Piala Dunia adalah momen terbaik dalam sepakbola. Tak perlu dipertanyakan bagaimana respon penggemar sepakbola. Bahkan ada kalanya orang yang tak pernah suka sepakbola pun terpaksa nonton pesta olahraga terbesar setelah Olimpiade itu. Entah menikmati atau tidak. Entah nonton belang-belang atau hanya satu partai saja.

Semua demi pergaulan. Demi eksistensi ketimbang teralienasi dari percakapan hangat sebulan penuh.
Piala Dunia adalah sebuah puncak dari kegiatan perebutan satu bola oleh 22 pemain di lapangan. Sebuah puncak dari pameran berbagai kecakapan. Nyaris tak ada yang santai jika sudah bicara soal Piala Dunia. Yang membedakan hanya tingkat kesibukannya.
Semua merasa berkepentingan.
Khalayak akan repot menjernihkan gambar di tv lantaran enggan melewatkan momen-momen penting. Bahkan untuk Indonesia, orang akan rela membenarkan tata letak antena UHF demi hajatan penting. Kafe, bar, lounge dan pusat keramaian lain sibuk menyusun agenda nonton bareng. Sebagian maniak juga tak ragu untuk memboyong tv baru dari toko.
Penonton akan rela memborong kostum replika. Pedagang akan sibuk memikirkan desain dan modal usaha menyambut Piala Dunia.
Suporter juga bersiap untuk pergi mendukung timnya. Dengan pengorbanan uang dan tenaga yang tak sedikit, sekaligus berlibur. Bertemu dengan manusia dari belahan bumi lain. Bisa berakhir menjadi harmoni, tak jarang pula menjadi emosi.
Tapi tak ada yang sesibuk tuan rumah. Demi keuntungan uang jutaan dolar AS, koordinasi tugas harus sesempurna mungkin. Mereka akan melayani peserta dan juga tamu. Mereka harus mengeluarkan modal lebih dulu, yang jumlahnya tak sedikit. Stadion baru didirikan, stadion lama dipoles.
Segala bentuk polusi diminimalisir. Transportasi publik dimuluskan. Pokoknya semua fasilitas harus disulap menjadi bintang lima. Tak terkecuali.
Tim tamu juga harus disediakan layanan kelas satu — entah itu Brasil si juara dunia lima kali atau pun Honduras si tim anak bawang. Semua diperlakukan sama rata. Lapangan latihan tak kalah kelas dari lapangan pertandingan. Hotel tim pun bak sebuah istana kerajaan yang tenang dan aman dari kemungkinan pengacau.
Tak main-main memang. Menjadi tuan rumah adalah hak istimewa dengan ganjaran (finansial) yang istimewa pula. Padahal tugas mereka tak ringan. Itu sebabnya banyak negara rela bersaing demi menyelenggarakan Piala Dunia. Tingginya beban dan risiko sebanding dengan keuntungan.
Piala Dunia juga menjadi puncak bagi pekerja peliput sepakbola. Mulai dari media abal-abal hingga kelas raksasa pasti berlomba membuat kabar yang layak dibaca dan ditonton. Dari Indonesia, para redaktur pun rela mengeluarkan ratusan juta rupiah agar ada awaknya yang bisa menjadi saksi langsung dari tempat kejadian.
Pada akhirnya muara ada pada tim peserta. Inilah esensi Piala Dunia. Karir pelatih, pemain dan gengsi sebuah negara dipertaruhkan di sini.
Merekalah para aktor utama, tanpa ditemani aktris — tentunya. Jika sebuah Konferensi Tingkat Tinggi memiliki daftar VIP berstatus kepala negara, maka di Piala Dunia ada pemain dan staf pelatih yang punya status “sangat penting”. Inilah para miliuner yang tidak rela ongkang-ongkang kaki.
Mereka justru siap menghibur Anda demi tontonan bermutu, kehormatan dan kejayaan negaranya. Tak ada miliuner di dunia yang seperti mereka — seniman, penghibur, atlet, pahlawan (atau pecundang?).
Tinggal kita, sebagai penikmat, bagaimana menyikapi Piala Dunia dengan segala warna warninya.
Selamat menyantap Piala Dunia, kawan. Ini cuma empat tahun sekali.
ooooo 4 thn sekalii….
/*manggut2 baru ngerti
sudah kusiapkan semangat dan mental diri, cuma sedikit dibawah level persiapan untuk ramadhan.
ini memang empat tahun sekali, maka jadilah penonton yang baik, karena memang level
Timnaskita masih di level penontonole ole ole ole… ole…ole
*ngoleki kaos timnas jerman lawas nang loker pabrik*
persiapan saya udah sangat matang. antena udah diedit eh maksudnya dibenerin supaya channel RCTI bisa jernih sejernih-jernihnya, kaos Londo yang orange sama putih udah beli jauh-jauh hari (walaupun bajakan
), tak lupa lagu resmi piala dunia udah donlot juga.
selamat menikmati piala dunia 2010
Piala Dunia menurut saya adalah lebaran. Semua orang bergembira menyambutnya, dihiasi baju-baju baru, nonton bareng, euforia yang tiada henti dimana-mana.
Semua berbaur meski tidak saling kenal, semua berteriak bersama, tegang bersama-sama, dan bergembira bersama.
Sungguh suatu kenikmatan tiada tara.
abis jerman kalah …. SPANYOLLLL!!!! *penggemar tim menyerang*
)