsur memburuk. Tapi saya masuk untuk membuktikan. Siapa tahu harapan ideal saya bisa terpenuhi. Ternyata yang saya temui kemunduran. Tahun 2005, lagu bernada menghujat nyaris tak ada. Perbaikan sepakbola nasional bisa terjadi secara linear, simultan dan masif. Mulai dari stakeholder sampai kurcaci, tanpa kecuali. Jika itu belum terlihat, saya masih harus menunggu tanpa perlu mematikan asa.

*Arema adalah kependekan dari Arek Malang (anak Malang). Entitas Arema sebagai klub, sebagai identitas warga Malang dan Aremania berbeda satu sama lain meski terkait. Semua orang Malang (terutama kelahiran Malang) adalah arema. Tetapi belum tentu semua warga Arema adalah Aremania. Arema Batavia hanyalah komunitas perkumpulan orang-orang Malang di Jabotabek. Kebetulan saja, anggotanya seperti juga mayoritas orang Malang adalah pendukung klub Arema dan bangga menjadi Aremania.

Ϡ

18 Responses to “Euforia Kosong”

  1. galihsatria says:

    Kalau saya tak pernah mau nonton langsung liga Indonesia. Saya nggak mau mati konyol ha ha ha…

  2. bangsari says:

    nonton liga indonesia langsung di stadion? saya baru sekali dalam seumur hidup. entah sudah berapa taun yang lalu di jogja dulu. mungkin sudan lebih dari 10 tahun.

    dan sebaiknya pakailah helm!

  3. oon says:

    jadi persepakbolaan endonesia macem versi mini wajah bangsa ini sesungguhnya ya om…

  4. sapiterbang says:

    benarkah ?
    setahu saya aremania dan the-jak itu “sodara jauh”
    ternyata begitu ya ? hmmm…
    sedikit kecewa

  5. goop says:

    seingat saya, jarang tulisan yang sepanjang ini :D

  6. Aku juga nggak pernah nonton liga Indonesia di stadion, Mas. Udah bau, panas pula. :-p

  7. nothing says:

    ayas genaro ngalam, dulu waktu smp hingga sma, saya kerap nonton arema di gajayana..
    pas kuliah jarang jarang, cuman berkesempatan tiga kali nonton arema tanding di solo.
    sepakat dengan Sam Hedi, pas di solo tidak ada lagu hujatan untuk kelompok lain, yang ada hanya lagu pembangkit semangat.
    sekarang lagu ne ga asik, menghujat dan menghujat. dan ini adalah kemunduran

    salam satu jiwa

  8. Emily says:

    Aku juga nggak pernah nonton liga Indonesia di stadion, Mas. Udah bau, panas pula. :-p

  9. […] Hedi Novianto, blogger dan pemerhati sepak […]

  10. Nazieb says:

    Aduh, jadi malu kemarin iku misuh2 :oops:

    Tapi setelah keluar stadion, rasanya enak banget sam, Jakmania masih tetap menyanyikan lagu perpisahan, meski timnya dibabat habis oleh Arema. Jadi kepikiran, seandainya semua suporter begitu bukannya lebih asik?

    Semoga semua suporter Indonesia bisa bersatu :D

  11. imcw says:

    Saya juga sudah lama tidak menonton sepak bola langsung ke stadion. Sedih melihat perkembangan ini tapi mau bagaimana lagi, kayaknya sudah rusak banget dan susah diperbaiki.

  12. […] Penulis : Hedi Novianto URL WEB : Euforia Kosong […]

  13. diditjogja says:

    trus pye? mau diapain sepakbola Indonesia?
    *nyetel liga enggres*

  14. Harmoni says:

    Saya belum pernah menonton pertandingan langsung Liga Indonesia sih. Suatu saat saya ingin.

  15. haris says:

    menonton sepakbola mungkin cuma pelampiasan, semacam pelepasan saja mas. mereka mungkin sbnrnya juga tidak fanatik buta, tapi emosi memang lebih mudah tumpah dalam riuh rendah massa semacam itu.

  16. ayas genaro ngalam, dulu waktu smp hingga sma, saya kerap nonton arema di gajayana..pas kuliah jarang jarang, cuman berkesempatan tiga kali nonton arema tanding di solo.sepakat dengan Sam Hedi, pas di solo tidak ada lagu hujatan untuk kelompok lain, yang ada hanya lagu pembangkit semangat.sekarang lagu ne ga asik, menghujat dan menghujat. dan ini adalah kemunduran
    +1

  17. kus says:

    pertama kali dan yg terakhir sampai saat ini adalah pas gw nonton persekebapas vs arema yg digelar di Madiun.

    Hasil akhir ?

    Tawur.

  18. ayip says:

    Liga Indonesia masih sekedar tontonan bagi kalangan menengah ke bawah yang cenderung masih belum bisa dewasa dalam bersikap. Mungkin karena kualitas permainan-nya yang cuma “segitu” itu yang membuat beberapa kalangan enggan menikmati liga indonesia, apalagi repot2 datang ke stadion.

Leave a Reply